
#Hay Para Readers...
Terimakasih atas semua supportnya untuk karya ku hingga saat ini 🙏🙏🙏
Aku mau buat pengumuman jika mulai bab 36, cerita dari novel "Tetap Jadi Malaikatku" akan memasuki babak baru. Yang mana pada bab ini dan seterusnya, akan menceritakan kehidupan masa depan para tokoh serta perjalanan hidup mereka. Dimana selama sepuluh tahun berlalu, kehidupan mereka telah banyak berubah.
Bagaimana ?? Jika kamu penasaran dengan kelanjutannya... Silahkan lanjut membaca ke bab selanjutnya ya...
...----------------...
(10 tahun kemudian)
"Ini udah cowok yang ke berapa yang udah kamu beri harapan palsu Stell?" ucap Fero menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ini cowok yang ke lima apa ke enam deh aku lupa Fer... Hahaha"
"Mau sampai kapan kamu mau mainin cowok kayak gini?"tutur Fero yang kini semakin lebih dewasa dan bijak.
__ADS_1
•••
Kini aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di sektor transportasi. Sebagai karyawan yang telah senior, sama sekali aku tak pernah merasakan namanya naik jabatan. Hal itu terjadi karena persaingan cari muka di perusahaan ku memang cukup tinggi. Di mana prestasi bukan lagi yang utama di sini.
Sebagai karyawan biasa aku bisa di bilang cukup gigih dalam bekerja. Namun, ada seseorang yang selalu menjadi penghalang ku ketika bekerja. Dia bernama Mirna, wanita penjilat yang selalu mempengaruhi bosku dengan bualan-bualan miliknya yang sangat tak relevan.
Pernah sekali aku bersitegang, karena hasil laporan yang ku kerjakan dengan susah payah malah di akui jika itu miliknya. Hingga semua orang menganggap ku sebagai seorang penjiplak. Padahal si Mirna lah yang mencoba memutar balikkan fakta sebenarnya. Ia menuduhku jika hasil laporan ku adalah palsu.
Karena aku dulu belum seberani ini, alhasil akhirnya aku pun memilih diam. Hal itu ku lakukan karena bosku yang memintaku tak memperpanjang masalah itu. Hingga aku akhirnya tau jika bosku ternyata mengetahui faktanya, tetapi ia lebih memilih untuk menutupi kasus Mirna dan membelanya.
...----------------...
Fero sekarang menjadi seorang Psikolog di sebuah Rumah Sakit. Ia yang dulu dengan yang sekarang sudah sangat berbeda jauh. Kini ia lebih kalem, dewasa dan pemikirannya lebih bijak ketimbang dulu saat muda.
Sedangkan Bio memilih menjadi seorang Dokter Bedah yang sudah tak di ragukan keahliannya. Ia praktek di Rumah sakit yang sama dengan Fero.
Fero yang dulu memang pernah menyukai Bio. Tapi entah, aku tak pernah menyaksikan mereka pernah menjalin hubungan yang lebih serius seperti berpacaran. Padahal mereka sering bertemu, tepatnya satu sekolah, satu kampus, hingga saat ini bekerja di tempat yang sama.
__ADS_1
...----------------...
" Kamu Dateng nggak Stell?" tanya kak Bio padaku.
"Ahh, dia pasti gak akan mau datang kak Bio, ke acara sekolah lagi" imbuh Fero.
Hari ini adalah hari jadi Sekolah SMA Bakti Jaya Raya, SMA kami bertiga. Dimana acaranya akan menggelar Reuni Akbar untuk para Alumninya.
"kamu masih takut ketemu dia?" tanya kak Bio.
"Halah, tenang aja dia gak bakalan datang. Kapan lagi ada reuni besar-besaran gini kan Stell" rayu Fero sambil merangkul diriku.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Bio dan Fero pamit pulang terlebih dahulu karena ada panggilan dari rumah sakit.
Aku duduk termenung sendiri dengan menikmati segelas orange juice kesukaanku dan ini sudah pesanan yang ketiga kalinya. Di temani alunan musik cafe yang khas aku menikmati malam itu dengan melihat feed Instagram milik orang-orang.
" Eh maaf ya mbak... Ucap seseorang yang tak sengaja menyenggol kepalaku dengan siku buku miliknya.
__ADS_1