
Terlihat sebuah mobil hitam terparkir di depan pintu pagar rumahku. Karena penasaran , aku pun melihat dari luar kaca mobil yang berskot lite hitam tersebut. Aku pun di buat kaget, setelah kaca mobil tersebut tiba-tiba saja terbuka.
"Heh.. ngapain kamu ngintip-ngintip mobil orang?" ucap seseorang dari mobil tersebut.
"Ohh kamu toh kak??" sahutku dengan raut wajah malu namun mencoba tetap keren di hadapan kak Dipa.
"Ayo buruan naik" ajak kak Dipa padaku yang mencoba membelakanginya.
" ahh ogah ah, ntar aku di ajak ke tempat yang aneh-aneh lagi kayak waktu itu" tolak ku dengan cepat.
"Sini cepetan, kita berangkat sekolah bareng" ucapnya sambil mencoba menarik tas di punggungku dari dalam mobil.
Aku masih tetap jual mahal pada kak Dipa. Hingga akhirnya ia keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk ku.
"Ayo tuan putri cepetan masuk" ucap kak Dipa sambil mendorong ku masuk ke dalam mobilnya.
•••
__ADS_1
"Tuhkan kakak ngajak aku bolos lagi" ucapku dengan muka kesal.
"Hi..hi..hi.. bukan bolos, ini cuma mampir bentar. Kamu tunggu sini dulu ya" Setelah meyakinkanku kak Dipa lalu keluar dari dalam pintu mobilnya.
Dari dalam mobil aku melihat kak Dipa bertemu dengan beberapa orang yang sepertinya anak dari sekolah lain. Ku lihat kak Dipa menerima sebuah tas kresek hitam dari salah satu anak-anak tersebut lalu memasukkan ke dalam tasnya. Dari kejauhan ku lihat kak Dipa sempat menatap ke arahku, dan tersenyum kecil padaku. Lalu, setelahnya ia berbalik dan kembali menuju ke mobilnya.
"Siapa mereka itu kak?" Tanyaku penasaran.
"Oh mereka temen-temen aku" ucap kak Dipa singkat.
"Kalau tas hitam tadi isinya apa kak?" Tanyaku masih penasaran.
"Ahh bukan apa-apa, rahasia dong" ucapnya sambil tersenyum dengan menyebalkan.
Raut wajah kesal ku pun tak dapat ku tutupi. Akhirnya di sepanjang perjalanan aku hanya menghadap ke arah jendela, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada kak Dipa.
"Kamu marah ya sama aku?" tukas kak Dipa padaku.
__ADS_1
"Jangan marah lagi dong" ucap kak Dipa sekali lagi padaku.
Sebenarnya aku memang tak berhak tau apapun tentang kak Dipa. Karena memang hubungan kita tak spesial seperti yang aku pikirkan. Namun, entah kenapa aku bersikap seperti ini.
"Kok masih diem sama aku?" ucap kak Dipa mencoba membujuk ku kembali.
Aku pun masih diam seribu bahasa, hingga akhirnya kita hampir sampai di dekat sekolah. Aku pun meminta kak Dipa menurunkan ku agak jauh dari sekolah, agar tak ada yang tau jika aku berangkat bersamanya. Tanpa mencegahku kak Dipa pun akhirnya menghentikan mobilnya. Aku pun bergegas turun , namun dengan perasaan kecewa. Karena kak Dipa hanya diam lalu pasrah dan menuruti kemauanku untuk turun agak jauh dari sekolah.
"Huffft ihh masih jauh pula sekolah ini"
Aku pun menggerutu sendiri, dengan perasaan kesal aku jalan dengan perlahan sendirian. Sambil berjalan aku pun masih berharap jika kak Dipa tiba-tiba kembali membujukku seperti tadi pagi. Namun setelah separuh perjalanan tak ku dapati batang hidung kak Dipa.
" Kamu kok jalan sendirian Stell? Fero mana?" ucap seseorang dari sampingku yang kebetulan adalah kak Bio dengan suara bising sepeda motornya.
"Si Fero gak bisa jemput aku kak, soalnya dia harus nganter mamanya dulu tadi" jawabku dengan suara yang berat karena letih berjalan.
"Ya udah naik motor aku aja sini, biar gak capek" pinta kak Bio padaku.
__ADS_1
Tanpa penolakkan, akupun langsung naik ke sepeda motor kak Bio. Aku pun lega, karena tak kecapek an lagi harus jalan kaki.