Tetap Jadi Malaikatku

Tetap Jadi Malaikatku
Gara-gara Boncengan


__ADS_3

Aku dan kak Bio akhirnya sampai di parkiran sekolah. Tak ku sangka semua mata tertuju pada kami berdua. Entah apa maksud dari pandangan mereka. Aku pun merasa takut, karena yang menatap rata-rata adalah para siswa perempuan.


" aduh kak mereka kok ngelihatin kita kayak gitu ya?" ucapku berbisik kepada kak Bio.


"Hahaha... Mungkin mereka cemburu lihat kamu goncengan sama aku Stel hahhaha" celetuk kak Bio dengan santainya.


" udah sana gih buruan masuk ke kelas Stel, takutnya ntar kamu di makan sama mereka hahaha" tambah kak Bio menggodaku.


" Ya udah kak, aku masuk duluan ya. Makasih ya kak" Aku pun bergegas menuju ke kelasku dengan perasaan was was karena para siswa tadi masih tak mengalihkan pandangannya dariku.


•••


"Ehh Stell ngapain kamu berangkat sama kak Bio?" Tanya Fero padaku sambil menggebrak meja ku.


" ih kaget aku fer, apaan sih banyak yang lihat tau" ucapku sambil menutup wajahku karena malu


"Aku kan jadi cemburuuuuu" ucap Fero dengan nada imutnya.


"Hahaha idih temen aku ternyata bisa juga cemburu" timpalku sambil menyenggol lengan Fero.


"Iya lah... Kapan lagi di bonceng cowok tampan kayak dia Stel, kamu beruntung banget" mata fero pun terlihat berbinar-binar saat mengatakan nya.

__ADS_1


" terus gimana kak Bio Stel?" Tambah Fero yang penasaran dengan kak Bio.


"Gimana apanya? Ya gak gimana-gimana" jawabku dengan biasa.


" ihh.. baunya gimana? orangnya seru gak?" Fero pun banyak bertanya-tanya lagi padaku. Hingga membuat aku akhirnya bosan, lalu akhirnya ku jelaskan dari awal.


"Sebenernya aku tadi gak sengaja di tebengin sama kak Bio di Deket sekolah. Awalnya aku itu berangkat sama kak Dipa" sahutku dengan nada pelan, agar tak ada yang mendengar.


"Haaaa!!!! Demi Apa Stel kamu di anter sama kak Dippp...." Fero pun menyahut dengan keras hingga akupun akhirnya harus membekap mulutnya.


Teman sekelas ku sepertinya kaget dengan suara Fero, sampai semua menatap ke arah kami. Saat itu, untungnya keburu datang guru Bahasa kami. Aku pun bisa bernafas lega,  akhirnya perhatian mereka beralih ke guru kami. Pelajaran pertama pun akhirnya di mulai, aku menyuruh Fero untuk diam dan tidak mengungkit ucapanku selama jam pelajaran.


•••


Aku pun terpaksa menjelaskan pada sahabatku yang satu ini. Aku menceritakan semua kejadian kemarin dengan wanita yang mengaku pacar kak Dipa lalu kejadian tadi malam saat kak Dipa tiba-tiba ke kamarku hingga kejadian  pagi tadi. Sehingga membuat Fero sempat shock dan menganga mendengarnya.


" hihihi gila kamu Stella? Terus-terus gimana akhirnya kamu sama doi?... Kak Dipa.." ucapnya perlahan.


"Ihh ya gak gimana-gimana Fer, orang kita emang gak ada apa-apa" tegasku ke Fero.


Aku dan Fero mengobrol sambil berjalan menuju kantin. Di tengah jalan kami tiba-tiba di stop oleh beberapa siswa perempuan.

__ADS_1


"Oh jadi kamu ya ceweknya si Bio!!!" ucap salah satu dari mereka.


" Bukan aku, tapi dia nih" sanggahku ketakutan lalu ku sodorkan sih Fero.


Fero yang pemberani dan tak kenal takut  tak menolak perlakuan ku. Ia langsung maju dan menantang para siswi yang menghadang jalan kami.


"Iya aku cewek kak Bio ... EMANG KENAPA!!!! MASALAH BUAT KALIAN!!!" Fero dengan berani langsung membentak mereka.


Aku yang sembunyi di belakang badan Fero hanya cekikikan mendengar ucapan  Fero. Sepertinya mereka ketakutan dengan mendengar suara kencang Fero hingga akhirnya membubarkan diri. Aku dan Fero tertawa terbahak-bahak dengan kejadian barusan.


"Ihh gila keren banget temen aku hahaha" ucapku bangga pada Fero.


"Iya dong... Fero gitu loh HA HA HA" sahut Fero dengan sombongnya.


Tapi karena sangking asyiknya aku dan Fero menertawai para siswa yang kabur tadi, kami tak menyadari kehadiran kak Dipa di belakang kami.


"Aku pinjem Stella sebentar ya" pinta kak Dipa pada Fero.


Tanpa meminta izin dariku, kak Dipa langsung menggenggam dan menarik tangan ku untuk mengikutinya. Fero yang mengetahui hal itu, hanya diam tak melakukan apapun, ia lantas hanya memberi isyarat semangat dengan tangannya ke arahku.


Sangking kencangnya genggaman kak Dipa, aku pun tak bisa mengelak dan tak bisa melepas tangannya. Kak Dipa ternyata membawa ku ke sebuah taman di belakang sekolah. Di sana kami duduk berdua di sebuah gazebo yang kebetulan saat itu sedang sepi.

__ADS_1


__ADS_2