
Yang Like belum tembus 50 per episode,😔
Ayo donk,bantu Readers buat lulus kontrak di Mangatoon.🙏
Dan makasih buat kalian yang masih setia dan memberikan like buat novel ini,
salam sayang dari author🥰
Pepatah mengatakan,rasa ada karena terbiasa dan karena banyaknya waktu yang di lalui saat bersama,mungkin itu peribahasa yang cocok untuk menggambarkan perasaan Fabian.Entah bagaimana dan sejak kapan ia menjadi sangat peduli dengan gadis bar-bar yang dulu sangat ia benci.
Nyatanya,walaupun awalnya Fabian bilang tidak untuk bermain ke pantai tapi sekarang ia sama sekali tak menolak berjalan beriringan di samping bibir pantai yang menyuguhkan desiran-desiran ombak.Buih ombak yang berulangkali mengenai kaki mereka pun seolah sedang memainkan perannya menjadikan suasana makin romantis.
“Hari ini ...makasih buat semuanya Pak” ucap Re beberapa kali menyibakkan rambut yang berulang kali di terpa angin.
“Hmm..”
“Tapi jangan khawatir Pak,saya akan tetap berjalan di jalan saya.Saya tidak akan melampaui batas yang pernah kita buat.”
Fabian terhenti mendengar ucapan Renata,ada perasaan aneh yang menyergap hatinya bibirnya kelu tak bisa mengucapkan yang sebenarnya bahwa ia ingin memperbaiki hubungan ini.Menjadikan sebuah pernikahan yang sakral yang saling mengasihi sebagai suami istri.
Mereka berdiri saling berhadapan,seolah menemukan ketulusan di dalam iris mata Renata,Fabian mendekat dan menyibakkan anak rambut yang terjatuh dari ikatan cepol ke belakang telinga Renata.Wajah gadis itu memerah menahan malu,ia sama sekali tak bisa menahan perasaannya.Jantungnya berdebar kencang.
“Bisakah batasan itu kita hapus,dan memulai semuanya dari awal..”ucap Fabian lirih di depan wajah Renata yang menatapnya tanpa berkedip.
“Apa?!”Renata mengernyitkan dahi,”maksud Bapak?”
Tanpa menjawab,Fabian hanya mendekatkan bibirnya ke bibir ranum Renata,hembusan nafas yang memburu seakan terasa di depan wajah Renata.Saat bibir mereka berjarak 5 cm,tiba-tiba sebuah suara dari microphone mengagetkan mereka.
Kepada semua pengunjung pantai ,karena hari ini akan ada hujan badai yang berpotensi naiknya air laut dan mengantisipasi adanya tsunami kami selaku pengelola pantai akan segera menutup wilayah ini sementara.Dan dengan segala hormat, diharapkan para pengunjung untuk segera meninggalkan area pantai,sebab pintu utama kawasan ini akan segera kami tutup.Demikian pemberitahuan dari kami,terimakasih.
Mendengar pemberitahuan lewat pengeras suara,Fabian melupakan apa yang tadinya akan ia lakukan pada Renata.Ia beradu pandang kembali dan kali ini dengan wajah tegang.Dengan cepat ia meraih tangan Renata dan menariknya untuk segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Dengan setengah berlari mereka menuju ke parkir mobil.Renata hanya mengikuti langkah Fabian dari belakang,ia terus memandang jari-jari Fabian mengerat di sela-sela jarinya dan tak berhenti mengulas senyum kebahagiaan.Karna ini semua seperti mimpi baginya,dua hari bisa menghabiskan waktu bersama bosnya adalah suatu hal yang istimewa untuk Renata.
“Kenapa jalanmu lamban sekali!Bisakah kau cepat sedikit!!”teriak Fabian tanpa menoleh ke arah Renata,ia terlalu malu untuk melihat reaksi Gadis itu dengan sikapnya yang dengan sengaja menggandeng tangan Renata.
“Jangan samakan kaki saya dengan kaki Bapak.Saya tidak bisa jalan seperti itu!”
“Itu sebabnya kau seperti siput.”
Renata hanya mengerucutkan bibirnya,ia sudah terbiasa dengan semua perkataan Fabian.Namun demikian,ia tau jauh dari dasar hati Fabian ia sosok orang yang tak sekasar itu.Hanya saja ia tak bisa mengutarakan isi hatinya di depan Renata.
Hujan deras beserta angin kencang mengguyur jalanan beraspal,membuat semua orang mengemudi dengan perlahan.Belum sampai ke pintu utama,jalanan sudah tak bisa mereka lewati karena kemacetan yang melanda beberapa kilometer setelah diumumkan pemberitahuan lewat pengeras suara.
“Sepertinya kita harus mencari penginapan untuk bermalam.Lagipula hujan deras seperti ini akan membuat kemacetan semakin panjang.”
“Tapi Pak,bukankah kita besok sudah mulai kerja?”
“Untuk apa kau memikirkan hal itu,kita adalah pemilik perusahaan jadi siapa yang bakal berani menegur?”
“Kita?” Tanya Renata bingung dengan kata “kita”yang terlontar dari mulut Fabian.Ia tak mengerti apa maksud Fabian dengan bilang seperti itu,apakah ia sudah menerima pernikahan ini atau ia hanya asal sebut saja.
