
✨Happy Reading...
Derap langkah panjang si pembina ku menjadi pemandu arahku menuju ke UKS. Aku berjalan menunduk di belakangnya sambil bergumam dalam hati. Kenapa hanya aku yang dia ajak untuk mengantar si Miranti ke UKS, padahal di kelompok kami ada 3 orang lainnya lagi.
Akhirnya sampai juga di UKS, lalu Miranti di taruh nya di atas tempat tidur kecil di UKS. Segera petugas UKS yang berjaga langsung memeriksa keadaan Miranti. Lalu aku bertanya lagi dalam hatiku sendiri. Lalu apa tugasku di sini, kalau di dalam UKS sudah ada petugas yang berjaga. Sejenak aku terdiam sambil memandang si Miranti. Pembina ku tiba-tiba berjalan menggandeng tanganku keluar dari ruangan UKS.
"ih ngapain sih kak main genggam- genggam tangan orang sembarangan!!!" ujar ku sambil melepas genggamannya.
Lagi- lagi dia tersenyum licik kepadaku sambil merogoh sesuatu dari kantong celananya. Dan benar saja ia mengeluarkan sebuah boneka kelinci kecil dan di tunjukkan kepadaku.
" Kenapa boneka itu ada sama kakak?" tanyaku sembari menahan luapan emosi ku.
__ADS_1
" hahaha maaf tadi aku emang sengaja biar kamu di hukum sih" dia tertawa tanpa menyadari kesalahannya.
"sungguh kakak kejam banget sama aku" ucapku sambil menarik boneka kelinci itu dari tangannya.
Namun sial aku malah terjatuh tersandung kaki kakak pembina ku yang memang sengaja melintang untuk menghadang ku pergi. Lutut ku sepertinya terluka dan dia melihat itu. Bukannya menolongku, ia malah mengambil boneka kelinci dari tanganku dan membuangnya ke kubangan air keruh di sebelah UKS. dan berlalu begitu saja.
Waktu itu daerah sekitar UKS memang sangat sepi jadi tak ada yang melihat kejadian yang sedang menimpaku. Aku lalu berdiri mengambil boneka kesayanganku di dalam kubangan. Lalu aku mencari tempat duduk di sebuah halaman kecil di belakang UKS sambil menahan sakit dan menahan tangis.
Setelah tenang aku kembali lagi menuju ke dalam kelompokku tadi. Ternyata games tadi masih belum di mulai karena banyak para siswa yang mengeluh ingin di istirahatkan.
•••••
__ADS_1
Permainan pun dimulai namun dalam kelompok ku terlihat ada pembina resek yang aku benci. Lalu, aku bertanya pada teman satu kelompok ku kenapa dia ada di dalam barisan kelompok kami. Ternyata ini adalah usulannya untuk menjadi pengganti teman kami Miranti yang tadi pingsan.
Aku menghela nafas panjang karena rasa kecewaku harus berhadapan dengannya lagi. Sialnya hatiku, malangnya nasibku hari ini Tuhan. Kenapa harus si resek itu lagi yang aku hadapi.
"pritt" tanda peluit berbunyi menandai kami yang harus mulai memindahkan karet dengan sedotan.
Aku berada di baris paling akhir dan si pembina ku berdiri di belakangku. Temanku yang paling belakang mulai mengoper karetnya dengan sedotan menuju ke depan. Kini tiba giliran pembina ku mengoper padaku.
Namun dia sengaja mempermainkan karet itu
Dengan mempersulit ku untuk mengambil dengan sedotan yang ada di ujung mulutku.
__ADS_1
Karena kesal aku yang sudah tak bisa menahan emosiku reflek untuk memegang kedua lengan kakak pembina ku agar dia bisa diam. Namun sontak hal itu membuat gaduh lagi di kelompok kami. Aku pun cuek tak mau peduli dengan candaan teman-temanku yang hampir semua menggoda kami.