
#Eps 47
Renata menyiapkan beberapa makanan di meja,dengan hati senang dan berbunga-bunga.Ia berniat memberikan kejutan untuk Fabian.Seolah hubungannya bersama atasannya telah berjalan lancar dan lambat laun mulai membaik.Siapa yang menyangka jika dulu mereka adalah orang yang saling membenci,kini malah saling jatuh hati.
Fabian membuka pintu,langkahnya langsung menuju ke arah dapur ketika samar-samar terlihat bayangan perempuan sedang sibuk di sana.Ia meletakkan tasnya dikursi makan tak jauh dari dapur,dengan perlahan ia mendekati Renata yang sepertinya tak menyadari keberadaannya.
“Apa yang kau masak malam ini?” bisik Fabian tepat di telinga Renata seraya melingkarkan tangannya di perut gadis itu.Renata tersentak,hembusan nafas Fabian di belakang telinga membuatnya bergidik.
“Kau mengagetkanku saja.”
Fabian makin mengeratkan pelukannya,bersandar pada bahu mungil di depannya,sesekali ia menghirup aroma strawberry yang melekat di tubuh Renata meski sedang memasak.Iapun menarik ujung bibirnya,tersenyum.
“Hei!! Bagaimana aku bisa memasak kalau kau masih gelendotan seperti anak kecil.Hentikan !” Renata menggerakkan-gerakan tubuhnya saat Fabian mencium leher sekitarnya dari belakang.Renata menghempaskan tangan Fabian kasar karena geram,ia membalikkan badan berhadapan dengan pria tampan yang berhasil merebut hatinya.Fabian tersenyum manis melihat wajah Renata yang menggemaskan saat marah,Renata hanya bisa berdecih melihatnya.
“Wajah mu yang seperti ini jangan pernah kau perlihatkan di hadapan wanita manapun,”
“Lalu? Apa kau bangga karena hanya kau saja yang menikmatinya.”Fabian mencondongkan kepalanya ke wajah Renata,membuat Renata seketika memundurkan tubuhnya.Kedua tangan kekar itu mengukung tubuh mungil di depannya.Tangan kanannya berusaha mematikan kompor.
Saat hendak menjatuhkan bibirnya ke bibir Renata,gadis itu justru memalingkan wajahnya.
“Apa kau tidak capek?”
“Hmm.” Fabian tersenyum menggelengkan kepala,iapun mencium kening Renata.
“Aku makin menyayangimu,aku tak akan bosan mengucapkan hal itu.Tapi sampai sekarang aku masih mendengar kau memanggilku dengan sebutan “Bapak” .Kaupun jarang mengucapkan sayang padaku,apakah itu terlalu berat bagimu.”
“Hhh” Renata menghela nafas,ia menyingkirkan tangan kekar itu dan berjalan menuju meja makan membuat Fabian membalikkan badan,arah matanya masih mengikuti ke mana Renata berjalan.
“Kita bukan ABG,yang tiap saat harus bilang sayang ke pasangan.Lagipula tak perlu terus di ucapkan,aku juga tahu aku sudah menempati posisi itu di hatimu,begitupun sebaliknya.Jangan kau ragukan itu.”
Fabian mendekati Renata yang sedang mengambilkan nasi untuknya.Ia duduk dan kedua tangannya menopang dagu,tersenyum menatap gadis itu.
“Hentikan senyumanmu,aku akan cepat kenyang melihatmu seperti itu.” Sahut Renata salah tingkah,ia pun mengambil posisi duduk di samping Fabian.
Aku tahu kamu malu,dan tak punya keberanian untuk mengatakannya langsung.Tapi menghabiskan waktu bersamamu saja sepertinya sudah menggambarkan semuanya.Terima kasih,gumam Fabian yang diikuti memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.
Maaf,bukan aku tak bisa mengatakannya.Aku tidak punya kepercayaan diri untuk bersanding di sampingmu,ketika aku menyebut nama mu sepertinya itu tidak pantas untuk ku yang hanya orang biasa.Rasa sayangku terlalu besar hingga aku tak ingin mengumbarnya,aku hanya ingin menjadikannya satu-satunya harta yang paling berharga yang aku punya.