Oh Tuhan,,mendengar perkataannya berasa ingin terbang.Kupu-kupu di dalam perutku seakan ingin keluar dan menari-nari dengan ucapannya.Mungkin saat ini pipiku sudah memerah.Apakah itu artinya ia sudah mau menerimaku.
“Ayo kita sudah sampai.”
Setelah memarkirkan mobil,mereka memasuki sebuah penginapan.Di loby,Fabian tengah melakukan reservation sedangkan Renata hanya duduk di sofa tunggu sambil mengayunkan kedua kakinya.
Fabian mendekat ke arah Renata,dan mengajaknya untuk ke lantai 2,Kamar mereka untuk bermalam.Fabian membuka kamar,diikuti Renata yang berjalan di belakang Fabian.Kamar berukuran hanya 4x7 meter dengan ranjang berukuran 160x200 cm dengan kamar mandi di dalam,membuat mata Renata melotot seketika.
“Kasurnya hanya ada satu,lalu mana kunci kamar saya Pak?”
“Menurutmu,hujan deras diluar membuat orang tetap berada di jalan dengan kemacetan yang menggila.Beruntung kita masih mendapat kamar,lagipula kita sudah biasa tidur bersama.Apalagi yang kamu takutkan.”
__ADS_1
“Hmm.” Renata menipiskan bibirnya,menelan rasa pahit bahwa sikap manis Fabian ternyata hanya sementara dan tak berlangsung lama.
“Tentu saja,apalagi yang mesti saya takuti.Ha.ha..ha,”Renata tertawa kaku,ia juga menepuk punggung Fabian menyadari apa yang dikhawatirkan tidak mungkin terjadi,lagipula Fabian tidak tertarik dengannya.
Renata keluar dari kamar mandi dan melihat Fabian yang sibuk di depan laptop.Ia duduk dipinggiran kasur,di dalam kamar memang hanya ada kasur dengan kanan kiri sebuah nakas.Renata terlihat canggung dan hanya memainkan jemari tangan.
“Tidurlah..!”perintah Fabian dengan mata yang tak beralih dari laptop.Renata yang masih duduk memunggungi Fabian,hanya bingung mencari sesuatu agar suasana tegang di dirinya mencair.
“Rambutku masih basah,,ehmmm aku mau liat tv saja.Bapak jangan hiraukan saya,silahkan Bapak kerja saja.”Renata mengambil remote tv yang berada di atas nakas.Ia berusaha fokus dengan acara tv,namun pikirannya justru masih berputar putar tentang bosnya.
Fabian menutup laptopnya,ia mengambil sebuah alat pengering rambut yang telah tersedia di kamar penginapan.Berjalan memutari ranjang,dan berdiri tepat di depan Renata.
Tubuh Renata kembali menegang,melihat Fabian mulai menyalakan alat pengering rambut tanpa mengatakan apapun.
“Apa yang Bapak lakukan?”
“”Kau tidak pernah lihat alat pengering rambut?”
“Iya .maksud saya Bapak mau apa dengan alat pengering itu?”
“Suhu Ac ruangan di sini sangat dingin,apalagi diluar masih hujan.Apa kau ingin sakit dengan rambut masih basah seperti ini!”
Renata tak bisa berkata-kata, lagi dan lagi Fabian kembali membuat hatinya terbuai sikap manis atasannya.Ia terdiam dan matanya tetap ke arah wajah tampan di depannya,sedangkan Fabian mulai mengurai rambut panjang Renata dan mengarahkan hairdryer ke rambut Renata.
“Tutup mulut mu!Angin yang keluar dari hairdryer bisa masuk ke mulutmu!”
Renata mengatupkan kedua mulutnya dengan cepat,tanpa sadar memang ia terpukau dengan ketampanan Fabian yang begitu sempurna.Rasanya ingin loncat dan memeluk tubuh atletis di depannya,namun diurungkan karena ia tahu di hati Fabian tak pernah terukir namanya.
“Sini,,”Renata merebut hairdryer,ia takut kembali terlena dengan sikap manis Fabian.Ia tak boleh terbuai,karena pada saatnya nanti akan tiba waktunya dimana Fabian akan membuangnya.Namun dengan cepat Fabian menahan tangan Renata, hairdryer berada di tangan mereka,Fabian merebut dan membuangnya.Tangan kirinya menyibakkan rambut Renata yang setengah basah,membingkai wajah gadis itu dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Renata,mencium dan ******* lembut bibirnya.Renata memejamkan mata,menikmati setiap ciuman dari bosnya.
Merekapun larut dalam suasana yang syahdu,dengan hujan deras yang masih mengguyur jalanan.Menikmati setiap kebersamaan yang tercipta,dan melewati malam panjang penuh dengan hasrat yang tak terbendung di antara keduanya.
__ADS_1
Renata mengakui saat ini ia tak tahu bagaimana menolak sentuhan lembut dari Fabian,sementara ia memang sangat menginginkan bosnya.Terserah Fabian nanti akan membuang atau mengakhiri hubungan ini,sesaat saja Renata hanya ingin menikmati saat-saat bersama laki-laki yang berhasil merebut hatinya.Toh bukankah cinta tak harus memiliki,dan biarkan hanya dia yang merasakan kesakitan karena cinta itu sendiri.Sungguh ia sudah tak peduli.
Tbc