
Hayo yang suka baca tapi belum juga kasih "like".Gak papa Author masih setia nungguin kebaikan para Readers semua.
Mudah-mudahan segera di bukakan pintu hidayahnya...🙏
Dengan kedua tangan berada di saku,Fabian berjalan mengelilingi tempat dimana Renata di besarkan.Lingkungan yang benar-benar jauh dari keramaian,membuat suasana menjadi lebih tenang.Pandangannya meneliti setiap tempat,banyaknya pepohonan menambah sejuk di sore hari.
Langkah Fabian terhenti,ketika banyak kerumunan anak yang sedang mendongak ke atas pohon mangga.Ia pun mendekat.
“Kak..ayo buruan lempar mangganya ke bawah”
“Iya kak”
“Kak, sebelah sana ada yang matang”
Ucapan anak-anak saling bersahutan,membuat Fabian ikut berada di tengah-tengah keramaian itu.Kepalanya ikut mendongak mengikuti arah pandangan anak- anak,betapa terkejutnya ia melihat Renata berada di atas pohon sedang mencari mangga.Matanya melotot hampir tak percaya,pohon mangga yang tingginya hampir 3 meter ternyata tak membuat Renata takut.
Renata begitu lincah menginjak beberapa batang pohon,ia begitu semangat mengambil mangga untuk anak-anak.Fabian hanya berkacak pinggang,dan terkadang jantungnya yang berdegup kencang saat Renata menginjak batang pohon yang rapuh.Fabian terus menerus menekan pelipisnya,seolah olah pusing dengan kelakuan Renata.
Setelah hampir 30 menit akhirnya Renata turun perlahan.Saat pijakan terakhir,kakinya terpelasat dan membuat tubuhnya terjatuh.Dengan segera dan cepat Fabian yang berada di bawah langsung menangkap tubuh kecilnya.Renata tepat jatuh berhadapan dengan Fabian,dengan kedua tangan melingkar di leher Fabian.Mata mereka saling bertemu dan saling pandang.
Sejenak Renata ingin menikmati ciptaan Tuhan yang begitu tampan,dari dekat ataupun dari jauh dan selalu terlihat menawan.
“Cieee..cieeee.” sahut anak-anak dengan nada menggoda.Membuat keduanya tersadar dan saling menjauh,Renata merasa canggung dan salah tingkah.Sedangkan Fabian hanya mengalihkan pandangan dan mengusap tengkuknya.
“Jadilah seorang wanita!! Jangan seperti seekor kera!!”ucap Fabian berbisik tepat di telinga Renata saat berjalan melewati nya.Renata hanya bisa mendengus dan mencibir saat Fabian sudah meninggalkannya dengan wajah kesal.
“Re..”panggil Bu Hilda mendekat ke arah Renata yang tengah duduk di ruang tengah bersama dengan anak-anak yang lain,sedangkan Fabian hanya ikut duduk menyaksikan keramaian anak-anak di ruangan itu.
“Ya Bu..” pandangan Re beralih ke Bu Hilda yang duduk di sampingnya.
“Hari ini kamu tidur dengan ibu ya? Nak Fabian biar tidur di ruang tamu”
Mendengar saran dari Bu Hilda,Renata melihat ke arah Fabian yang ternyata sudah mendengar pembicaraan mereka.Dengan kode mata yang membelalak sepertinya Fabian tak begitu menyukai ide itu,apalagi dengan suasana rumah dengan lampu temaram,dan tanpa AC bagaimana Fabian harus beradaptasi.
“Baik Bu”
Jawaban Renata membuat tubuh Fabian lemas seketika,pasalnya ia harus menikmati malam yang menyedihkan dengan kamar yang sempit,tanpa AC dan mungkin akan menjadi santapan para nyamuk sendirian.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam,Fabian berulangkali mengubah posisi tidur ke kanan dan ke kiri mencari posisi yang pas agar mata segera terpejam.Namun,bukan terpejam justru ia malah kegerahan,suara nyamuk di atas telinga pun ikut mengganggu.Ia putuskan mengambil ponsel dan mengirim chat ke Renata.
Fabian: “ Sudah tidur?”
__ADS_1
📩 Renata:”Belum.”
Fabian: “Adakah kamar yang lebih bagus.Aku hampir tidak bisa bernafas,di sini panas dan juga banyak nyamuk.”
Renata memutar kedua bola matanya, menipiskan bibir dan menghembuskan nafas mendengar kata-kata Bosnya bak seperti Raja.
📩 “Di sini bukan hotel!!Sudah tidur saja.”
“Bagaimana mau tidur ,bahkan kasurnya pun tidak bisa menampung seluruh kakiku!”
📩 “ Itu kaki Anda yang terlalu panjang.Sudah ya Pak,Saya mau tidur dulu ngantuk.Met malam Pak Fabian.”Ucap Renata mengakhiri chat nya dengan tertawa cekikikan.
Rasakan! Emank enak.hehehe.
“Dasar gadis bar-bar sialan,awas saja nanti!”ucap Fabian geram,ia pun menaruh ponsel di samping bantal dan segera memejamkan matanya berharap cepat tertidur.
Suasana di pagi hari di rumah Yatim sungguh sejuk dan tenang. Udara dingin yang masih terasa sampai ke tulang membuat banyak orang mulai beraktivitas.Renata yang berdiri di depan pintu sedang menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mata ingin merasakan angin yang berhembus dan udara yang jarang ia rasakan beberapa bulan karena harus merantau ke kota,wajahnya menengadah seolah ingin menyatu dengan alam dan udara di sekitar.
