Tetap Jadi Malaikatku

Tetap Jadi Malaikatku
Sahabatku kembali


__ADS_3

Setelah proses panjang pemulihan, akhirnya hari ini aku di perbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Dengan di temani Mama dan Papa aku pun bergegas untuk pulang ke rumah. Tapi hari itu terasa masih ada yang kurang, karena kak Dipa tak terlihat hadir untuk menjemput ku.


" wah anak papa cemberut gini, padahal mau pulang ke rumah ini" ujar papa padaku.


"iya lah pa, orang si... siapa itu namanya? Si Dipa gak kesini" celetuk mama menyahuti.


"oh iya ya hahaha... si doinya gak kesini sih" imbuh papa menggodaku.


" ih apaan sih kedua orang tuaku ini... Jangan menggodaku ya... Ha ha ha" sahutku lalu tertawa terbahak bahak.


•••


Di perjalanan aku hanya bisa mengirim pesan pada kak Dipa jika aku sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Namun, berkali-kali pesanku sama sekali tak di baca oleh kak Dipa. Aku pun mulai berpikiran macam-macam saat itu. Tapi, aku mencoba lagi untuk tetap berpikir jika sesampainya di rumah, dia akan menyambut ku.


Namun sesampainya di rumah, aku pun di buat kecewa. Ternyata kak Dipa sama sekali tak ada, hingga akhirnya aku putuskan meneleponnya, namun tak di gubris. Aku pun hanya bisa merenung sendirian di dalam kamar.

__ADS_1


"Tok... tok.. tok.."


Pintu kamarku pun di ketuk, lalu ku dapati sahabatku si Fero masuk ke dalam kamarku. Ia meneteskan air matanya setelah beberapa saat melihat kondisiku yang masih di balut perban di sana sini.


"hiks.. .hiks... kamu emang gila Stell? Gila banget?Ngapain senekat itu?" ujar Fero sambil mendekat ke arahku.


"Wah sahabatku tercinta akhirnya datang juga ke sini. Udah lama banget kayaknya kita gak ngobrol" ucapku tanpa menyadari air mataku juga ikutan berlinang.


"Maafin aku ya Stell, aku baru ngelihat kamu sekarang. Aku terlalu kekanak-kanakan Stel. Aku sangat merasa bersalah sampai takut mau ketemu sama kamu" ujar Fero sambil memelukku erat.


"aduh Fer, jangan kenceng-kenceng" ucapku kesakitan.


Kami berdua pun akhirnya berbaikan dan meluruskan semua masalah yang terjadi di antara kami berdua sebelumnya. Selang beberapa saat kak Dipa pun muncul masuk ke dalam kamar.


"Nah gitu kan enak sayang, di lihatnya adem" ucapnya mengomentari kelakuanku dan Fero.

__ADS_1


"Ih... kamu dari mana aja... Aku tungguin loh yang" sahutku dengan manja.


"ehh bentar deh... Kok sayang-sayangan gini?" tanya Fero dengan raut wajah yang kaget sembari menatap wajahku dan kak Dipa curiga. Karena hal itu, aku dan kak Dipa pun saling memandang dengan tatapan yang malu-malu.


"Ih sekarang senyum-senyum pula!!!" imbuh Fero sambil menutup wajahnya dengan tangannya karena malu melihat tingkah kami berdua.


Akhirnya kami berdua pun menjelaskan pada Fero jika akhirnya kita berdua berpacaran. Walau akhirnya si Fero sedikit kecewa lagi. Aku pun menegaskan jika perasaan ku hanya untuk kak Dipa selama ini, bukan untuk yang lain, agar si Fero percaya jika aku tak pernah sama sekali mencoba menaruh hati pada kak Bio.


"Maafin aku juga ya stell?" Ujar Fero yang berkali-kali mengucapkan kata maaf.


"Udah ahh, emang ini lebaran maaf-maaf an terus Fer" celetukku mencairkan suasana.


Aku dan Fero lalu menangis bersama-sama, kami menyesali pertengkaran yang terjadi antara kami berdua. Kak Dipa yang menyaksikan hal itu terlihat tersenyum lalu bertepuk tangan.


"Ih ngapain tepuk tangan juga sih kamu yang?"ucapku pada kak Dipa.

__ADS_1


"Aduh buat kalian yang mesra ini. Tolong aku malu ya, lihatin orang mesra-mesraan gini." celetuk Fero sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hari ini aku sangat bersyukur akhirnya aku dapat berbaikan kembali dengan sahabatku yang paling ku sayang.


__ADS_2