Tetap Jadi Malaikatku

Tetap Jadi Malaikatku
Penyebab kecanggungan


__ADS_3

"Awas es krimnya tumpah di mobil aku ya!!!" tiba-tiba saja ia menyentak ku dan melangkah pergi ke sebuah kursi.


Seolah tubuhku di sugesti olehnya, aku pun keluar dari dalam mobil dengan suka rela. Lalu duduk di sebelah kakak pembina ku yang nyebelin itu.


Lalu, kubuka kertas es krimku perlahan-lahan dan segera ku nikmati es krim coklat yang kebetulan adalah rasa favoritku.


Tapi memang dasar kak Dipa ini asli ngeselin tingkahnya , karena tiba" ia menyikut tanganku yang sedang menikmati es krim dengan sengaja. Alhasil wajahku belepotan penuh es krim semua.


"Hahahaha enak bener kayaknya tuh es krim Sampek di buat cuci muka" ucap kak Dipa sambil tertawa terbahak-bahak.


"Apaan sih kamu!!!!" Aku pun murka pada kakak pembina ku. Kemudian ku arahkan sisa es krim di tanganku ke arah mukanya.


Aku pun terbahak-bahak menyaksikan wajah yang sebenarnya tampan itu belepotan dengan es krim coklat yang tadi ku makan itu.


Wajah kak Dipa seketika berubah seperti singa yang ingin memangsa. Aku pun di buatnya ketakutan. Aku kembali ke mode hening setelah sebelumnya tertawa terbahak-bahak menertawainya.


Kedua tangan kak Dipa mengepal seolah akan menonjok ku. Dan benar ia melayangkan tangan nya ke arah ku.

__ADS_1


Aku pun terpejam karena ketakutan di buatnya. Namun hal yang aku pikirkan sebelumnya ternyata salah. Alih-alih memukulku, dia malah mencubit kedua pipiku dengan gemas.


Tanpa ku sadari mata kita berdua akhirnya bertatapan. Tak berselang lama suasana di antara kita berdua pun menjadi canggung. Tangan kak Dipa masih tetap berposisi di kedua pipiku.


Tanpa pikir panjang aku pun mengecup bibir kak Dipa yang jaraknya hanya 10cm dari wajahku.


•••••


"Makasih ya kak tumpangannya" ucapku terbata-bata sembari menutup pintu mobil kak Dipa.


•••••


"Gila!!! Kamu udah gila ya stell!!!" ucapku pada pantulan diriku yang berada di cermin.


Aku memaki diriku sendiri di cermin berulang ulang. Menyesal akan perbuatan yang ku lakukan tadi. Lalu tak berselang lama, terdengar suara Fero memanggilku di luar rumah.


"Lama amat baru bukain pintu stel?"

__ADS_1


"Iya habis suara kamu kayak semut fer aku jadi gak denger" sahutku menyuruh Fero masuk.


Lalu ketika pintu mau ku tutup, si Fero melarang ku. Ternyata kak Bio ikut bersamanya untuk melihat keadaan ku.


"Eh kak bio repot aja sih pakai kesini segala"


"Enggak kok, kamu gimana apa udah enakkan? Maaf aku ikutan kesini ya..." Ucap kak bio sambil menyodorkan bawaannya untukku.


"Makasih ya kak, ayo masuk kak" sahutku.


Setelah ku hidangkan minuman dan camilan, kami bertiga mengobrol panjang lebar. Aku baru tahu kalau kak Bio adalah orang yang suka banget bercanda. Aku dan Fero di buat nya tertawa terbahak-bahak hingga tak sadar hari sudah mulai petang. Mereka akhirnya pun pamit untuk pulang.


"Yakin stell kamu sendirian gak papa kan?Apa perlu aku temenin" ucap Fero sebelum dirinya pulang.


"Gak papa fer tenang aja udah, kamu pulang sana sama kak bio"


" Oke deh kalau gitu, kita berdua pulang dulu ya. Good bye.. bye.. Stella... bye.. bye.." ucap Fero sambil melambai lambaikan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2