Tetap Jadi Malaikatku

Tetap Jadi Malaikatku
Jendela ajaib


__ADS_3

Tiba-tiba saja jendela kak Dipa terbuka, terlihat dua buah tangan kekar yang mencoba meraih tubuh ku dari dalam jendela. Wajahnya semakin mendekat padaku, membuat jantungku menjadi berdebat saat itu. Seketika aku pun tersadar lalu bernafas lega karena akhirnya kak Dipa masih mau membantuku. Karena aku tadi hampir saja terjatuh dari atas tangga.


Kak Dipa mendekap tubuhku erat, terasa hembusan nafasnya di pipiku seperti menahan beratnya mengangkat karung beras. Dengan wajah penuh perjuangan ia pun berhasil mengangkat ku masuk ke dalam kamarnya. Dengan perlahan dia menaruh ku di sebuah sofa kecil di pojok kamarnya.


"Kamu ngapain naik-naik ke kamarku???" tanya kak Dipa membentak ku namun dengan suara pelan.


" Habisnya kamu gak mau ketemu sama aku sih kak!!!" Ucapku lantang.


"Sst jangan kenceng-kenceng, bisik-bisik aja!!!" ucap kak Dipa sambil membekap mulut ku dengan tangannya.


"Iya aku kecil kan suaraku kak... Tapi jawab ya, kakak kenapa seperti itu menghindar dari aku? Aku ini salah apa?" ucapku pelan sambil melotot padanya.


Kak Dipa pun melengos tak menggubris pertanyaan ku lagi. Tanpa sadar aku memegang sisi kanan dan sisi kiri pipi milik kak Dipa dengan kedua tanganku. Sekarang dia tidak bisa lagi melengos kemana-mana.


"Hmph apaan sih kamu" ucap kak Dipa sambil mencoba melepaskan tanganku dari pipinya.


Aku pun meraih pipi kak Dipa lagi dan mendekatkan wajahku sekali lagi. " Kak muka kamu kok tambah parah kayak gini"

__ADS_1


"Mangkanya lepasin ini tangan kamu, sakit tau!!!"


Namun aku tak menggubris perkataannya, aku terus menatap wajah kak Dipa. Mengasihani dalam hati dan terus bertanya-tanya kenapa dia sampai babak belur seperti ini.


"Kak kenapa sih kamu tadi bisa di keroyok kayak gitu? bisa gak cerita in?"


"Kamu ini kepo banget sih!!! Kamu gak takut aku bakalan macem-macem kalau kamu pegangin aku kayak gini?" gertak kak Dipa pelan.


" Coba aja.. ntar aku bakalan teriak sekencang-kencangnya biar kamu di keroyok warga!!!"


" Coba aja teriak yang kenceng , yang ada kamu yang di sangka maling, atau kamu emang tujuannya maling kesini tadi??" Balas kak Dipa mengancam ku balik.


Kak Dipa pun menjawab dengan nada terpaksa "Oke deh...oke deh aku jelasin tapi besok ya"


"Ih kok besok!!! Sekarang dong kak" ucapku dengan suara yang sedikit agak lantang.


Dia pun membekap ku, tak hanya dengan satu tangan namun dengan dua tangan kekarnya sekaligus. Aku pun melepas tangan ku dari pipinya dan menangkis tangan kak Dipa yang hampir saja membuatku kehabisan napas.

__ADS_1


(Tok...tok...tok)


Tiba-tiba terdengar suara di depan pintu mengetuk lalu memanggil-manggil.


" Dipa...Dipa...kamu ngobrol sama siapa?"


Aku dan kak Dipa kaget dan kelimpungan. Dia berbicara tanpa suara padaku dan mengatakan yang datang adalah mamanya. Aku pun bingung harus berbuat apa. Akhirnya kak Dipa menyembunyikan ku di dalam lemari. Segera setelah mengamankan ku ia langsung membukakan pintu kamarnya.


"Apa ma? Aku lagi telepon an sama temen tadi"


"Oalah... Mama kira kamu lagi telpunan sama pacar kamu le tole" ucap mama Dipa.


Dari dalam lemari , ku dengar dengan jelas obrolan antara ibu dan anak ini. Namun yang terdengar dari mulut kak Dipa hanya tentang diriku. Ia lontarkan semua betapa buruknya diriku ke mamanya.


" Dia namanya Petaka ma, dia lagi cerita nama dia terlalu berat katanya ma, sampai-sampai bikin orang lain sial melulu"


" Hahaha masak le, ada-ada aja temen kamu itu... Ya udah le jangan tidur malem-malem ya, besok sekolah. Jangan berantem lagi besok ya le.

__ADS_1


Mama kak Dipa pun percaya, lalu pergi dengan suara tertawanya. Aku di dalam lemari hanya bisa mengumpat mendengar dari dalam kalau kak Dipa sedang membicarakan tentang hal yang buruk-buruk yang di tujukan untuk menyindirku.


__ADS_2