
Tanpa berpikir panjang aku pun bergegas meninggalkan sekolah yang kebetulan sudah waktunya pulang. Niatku ingin mengajak Fero. Tapi saat ku kembali untuk mengambil tasku, ternyata Fero sudah tak ada di dalam kelas itu.
Sebelum pergi aku sempatkan menelepon kak Dipa untuk meminta di temani, namun berkali- kali aku menelepon nya dia sama sekali tak menggubris. Akhirnya ku putuskan untuk membantu Miranti sendirian saja, karena takut akan terjadi hal yang tak di inginkan jika aku terlalu lama.
Aku pun bergegas menuju lokasi yang di share oleh Miranti. Ternyata dia berada di sebuah gedung kosong yang tak begitu jauh dari sekolahku.
Sebelum memasuki gedung aku putuskan untuk mengirim pesan ke kak Dipa berharap dia akan membaca. Namun pesan ku sama sekali tak ia baca. Akhirnya aku hanya mengirim lokasiku saat ini berada padanya.
Di atas gedung itu ku dapati Miranti yang sudah terkulai lemah tak berdaya.
"Mir.. mir sadar mir kamu gak kenapa-kenapa kan?" Ucapku sambil mencoba menyadarkan Miranti.
Namun tiba-tiba terdengar suara derap langkah yang cukup berat mendekat ke arah ku.
" oh loe cewek sialan yang waktu itu ya.. berani juga loe ke sini!!!" ucap seseorang yang seperti nya pernah ku lihat.
__ADS_1
" Kamu kan orang gila yang waktu itu mukulin Miranti itu kan!!! JADI INI SEMUA PERBUATAN KAMU!!" bentak ku kesal.
"Dasar cowok brengsek emang kamu ya!!! Kasar banget jadi cowok!!! Dasar BENCONG" imbuhku lagi hingga akhirnya menyulut emosi mantan Miranti itu.
"Apa loe bilang haa!!!" Ia pun membentak ku dengan lantang.
"DASAR BENCONG!!!" tanpa berpikir panjang aku pun mengucapkan kata itu lagi.
Mantan Miranti yang berbadan besar itu pun langsung marah dan menjambak ku. Lalu menampar ku dengan membabi buta.
Lalu ia pun membanting ku hingga mengenai sebuah jendela yang rusak.
"Brakk"
"Ahh " Aku pun hanya bisa mengerang kesakitan dan merasakan perih nya tanganku yang tergores pecahan kaca jendela.
__ADS_1
" cuma ini doang kekuatan loe!!!" Tantang ku pada pria gila itu, sambil mencoba beranjak dari pecahan jendela itu.
Pria itu menarik kerah baju ku lalu mengepalkan tangannya dan memukul wajah serta perutku, setelah melihatku lemah tak berdaya lantas ia pun melempar ku ke lantai. Seolah tak mempunyai perasaan kasihan ia pun mencoba lagi untuk menendang ku yang sudah hampir kehilangan kesadaran.
"Brak"
" Dasar brengsek loe!!!"
Sayup-sayup kudengar suara seorang pria berteriak pada mantan Miranti. Ku lihat ia mencoba menyelamatkan ku dari tendangan pria gila itu. Sampai akhirnya pria itu menghajar mantan Miranti habis-habisan hingga KO. Lalu setelahnya ku dengar bunyi suara sirine mobil polisi yang akhirnya menyelamatkan kami.
Ku lihat banyak orang sedang mengerumuniku saat itu. Dari salah satu orang-orang itu ada seseorang yang memang sejak tadi ku harapkan kedatangannya. Dalam benak ku bersyukur kak Dipa akhirnya ada di hadapan ku saat ini. Namun ku dapati wajah kak Dipa yang sedang menangis menatap ku terkulai di penuhi banyak luka dan darah.
"Maafin aku stell...maafin aku... Maafin aku.. gara-gara aku kamu jadi kayak gini. Maafin aku telat nolongin kamu..maafin aku stel" ucapnya dengan terisak-isak.
Namun sebelum hilang kesadaran, dengan sisa sisa tenaga yang aku miliki. Aku pun mencoba mengatakan pada kak Dipa untuk mencari handphone agar bisa di jadikan barang bukti. Setelah mengatakan hal itu akhirnya aku pun hilang kesadaran.
__ADS_1