
Kami berdua pun duduk di sebuah kursi yang sama seperti waktu itu. Kali ini suasana agak sedikit canggung karena perasaanku yang aneh atau karena masalah kresek hitam tadi pagi.
"Nih buka isinya" tiba-tiba kak Dipa menyodorkan tas kresek hitam tadi padaku.
Lalu senyum di bibirku tiba-tiba saja merekah. Seperti suatu kepuasan tersendiri bagiku, akhirnya kak Dipa memberi tahu hal yang memang sangat ingin ku ketahui dan ku curigai tadi pagi.
Setelah ku buka, aku pun di buat kaget dengan isi di dalam kresek hitam tersebut. Aku tak pernah lihat benda itu sebelumnya. Aku pun bergumam sendiri, untuk apa kak Dipa menyimpan barang aneh seperti itu.
"Ini alat apa kak?" Dengan bodohnya aku pun memberanikan bertanya ke kak Dipa.
"Ini buat kamu Stel, buat alat perlindungan diri. Kamu di rumah kan kadang sendirian. Jadi ini alat buat jaga-jaga kalau ada orang jahat atau aneh yang ganggu kamu" Kak Dipa pun menjelaskan panjang lebar cara memakainya.
"Berarti bisa di pakai ke orang aneh kayak kakak dong" akupun mengatakan hal tersebut dengan mengarahkan alat penyetrum ke tangan kak Dipa.
"Zrttthhhh"
__ADS_1
Setelah itu badan kak Dipa bergetar seperti orang tersetrum. Aku pun panik di buatnya, karena kak Dipa pingsan di pangkuanku.
"Kak bangun kak...kak bangun kak"
Berulang kali aku mencoba membangunkan kak Dipa dengan berbagai cara. Aku tepuk-tepuk, aku cubit -cubit, aku goyang-goyangkan tapi tetap saja ia tak sadarkan diri.
Akupun bingung dan meneteskan air mata menangisi kak Dipa yang tak sadar- sadar akibat alat setrum tadi. Karena bingung aku pun meletakkan kak Dipa di atas kursi dan mencoba untuk teriak minta tolong.
"TOLO....." Tiba-tiba saja ada tangan yang membekap mulutku dari belakang.
"Ihh jahat... Kamu jahat.. hiks..hiks..." ucapku sambil memukul mukul badan kak Dipa.
"Lah kamu nangis lagi ckckckck" Kak Dipa lalu menyeka air mataku dengan kantong kresek hitam tadi.
" huaaaa" tangisanku pun semakin kencang.
__ADS_1
" hehehe maaf salah-salah" setelah sempat menggodaku ia pun mengambil sapu tangan dari saku nya lalu menyeka air mata ku dengan perlahan.
" Eh petaka, bedak kamu ikut ke hapus nih..maaf ya" celetuk kak Dipa menggodaku kembali.
"Ih dasar nyebelin" sahut ku dengan nada kesal sambil mencubiti badan kekar kak Dipa.
"Aww sakit.. sakit... Ampun.. ampun hahaha" sembari kesakitan kak Dipa juga tertawa terbahak-bahak. Wajahnya seolah puas telah membuat ku khawatir sampai menangis di buatnya.
"Mana alat setrum nya tadi , biar ku setrum lagi sini kamu kak!!!" ucapku masih kesal pada kak Dipa.
"Jangan dong, ntar kamu nangisin aku lagi kayak tadi" sahutnya sambil mencubit pipiku dengan gemas.
"Eh ngomong-ngomong ide kamu bagus juga sih, soal kamu nangis lagi. Soalnya kamu jelek banget kalau nangis hahaha. Coba deh nangis lagi aku pingin lihat Stel" Kak Dipa mulai lagi menggoda ku.
Dengan rasa kesal yang berkuadrat-kuadrat aku pun mencubitinya lagi dengan kekuatan penuh. Wajah Kak Dipa pun terlihat sangat kesakitan, lalu menarik tanganku dari tubuhnya. Dan menggenggam kedua tangan ku dengan erat. Genggaman nya erat seperti karet besi yang ada di sosis siap makan.
__ADS_1