Berbeda dengan Fabian,hampir semalaman Fabian terjaga dari tidur.Kini saat semua orang terbangun,hanya dirinya yang masih terlelap.
“Re ayo sarapan dulu.Panggil atasanmu kemari,kita sarapan bareng.Kapan lagi coba” ucap Bu Hilda
Dengan sangat hati-hati,Renata membuka pintu kamar di mana Fabian tertidur.Pintu yang terbuat dari kayu yang sudah tua,ternyata menimbulkan suara yang khas saat di buka.Renata mendekat dan duduk di samping Fabian yang sedang memeluk guling.
“Pak..bangun!ayo sarapan."
“Hmm..”jawab Fabian singkat dengan mata masih terpejam.
“Semua sudah pada nungguin kita.”
“Lima menit lagi,masih ngantuk”sahutnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Sekarang,lalu kita pulang!”
Mendengar ajakan Renata,dengan cepat ia membuka mata.Fabian memang berharap secepatnya pulang dan segera menikmati kasur nyaman berukuran king size di apartemennya.
Setelah beberapa menit,Fabian pun ikut berkumpul dengan Bu Hilda serta ibu pengurus yang lain.Tak ketinggalan suara berisik dari beberapa anak yang riuh berebut tempat duduk.
Meja kayu berukuran panjang telah menyatukan semua orang hanya dengan aktivitas makan.Fabian melihat ke sekeliling,belum pernah ia merasakan kehangatan dan kebersamaan sewaktu makan seperti yang ia rasa saat ini.
“Pak.”Sapa Re mencolek lengan Fabian dengan jari telunjuk.Fabian tersentak dan menoleh ke arah Renata,
__ADS_1
“Makan” tunjuk Renata dengan dagu ke arah makanan yang tersedia di meja.Fabian hanya sedikit merasa terharu merasakan kebersamaan saat ini.Ia tersenyum dan melanjutkan makan.
Siang hari setelah berkemas,Renata dan Fabian melangkah meninggalkan rumah Yatim.Dengan bersedih hati,Renata memeluk satu persatu pengurus rumah yatim yang sudah ia anggap sebagai orang tua.
Mobil melaju dengan kencang,Renata yang tampak sedih hanya mengalihkan pandangan keluar jendela.
“Aku sudah memberitahu Han,hari ini dia akan mengirim sembako dan keperluan lainnya untuk rumah Yatim.Serta mencari designer interior untuh merenovasi bangunan tua itu.”ucap Fabian dengan datar,pandangannya pun masih ke depan.Mandengar kalimat yang dilontarkan Fabian,Wajah Renata langsung menoleh.
“Apa Bapak serius?”sahut Renata dengan wajah penuh pengharapan.Kedua tangannya menyentuh lengan Fabian,
“Kau pikir aku seorang pembohong?”
“Aaaaa!!!! Terima kasih Pak Fabian.Saya tak menyangka Anda begitu baik sekali.” Dengan antusias Renata memeluk lengan kekar Fabian.Dengan sekali lirik,Fabian ikut merasakan kebahagian Renata,iapun tersenyum melihat pucuk kepala yang sedang bersandar di lengannya.
Bagaimana aku tidak jatuh hati,walaupun dia galak,keras dan juga angkuh.Tapi sifatnya begitu manis,hatiku benar-benar selalu terbuai dengan semua kebaikannya.Cukup bersama denganmu saja,itu sudah membuatku bahagia.Aku tak tahu harus bagaimana mengucapkan rasa terima kasih ku.Batin Renata mengulas senyum lebar di bibirnya.
"Pak,,lihat!!!" teriak Renata menegakkan tubuhnya menunjuk sebuah tempat.Fabian ikut tersentak mendengar Renata yang tiba-tiba berteriak.
"Gendang telinga ku lama-lama rusak jika terus bersamamu!!Bisakah kau berbicara dengan nada pelan tidak perlu pakai teriak-teriak!"Sebelah tangan Fabian menyentuh telinganya,merasa terganggu dengan teriakan Renata.
"issh." Renata melirik Fabian dan menaikkan ujung bibirnya.
"itu pantai Pak." lanjutnya sambil menunjuk arah pantai.
"Anak TK juga tahu itu pantai."
"Bapak sengaja lewat jalan ini agar kita bisa melihat pantai?"tanya nya antusias.
"Jangan kege-eran."ucap Fabian berbohong.Ia memang sengaja ingin mengajak Renata sekalian melihat pantai.Padahal jika dipikir,jalan melewati pantai lebih jauh daripada jalan utama untuk menuju ke kota.
"Kita ke sana Pak!"
"Tidak!" jawab Fabian cepat.
"Jika tidak mau ,kenapa Bapak lewat jalan ini yang justru lebih jauh dari jalan utama.Bapak sengaja membawa Re ke pantai kan.Ayo Pak nggak usah jual mahal,Re suka kok ke pantai.Kita main sebentar saja."
"Aku bilang tidak..ya tidak!Jangan merengek lagi.Telingaku sakit mendengar teriakanmu!!"
Renata geram mendengar jawaban Fabian yang tetap kekeh tak mau di ajak ke pantai.Dengan melipat kedua tangan ke depan dada,Renata mendengus kesal.
Terus apa,dengan sengaja lewat jalan ini kalau memang pengen ngajakin lihat pantai.Orang aneh!
__ADS_1
tbc