
✨Happy Reading...
Di depan gerbang sekolah terlihat Miranti celingukan seperti mencari-cari seseorang. Aku yang mengetahui hal itu bergegas menghampiri Miranti, namun ternyata sudah keduluan oleh seorang pria berbadan tinggi besar .
Dari kejauhan terlihat wajah Miranti yang sangat tertekan. Mereka berdua terlihat berdebat panjang.
Aku pun memutuskan untuk pergi, namun aku melihat Miranti tiba-tiba jatuh karena di dorong oleh pria itu. Sontak aku pun langsung menghampiri mereka.
"Woi kasar banget sih !!!" Sahutku sambil membantu Miranti berdiri kembali.
"Siapa emang kamu?? Ngapain ikut campur urusan kami" ucap pria itu kepadaku.
"Badan doang gede!!! Tapi kelakuan kayak bencong!!!" sahutku dengan nada tinggi.
Namun, pria itupun seketika menjambak rambutku dengan kasar.
"Lu gak usah ikut campur cewek kampret!!!"
__ADS_1
Aku pun meringis kesakitan, rambutku rasanya hampir botak di tarik olehnya. Dia terlihat sangat emosi, tangan pria itu mulai melebar menuju ke arah wajahku.
"Plakkk"
Pria itu berhasil menampar wajahku dengan kerasnya, sehingga membuat ku tersungkur di pinggiran jalan. Miranti dan aku merintih kesakitan saat itu. Kami mulai di kerumuni anak-anak dari Sekolah kami. Namun, tidak ada seorangpun yang berani mendekat dan menolong kami.
Seperti kesurupan pria itu mengoceh pada miranti, dia mencela Miranti dengan kata-kata kasarnya. Menunjuk-nunjuk Miranti tanpa menggubris pandangan orang-orang di sekitarnya. Setelahnya ia mulai menarik tangan Miranti untuk ikut dengannya. Aku yang masih kesakitan langsung bergegas mendorong pria kekar itu agar menjauh dari Miranti.
Pria itupun mulai mengepalkan tinjunya ke arah wajahku. Namun datang satu tendangan kencang dari arah belakangku. Lalu orang itu mencengkram kerah pria yang tadinya ingin meninju wajahku. Ia pun langsung menghajar pria kekar itu dengan membabi buta hingga pria kekar itupun terkulai lemas.
Setelah memastikan pria kekar itu KO, sosok pria penolong itu langsung memegang kedua pipiku. Ternyata dia adalah kakak pembina ku yang menyebalkan.
"Maaf..maaf kamu gak papa kan? Mana..mana.. yang sakit" Tanya kak Dipa padaku.
Dengan terbata-bata aku menjawab pertanyaan kak Dipa. Mataku mendadak berkunang-kunang dan akhirnya semua terasa gelap.
"Stell...bangun stell" aku mendengar suara tangisan kencang si Fero di sampingku yang membuat aku akhirnya tersadar. Fero langsung memeluk erat tubuhku yang masih terasa lemas.
__ADS_1
" Huwaaa... Maafin aku tadi gak tau kalau kamu di pukul sama orang gila tadi stell!!! Maafin aku" ucap Fero menyesal.
"Aku kok bisa di sini sih fer?" Tanyaku sambil membenahi posisi tidurku.
Fero menceritakan panjang lebar tentang hal yang terjadi setelah aku pingsan tadi. Ia menjelaskan kalau pria yang bersama Miranti ternyata pacar si Miranti yang tidak terima karena di putusin. Dia pria toxic yang selalu membuat Miranti tertekan.
"Eh, tadi kak Dipa bilang kamu di izinin sama pihak sekolah, untuk pulang cepet hari ini"
"Seriusan fer?" Ucapku seolah tak percaya.
Aku sebenarnya sangat kecewa tidak bisa merasakan MOS di hari kedua. Tapi di sisi lain aku bersyukur hari ini terbebas dari penyiksaan oleh kakak pembina ku yang tengil itu.
Aku pun bersiap-siap meninggalkan ruang UKS. Namun setelah Fero membuka tirai yang melingkar di kasur UKS aku sontak kaget melihat kak Dipa sedang berdiri menenteng tas sekolahku.
" Kamu Fero, balik lagi masuk ke barisan ya"
"Lah terus ini Stella gimana kak?" Jawab Fero kebingungan.
__ADS_1
"Fero biar saya yang urus" ucap kak Dipa tegas.