The Accidental Wedding

The Accidental Wedding
#Eps29


__ADS_3

Di sebuah restoran mewah,Fabian tengah menyantap makanan bersama Evelyn.Namun pikirannya melayang memikirkan kejadian pagi tadi bersama Renata.Dan lebih buruknya Renata pergi bersama Christian dan itu berhasil mengganggu pikirannya.


“Kenapa daritadi kau hanya diam saja”Evelyn menyentuh tangan kiri Fabian,menyadarkannya dari lamunan.Fabian melihat tangan Evelyn yang menyentuh tangannya dan beralih melihat wajah wanita yang dulu ia puja.


“lanjutkan saja makanmu!”ucap Fabian menarik tangan kirinya dan menyantap kembali makanannya.Melihat reaksi Fabian,Evelyn hanya menyipitkan matanya merasa ada yang berubah dengan sikap laki-laki di depannya.


“Maafkan aku”ucap Evelyn menghentikan aktifitas Fabian yang tengah memotong steak di depannya.Fabian meletakkan garpu dan pisau ,kedua tangannya ia lipat didepan dada dan bersandar di bahu sofa.


“Besok aku kembali ke Paris,setelah selesai aku ingin kita kembali lagi seperti dulu.Maafkan aku yang egois memutuskan hubungan kita secara sepihak.Tapi aku...Aku masih mencintaimu Fabian,aku tidak ingin kau meninggalkanku”


“Tapi kenyataannya kamulah yang meninggalkanku.Dan juga,aku belum bisa menjanjikan sesuatu tentang hubungan kita.”ucap Fabian dengan nada datar,ia terlalu kecewa dengan Evelyn yang terus menerus membuat hatinya bimbang.Sesekali Fabian melirik jam di tangannya.


Sudah hampir sore hari,apakah gadis bar-bar sudah pulang? Batinnya yang tanpa sadar memikirkan Renata.


“Aku harap kau...masih mau menungguku” Ucap Evelyn dengan mata sendu menatap Fabian di depannya.Namun tak ada jawaban dari Fabian,hatinya masih gamang.Entah hari ini bertemu dengan sang pujaan hati tak merubah suasana hatinya yang buruk karena memikirkan Renata.


***


Waktu menunjukkan pukul 7 malam,dengan memakai celana pendek dan kaos hitam Fabian duduk di ruang tamu menunggu Renata yang belum pulang.


Ketika bunyi pintu apartemen terbuka,Fabian mengambil sebuah buku untuk ia baca.Ia tak mau menurunkan harga dirinya jika ketahuan telah menunggu gadis bar-bar.Iapun pura-pura fokus dengan buku di tangannya.


Renata memasuki apartemen,dilihat bosnya yang tengah membaca buku di ruang tamu namun tak diindahkannya.Ia pun menaikkan ujung bibirnya,ia masih merasa kesal jika melihat Fabian.Renata pun mengacuhkan keberadaan Fabian,dan melangkah menuju kamar.


Fabian membanting buku di atas sofa melihat Renata yang tak mempedulikan nya.Ia tampak kesal dan geram ,dan ia putuskan untuk mengikuti langkah Renata menuju kamar.


“Darimana saja jam segini baru pulang?” Fabian berkacak pinggang di depan pintu,Renata tak berniat untuk menjawabnya.Fabian pun mendekat ke arah Renata,yang tengah sibuk di depan lemari pakaian.Ia geram dan menarik lengan Renata dengan kuat,hingga Renata membentur dada bidangnya.Dan rambut cepolnya pun terlepas dari ikatannya, membuatnya terurai.


Posisi keduanya berhadapan dan sangat dekat.Tatapan Fabian begitu tajam hingga Renata tak sanggup berlama-lama menatapnya.Renata mengalihkan pandangannya ke arah yang lain,berusaha menghindar dari tatapan Fabian.


“Dengan rambut terurai,kau tampak cantik” bisik Fabian menyibakkan rambut Renata ke belakang telinga.Hati wanita mana yang tak leleh mendengar pujian itu,sejenak Renata pun luluh.Namun tak lama kemudian ia sadar itu hanya sebuah rayuan.


“Minggir!!!!” Renata berusaha menggeser tubuh atletis Fabian,


"Kakek sudah berangkat ke Amerika,saya mau pindah ke kamar saya!” ucap Renata kembali membuka lemari berniat mengambil semua pakaiannya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Renata,tangan Fabian menggeser pintu lemari dengan keras,mencegah agar Renata tak mengambil satu pakaianpun namun tak sengaja menjepit tangan Renata.


“Aaauww” teriak Renata kesakitan.Fabian membelalakkan matanya melihat tangan kanan Renata terjepit.Dengan segera Fabian meraih tangan kanan Renata,dan mengusap punggung tangannya.Renata melihat Fabian yang tengah meniup sambil mengusap tangannya.


Bisakah kau jangan terlalu baik ,bagaimana aku harus menahan perasaanku jika terus seperti ini.haah


Fabian membawa Renata ke pinggir tempat tidur,dan memberi salep anti memar di tangan kanan Renata.


“Tetaplah di sini,kamar di bawah sudah aku jadikan gudang”ucap Fabian menatap wajah Renata membuat gadis di hadapannya merasa salah tingkah.


