
Aku sengaja menunggu di teras depan memantau kak Dipa pulang ke rumahnya. Hal ini memang sudah aku lakukan berhari-hari, namun selalu saja tak pernah aku melihat kak Dipa pulang ke rumahnya. Kebetulan di hari itu ada anak kecil melintas di depan pagar rumahku, ia anak yang waktu itu mengantar makanan syukuran pindahan rumah si Dipa.
"Eh...tunggu dek...tunggu sebentar" teriakku sambil berlari menghampiri anak itu.
Anak itu mungkin kaget akan teriakanku, alhasil dia berlari kencang dan masuk ke rumahnya sambil meneriaki ku. "Penculik...tolong penculik..ada penculik"
Aku pun ikut kelimpungan sampai mengikuti anak itu masuk ke rumah si Dipa. Namun di ruang tamu aku bertabrakan dengan badan seseorang. Sangking paniknya aku tak menyadari seorang yang aku tabrak adalah kak Dipa.
" Kamu gak punya mata ?" ucapnya ketus padaku.
" Ehh sorry kak aku panik tadi sampai gak ngelihat kalau tadi ada orang berdiri"
"Oh jadi kamu yang mau culik adik aku!!!"
__ADS_1
"Emmmm... enggak kak, gak gitu ceritanya"
Aku pun berusaha menjelaskan pada kak Dipa kalau yang tadi adalah salah paham. Namun dia malah mengusirku dari rumahnya.
" Kak aku mau ngomong sebentar sama kakak!!!!please bentar aja kak"
" Aku pikir udah gak ada yang perlu kita omongin"
Aku sampai memohon-mohon namun tetap kak Dipa mengusirku dari teras rumahnya ini. Hal itu membuatku semakin bingung dan penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada kak Dipa, hingga dia bersikap seperti itu.
Bisa di bilang aku adalah orang yang mudah penasaran akan sesuatu. Bisa di bilang juga orang yang tak pantang menyerah.
Setelah kejadian siang tadi aku jadi semakin penasaran dengan kak Dipa. Semakin di pikir-pikir semakin membuat sakit kepala dan kesal mendarah daging.
__ADS_1
Malam itu sebenarnya aku di rumah sendirian karena mamaku tidur di rumah tanteku. Di dalam kamar aku terpaku menghadap keluar jendela. Tiba-tiba saja terbersit hal-hal aneh di kepalaku, mungkin ini hal paling gila yang akan menjadi rekor tergila dalam sejarah hidupku bila aku lakukan.
Inilah hal gila yang aku pikirkan, dan akhirnya aku praktekkan. Setelah memantapkan niat gilaku, aku berjalan ke arah belakang lalu mengambil tangga di dalam gudang. Setelah itu ku pindahkan ke sebelah kamarku, bukan untuk memanjat ke kamarku namun untuk memanjat ke arah jendela kamar kak Dipa.
Untungnya suasana kompleks kami kebetulan sudah malam dan sudah sepi. Jadi tak mungkin ada orang yang bisa melihatku naik melalui tangga.
Aku celingukan dari jendela, sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar kak Dipa. Aku menempelkan wajahku ke jendela dan di sana ku lihat bayangan hitam mendekat ke arah jendela. Ternyata itu bayangan kak Dipa, setelah tau aku yang ada di depan jendelanya ia segera menutup korden dari dalam.
Tanpa menyerah, aku tetap mengetuk jendela kamar kak Dipa berulang-ulang. Namun sia-sia ia tetap tidak membuka jendelanya. Akhirnya aku memutuskan untuk membohongi kak Dipa berharap ia akan membuka jendelanya.
" Aku mau ngomong sebentar kak tolong bukain kalau gak aku lompat aja nih kak dari jendela" ucapku sambil berbisik karena takut membangunkan orang rumah kak Dipa. Aku mengulangi kata-kataku hingga tiga kali namun tetap tak di gubris. Karena telah lama berdiri di atas tangga tiba-tiba kakiku keram.
"Aduh,, aww..." Aku pun meringkuk kesakitan di atas tangga.
__ADS_1
"Awww" suara rintihanku semakin kencang di iringi suara tangga yang mulai bergoyang seperti akan terjatuh.