Tetap Jadi Malaikatku

Tetap Jadi Malaikatku
Kagum


__ADS_3

✨ Hay Para Readers...


Sebelum lanjut membaca novel ini, aku Dawet_legi minta supportnya ya buat karya ku ini 🙏🙏🙏


...----------------...


Dengan perlahan Dika menyuruhku untuk duduk di sebuah kursi di taman belakang hotel. Ia berjongkok di hadapanku sambil mengintip wajahku yang tertutupi oleh jasnya.


"Hey..." Ia menaruh kedua tangannya di samping kanan kiri kursi tempatku duduk.


" Udah cukup tenang Stella?" tanyanya perlahan sambil mengintip wajahku kembali.


Isak tangisku telah mereda. Ku letakkan jas milik Dika di pahaku. Di tempat ku duduk, tampak Dika menatapku dengan wajah khawatir. Aku sungguh malu karena ia harus melihatku menangis seperti ini.


Namun tiba-tiba Dika tertawa terbahak-bahak " HA..HAA..HAA"


"Mata kamu kok hitam gitu ha..ha..ha" imbuhnya sambil memberi ponselnya agar aku bercermin.


" Haduh... Jadi hitam gini" tanganku sambil menghapus maskara ku yang luntur karena tergerus air mata dengan sebuah tisu dari dalam tasku..


"Katanya sebentar, tapi kenapa kamu lama sekali? Aku dari tadi nyariin kamu" ucap Dika secara halus, dengan masih posisi berjongkok di hadapanku.


" Eh malah sekali ketemu kamu udah nangis.. Matanya item kayak gini lagi" Setelah menunjuk pipiku, Dika mengambil tisu di tanganku. Ia membantu menghapus maskara yang belepotan di wajahku.


" Udah kamu diem aja, aku bantuin biar bersih" imbuhnya sambil mengelap dengan halus wajahku.

__ADS_1


"Makasih ya" ucapku sambil tersenyum pada Dika.


Ia mengelap dengan perlahan dengan sesekali menatapku lalu tersenyum.


"Hem jadi malu kalau dilihatin gitu" celetuk Dika yang ternyata tahu jika aku sedari tadi memandangnya. Hal itu membuat ku menjadi gugup menatapnya.


"Jangan di lihatin gitu.. Entar naksir loh" imbuhnya lagi, semakin membuatku jadi tambah salah tingkah.


...----------------...


Kami berdua pun masuk kembali ke dalam gedung hotel karena acara reuni masih belum berakhir. Aku sudah tak mau melanjutkan acara itu. Aku hanya ingin pamitan pada Fero dan Bio, karena takut mereka akan mencari bila kami pergi duluan tanpa pamit.


Fero dan Bio seolah paham dengan kondisiku. Mereka menyuruhku untuk segera pergi dari tempat itu.


Kak Dika lalu merangkul ku menuju pintu keluar gedung hotel. Dari arah pintu lobby, di kejauhan kami melihat kak Dipa yang sedang berdiri di depan lobby hotel.


" Woy Dip" sahut Dika dengan lantang.


Sebelum kak Dika mencoba menghampiri kak Dipa. Aku mencoba menahan tangannya agar tetap bersamaku. Dika pun memandangiku seolah penuh pertanyaan.


"Jangan kesana, aku mau pulang Dik" ucapku sambil melingkarkan tanganku di lengan Dika.


Ia mengurungkan niatnya menghampiri kak Dipa. Lalu, menggenggam rangkulan tanganku dengan erat menuju ke tempat parkir hotel.


Sambil berlalu, ku melihat kak Dipa memandangi kami berdua. Wajahnya terlihat murung dan sangat kesal melihatku dengan Dika.

__ADS_1


...----------------...


"Jadi, mau langsung pulang apa kita jalan-jalan dulu?" tanya Dika yang sedari tadi selalu melirikku berkali-kali dari balik kaca spion.


"Hem, aku beliin kamu es krim yah? Eh tapi udah gede gini kira-kira masih doyan apa enggak ya?" ujarnya berusaha membujukku yang sedari tadi hanya duduk diam di dalam mobil.


Dika lantas menghentikan mobilnya di sebuah supermarket. Lalu ia pergi sebentar membeli satu kresek es krim dan macam-macam cemilan.


" Ya Ampun siapa yang mau makan segini banyak Dik?" ucapku terheran-heran.


"Pasti habis tenang aja, kamu kan makannya banyak" sahutnya sambil tertawa menggodaku.


Aku hanya bisa menggeleng gelengkan kepalaku. Melihat tingkah unik si Dika. Hingga akhirnya rasa heran itu berubah menjadi rasa kagum.


Ternyata Dika mengajak ku turun di sebuah taman. Di sana ia membawa semua es krim dan cemilan-cemilan yang ia beli. Ia lantas menghampiri anak-anak kecil yang hidupnya kurang beruntung. Sepertinya anak-anak itu memang tinggal di sekitar taman itu. Ada yang sedang mengamen, mengemis, mengambil rongsokan dan sebagainya.


Lalu dengan semangat dibagikan lah seluruh es krim dan cemilan oleh Dika kepada mereka semua. Aku yang ikut menemani pria tampan itu, hanya bisa tersenyum menatap hal baik yang sedang ia lakukan.


" Nah udah habis kan semua..." ujar Dika sembari tersenyum menatapku.


" hehehe hebat kamu ya, terus es krim ku mana hayoo" ucapku sambil menengadahkan tanganku padanya.


"Oh iya lupa kamu belum dapat ya" sahut nya pura-pura lupa.


" ini... ini.. es krim punya kamu" tiba-tiba saja Dika meletakkan dagunya di telapak tanganku. Aku di buatnya kaget dan reflek menjauhkan tanganku dari dagunya.

__ADS_1


__ADS_2