Tetap Jadi Malaikatku

Tetap Jadi Malaikatku
Dunia Kerjaku


__ADS_3

✨ Hay Para Readers...


Sebelum lanjut membaca novel ini, aku Dawet_legi minta supportnya ya buat karya ku ini 🙏🙏🙏


...----------------...


" Dil kamu di panggil Bos ke ruangan nya" ucap Dinda teman sekantorku.


"Oke... Oke thanks Din" ucapku sembari mempersiapkan mental untuk bertemu Bosku yang menyeramkan.


Benar perkiraanku, Bosku langsung membanting segepok laporan di meja nya.


"Kamu gak becus banget kerja, kenapa kita bisa rugi sebanyak ini!!!"


"Laporan kamu berantakan semua. Apa-apaan ini gak ada yang bener sama sekali !!!" imbuh bosku.


"Maaf pak, memang akhir-akhir ini penjualan unit kita sedikit menurun. Kita kalah saing dengan perusahaan sebelah. Kita kalah saing karena memang inovasi baru yang mereka tawarkan lebih banyak di minati oleh publik" terang ku sambil gemetar.


"Gila ya, gimana kerja kalian semua. Bagaimana bisa inovasi kita bisa kalah sama perusahaan perintis kayak mereka!!!" Wajah bosku seperti akan memakan diriku.


"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin Pak. Tapi, entah produk mereka yang memang lebih unggul dari perusahaan kita." ujarku tertunduk ketakutan.


"Bagaimana pun caranya kita harus tahu inovasi seperti apa yang bisa buat mereka merajai penjualan!!!" imbuh bosku menggebu-gebu.


"Baik Pak akan saya usahakan agar penjualan kita kembali naik"


" Bagaimana kalau kita mengajak mereka untuk kerja sama saja Pak?" ucapku mencoba memberi solusi.

__ADS_1


Bagai di timpuk batu dari atas gunung. Aku merasa bebanku dalam hidup semakin menumpuk. Setelah keluar dari ruangan bos, wajahku langsung terlihat seperti buah jeruk yang mengkerut.


Tapi, untung saja bosku menyetujui ideku untuk bekerja sama dengan PT.Mahardika. Hal itu membuatku sedikit bernafas lega tapi juga membuat beban pekerjaanku malah makin bertambah.


•••


Setelah di marahin habis-habisan, seperti biasa si Mirna selalu menambah beban sakit kepalaku dengan celotehannya.


"Kasihan yang habis di marahin Bos" celetuknya dengan wajah menyebalkan.


"Diem kamu!!! aku karet in tuh bibir lama-lama" ucapku sambil meremas sebuah kertas di meja kerjaku.


"Makanya kalau kerja tuh yang becus" imbuhnya, lalu kabur pergi ke arah pantry.


"Ih awas ya kamu" ucapku lirih sambil mengepalkan tangan ke arahnya.


Tanpa pikir panjang aku langsung menghadap komputer dan membuat proposal untuk proyek kerja sama perusahaan kami dengan PT Mahardika.


...----------------...


Ke esok an harinya aku mencoba membuat janji temu dengan tim dari perusahaan saingan kami itu. Kami akhirnya memutuskan untuk bertemu di sebuah cafe yang dekat dengan perusahaan mereka.


Tak ku sangka jika perusahaan yang baru saja merintis usahanya itu di pimpin oleh seseorang yang masih sangat muda. CEO mereka terlihat sangat ramah dan welcome dengan niat perusahaan kami. Ia lantas menyetujui permintaan kami untuk bekerja sama mengembangkan sebuah unit.


Namun, CEO mereka yang bernama Pak Dika itu masih sedikit kurang yakin. Ia mengatakan jika Kepala tim Perencanaan mereka agak sulit untuk bekerja sama dengan orang lain. Akan sangat sulit menghadapi orang itu imbuhnya.


Aku pun di buat bimbang dengan pernyataannya. Tapi di sisi lain tuntutan pekerjaan membuatku harus bekerja menerjang badai besar sekalipun.

__ADS_1


"Baik Pak, semoga kerja sama kita dapat sukses dan lancar ke depannya. Terimakasih atas waktunya" ucapku sambil berpamitan pada CEO tampan itu.


...----------------...


Beberapa hari kemudian aku di hubungi oleh PT.Mahardika untuk meeting dengan kepala tim perencanaan mereka.


Sampailah aku di depan ruangan Kepala perencanaan mereka. Staf mereka mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam ruangan itu. Dengan percaya diri aku pun datang membawa segepok proposal di tanganku.


Tampak seorang Pria sedang mencari-cari sesuatu di sebuah rak ruangannya tersebut..


"Permisi Pak" ucapku dengan sopan pada orang itu.


Kepala perencanaan itu pun menengok ke arahku.


"BRAK" (Suara Benda terjatuh)


Beberapa saat mata kami berdua pun saling berpandangan satu sama lain. Tak ku sangka aku akan bertemu lagi dengan pria yang sama seperti di cafe waktu lalu. Aku pun membeku di hadapannya, tak mampu berkata-kata lagi.


"Oh.. maaf... maaf... silahkan duduk" ucapnya dengan terbata-bata.


Aku pun duduk di hadapannya, lalu menundukkan kepalaku. Suasana pun terasa hening di ruangan yang cukup luas itu.


"Oh iya sebelumnya perkenalkan nama saya Dipa Prasetya, anda bisa panggil saya Dipa" ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.


Ia ternyata bersikap biasa saja seolah kita baru saja bertemu. Aku pun mencoba menata hatiku saat itu. Hingga akhirnya aku pun menjabat tangannya seolah tak pernah terjadi sesuatu di antara kita berdua.


"Hem perkenalkan nama saya Stella Herdiana. Saya Ketua tim penanggung jawab dalam proyek ini Pak"

__ADS_1


__ADS_2