“Aku ..aku bisa tidur di kamar bekas kakek”


“Selain kakek,siapapun tidak boleh menempati kamar itu”


“Kalo gitu,aku tidur di ruang tamu saja.Bukankah disitu ada sofa,kurasa tidak terlalu buruk.Lagipula aku bisa tidur di mana saja”


Asal tidak di dekatmu itu sudah cukup.


Renata beranjak berdiri,namun langkahnya terhenti ketika dengan lembut Fabian menahan tangannya.


“ Tetaplah di sini!”ucap Fabian berdiri dan mendekat ke arah Renata,memeluknya dari belakang.Terdiam.


Kruuukk


Bunyi suara perut Fabian memecah keheningan diantara keduanya.Renata menahan tawanya dan melepas pelukan Fabian.


“Apa yang sedang kau tertawakan?!”


“Mmpft..Tidak..tidak ada”Renata menutup mulutnya,menahan tawa yang ingin terlepas dari mulutnya.”ayo kita makan” ajak Renata menarik tangan Fabian.


Fabian mengikuti langkah Renata,ia menatap tangannya dalam genggaman tangan kiri Renata.Tangan kecil Renata berhasil membawa Fabian mengikutinya.Fabian melempar senyuman hangat tanpa Renata sadari.


Renata membuka isi lemari es,mencari sesuatu yang bisa ia olah untuk di makan.Akhirnya ia putuskan untuk membuat spaghetti bolognese dengan campuran daging cincang.


Dengan mengandalkan tangan kirinya,Renata tampak kewalahan memasak apalagi rambut cepolnya terurai dan belum sempat ia ikat lagi.Fabian yang duduk di dekat pantry mendekati Renata yang terlihat kesusahan.Ia mengambil karet seadanya,dari belakang ia mengikatkan rambut panjang Renata.

__ADS_1


“Akhh” Renata tersentak kaget,namun Fabian masih mengikatkan rambutnya.Renata tampak tersipu mendapat perlakuan manis dari Fabian.


Selang beberapa menit,makananpun jadi.Renata membawa dua piring spaghetti dengan kedua tangannya,dengan sedikit rasa nyeri di tangan kanannya ia berusaha membawa makanannya di hadapan Fabian.


Fabian kembali mendekati,meraih punggung tangan Renata dibalik piring yang ia bawa.Namun siapa sangka kesempatan ini digunakan Fabian untuk mencium Renata.Bibirnya ******* bibir ranum Renata,tanpa sadar Renata memejamkan matanya membalas ciuman itu.


Ciuman yang sangat lembut dan hangat,sunggub sangat terasa sentuhan bibir Fabian yang melekat dibibirnya.Membuatnya terhanyut sesaat dalam situasi saat ini.


Fabian menghentikan aktifitas nya,dan mengambil alih piring yang dibawa Renata.Meninggalkan Renata yang masih mematung merasakan jantungnya berdebar kencang seakan waktu terhenti saat itu juga.


“Cepat duduk.Aku sudah lapar!”perintah Fabian langsung menyantap spaghetti didepannya dan seolah tak terjadi apa- apa.Ia begitu lahap hingga tak menghiraukan Renata yang salah tingkah tak tahu harus berbuat apa.Susah payah Renata menata kembali kebaperan yang menyergapnya.Ia duduk di samping Fabian,dan ikut menyantap makanan buatannya.


“Cara membalas ciuman mu sudah lumayan mendekati sempurna”


“Uhukk..huk”Renata tersedak mendengar ucapan Fabian yang begitu frontal di tengah santap malamnya.Beruntung hanya berdua,jika tidak bagaimana Renata menyembunyikan rasa malunya saat ini.


“Bagaimana bisa Bapak bicara seperti itu di saat makan!”Renata geram meninggikan suaranya.Ia tak tahu bagaimana menyembunyikan rasa malunya saat ini,bagaimana bisa ia jujur jika memang dia sudah terbiasa dengan ciuman hangat Fabian yang terus membuatnya melayang.


“Aku hanya berbicara jujur apa salahnya?”


Renata menyudahi makan nya,beranjak meninggalkan Fabian dengan rasa malu.Wajahnya hampir meledak menahan hawa panas yang membuat pipinya memerah.


“Aku hanya membuat perbandingan saat pertama kali menciummu.Itu saja “ ucap Fabian berusaha menggoda Renata yang beranjak dari tempat makan.


“Diaaamm!”Renata menutup kedua kupingnya,melangkah meninggalkan Fabian.


“Aku tidak mau mendengar nya!”


Fabian terus tersenyum melihat reaksi menggemaskan dari Renata.Iapun kembali memakan spaghetti,dan tetap mengulas senyum di bibirnya jika teringat sosok Renata yang tanpa ia sadari berhasil menggoda nya.


Lihat betapa polosnya Dia.Batin Fabian dengan senyum di bibirnya.


Renata meninggalkan Fabian dengan terus mengumpat habis-habisan.Ia menahan rasa malu di depan bosnya hingga tak tahu harus berbuat apa.


Dasar orang mesum!Apa hanya itu yang ada di pikirannya.Bagaimana bisa disaat makanpun membicarakan hal semacam itu.Tidak bisakah Dia tidak bicara sejujur itu,Hhishhh!

__ADS_1


Ini semua karna ulahnya juga,kalo saja dia tidak selalu mencuri ciuman dariku.Maka aku juga tetap masih suci dari ujung kepala sampai kaki.Huuch! menyebalkan!


Tbc


__ADS_2