__ADS_1
Renata membereskan beberapa piring kotor,setelah ia merapikan semua iapun bergegas menyusul Fabian yang terlebih dulu ke kamar untuk segera mandi.
Fabian mengeringkan rambutnya yang basah,ia berjalan mendekati Renata yang terlihat menatap nanar ke arah ponselnya.
“Ada apa sayang?’Fabian berjongkok di hadapan Renata yang duduk di samping ranjang,ia menggenggam tangan nya.
“Entahlah,tiba-tiba aku merindukan kakek.”ucap Renata sedih.Fabian beralih duduk di samping Renata tanpa berniat melepas genggaman nya.
“Video call saja,siapa tahu kakek akan senang melihatmu.Akupun juga ingin berterimakasih ke kakek karena telah memilihkan seorang wanita yang hebat buatku.”
“Ishhh!” Renata menaikkan ujung bibirnya,”Sejak kapan sekarang kau hobi merayu wanita.”
“Sejak bersamamu,aku selalu ingin bersikap baik dan ingin membuatmu bahagia.Maaf jika selama ini aku telah menyusahkanmu,menyakitimu.”Fabian mencium punggung tangan Renata.
“Apa dulu kau sering mengucapkan hal yang sama ke wanita singa itu!”
Perkataan Renata seketika membuat tubuh Fabian memegang,ia tak habis pikir saat berdua malah justru dirusak dengan menyebut nama Evelyn walaupun dengan sebutan lain.
Fabian melepas genggaman nya.
“Di saat seperti inipun kau merusak suasana,heshh!”Fabian mengusap wajahnya kasar,mengalihkan pandangan ke arah yang lain sebisa mungkin.Namun tiba-tiba ponsel Renata berbunyi,dan nampak layar depan foto kakek sedang melakukan panggilan video.
“Kakek,apakah baik-baik saja?” tanya Renata menatap kakek dengan mata nanar.Walaupun hanya panggilan video namun mampu mengobati rasa rindunya terhadap kakek.Tiba-tiba ia ingin sekali mengajak kakek berjalan-jalan di sekitar taman hanya sekedar bercanda tawa.
“Hubungan kalian nampaknya sudah banyak perkembangan.Kakek senang melihatnya,apapun yang terjadi kalian harus tetap bersama.Entah kakek masih mampu atau tidak menemani kalian sampai melihat cicit kakek hadir.”
“Apa yang kakek bicarakan.Kakek pasti akan kembali bersama kami,lagipula Bian belum bilang makasih ke kakek karena telah menjadikan Renata pendamping hidup untuk Bian.Terima kasih kakek,saat ini dan selamanya Bian akan menjaganya,mencintainya dengan sepenuh hati Bian.”
Renata yang mendengar kata-kata Fabian terhanyut dalam genangan asmara yang tak terelakkan.Wajahnya memerah menahan malu.
“Hahaha..kakek sangat menyayangi kalian.”
Obrolan bersama kakek merupakan obat rindu setelah sekian lama tak pernah bertemu.Kakek yang renta menjalani pengobatan karena serangan jantung sendirian di sana.Itu membuat hati Renata seolah sedih dan selalu menahan tangis hingga rasanya sakit di tenggorokan nya.
***
Hari ini Renata beserta kawan-kawannya berencana menghabiskan makan siang di kantin.Mereka bertiga ingin mencari suasana yang berbeda selain pantry.
__ADS_1
Namun ,belum sempat memesan makanan mereka di gaduhkan dengan beberapa orang yang tampak riuh berhamburan meninggalkan kantin.Mata mereka saling pandang,seolah ingin mencari jawaban.
Orang-orang berlari,mereka seperti terlihat kaget dan panik.Hingga salah seorang karyawan menabrak bahu Renata yang sedang berdiri.
“Maaf..” ucap karyawan itu.Dan dengan cepat Retno menghentikannya,
“Ada apa?”
“Kalian tidak dengar berita duka dari pendiri Perusahaan ini.Sekarang kita mau ke lobi ,saya dengar ia meninggal tadi malam.Kemungkinan jasadnya akan dibawa kesini sebagai penghormatan terakhir ,karena beliau adalah pendiri Global King..”
Bak mendengar suara petir,kabar itu seketika membuat Renata terhuyung.Airmata seketika memenuhi pelupuk matanya,perasaan tidak enak semalam ternyata ini jawabannya.Seolah kakek sedang berpamitan dengannya.
“Pak Fabian..”ucapnya lirih seraya mengusap air mata yang jatuh tak terbendung.Iapun berlari meninggalkan Rettno dan Tika yang juga mengikutinya dari belakang.
Renata terus berlari dengan berurai air matanya.Sekelebat kenangan bersama kakek terlintas di benaknya.Beliau yang sedang duduk di taman,sekedar menemaninya hanya untuk mendengar umpatan tentang cucunya.Kakek yang dengan tenang bisa bercanda dengannya.Kakek yang tiba-tiba ingin menikahkannya dengan Fabian.Dan saat itu pula dunianya berubah.Kini ia harus merelakan kepergian kakek.
Kakek...huu..Maafkan Re.Batinnya terus masih terus berlari.
Hingga saat ingin memasuki lift menuju lantai atas,terdengar suara lift di depannya terbuka.Mata Renata melotot saat Fabian beserta beberapa Assisten nya keluar dari pintu lift itu.Renata menahan pintu yang akan tertutup,ia pun keluar dan mengejar Fabian.
Berlari mengejar Fabian tidaklah mudah,apalagi banyak nya kerumunan pegawai yang ingin melihat dan berbagi kesedihan bersama.
Renata sampai di area lobby Perusahaan,di lantai dasar.Matanya meneliti setiap penjuru tempat,mencari sosok Fabian.Hingga suara sirene ambulance memecahkan keramaian yang ada.Kerumunan orang sedang di tertibkan oleh satpam.Mereka memberikan batas jarak untuk pegawai dengan level kebawah.Sementara beberapa petinggi nampak dengan leluasa sedang berdiri menanti jasad kakek dari mobil.
Renata berusaha masuk ke dalam kerumunan,ia membuka satu persatu barisan manusia yang memenuhi tempat itu.Hingga ia berhasil berdiri di barisan paling depan dekat dengan pembatas.
Matanya menemukan Fabian,tangannya mengayun ke udara seolah ingin memanggil laki-laki itu.Namun suaranya tersangkut di tenggorokan saat tiba-tiba Evelyn dengan busana serba hitam muncul mendekati Fabian.
Wanita itu seolah memanfaatkan keadaan,ia menempel di dekat Fabian.Terlihat menghiburnya.Renata semakin sakit,dadanya terasa sesak,sesekali ia meremas bajunya.Di saat seperti ini pun ia tak bisa mendampingi pria itu disana.menghiburnya.memeluknya.Dan hanya sekedar bilang semua akan baik-baik saja.
Fabian nampak terpukul,satu-satunya keluarga yang ia punya telah tiada.Walaupun ia bukan cucu yang selalu menuruti apa kemauan kakeknya,namun jauh di lubuk hatinya ia tetap menyayangi kakek.Setiap didikan sungguh sangat berarti baginya,hingga kini ia berdiri menjadi orang nomor satu di Perusahaan,semua adalah berkat kakek.
Christian pun terlihat datang dan berdiri tak jauh dari tempat Fabian.Setelah jasad kakek di keluarkan dari mobil,tampak kesedihan terlihat di mata Fabian.Ia sedang tak baik.
“Di saat seperti ini pun aku tak bisa berbuat apa-apa untukmu.Maaf,huuu..hu..akupun tak bisa melihat kakek untuk terakhir kalinya.Ya Tuhan,seperti inikah kau tunjukkan dengan jelas perbedaan kami berdua.Apa yang harus aku lakukan,aku pun sakit dan sedih tidak bisaa melihat kakek di semayamkan ,tidak bisa menghibur dan berada di dekat Fabian.Lalu untuk apa semua ini,huu..huu.”
Tanpa memikirkan orang sekeliling tangis Renata pecah tak terbendung.Hatinya sakit dan hancur, saat tak mampu berbuat sesuatu.ia terus menahan kesakitan sendirian.Dan kini ia terus menangis.
__ADS_1
Tbc.