
“Bukankah ini,,sebuah cincin kawin?”
Mereka bertiga terkesiap dan menatap Fabian bersamaan.
“Anda mengingatnya?” Tanya Renata dengan pandangan penuh harap.Cristian berdiri di samping Renata dengan menepuk bahu kanannya,seolah berusaha menguatkan Renata tentang semua jawaban yang mungkin keluar dari mulut Fabian.
Fabian kembali menelisik cincin itu.Berusaha melihat dari segala penjuru.
“Sayang,itu bukan hal penting,lagipula bukan urusan kita juga gadis OG itu sudah menikah atau belum.Okey!” Sahut Evelyn menarik lengan Fabian.Pria itu hanya menaikkan bahunya seolah mengiyakan perkataan Evelyn bahwa semua memang bukan urusannya.
“Berikan padaku!!” Renata merebut kasar cincin itu dari tangan Fabian,membuat pria itu melebarkan matanya melihat tingkah Renata yang seolah marah padanya.Renata berjalan sengaja menabrak tubuh Fabian,seakan melampiaskan kekesalannya terhadap pria itu.Fabian terhuyung dan menatap kepergian Renata dengan mengernyitkan dahi.
Ada apa dengannya,dari matanya sepertinya ia sedang meluapkan kemarahannya,apa aku salah menanyakan cincin itu.Gadis yang aneh.Gumam Fabian dalam hati.
Sesampai di pantry dengan nafas terengah-engah,Renata menuju ke dispenser air.Kemudian Ia menegak beberapa minuman di dalam gelas,melihat hal itu Billy yang berada di dalam pantry nampak heran.
“Hei..hei.. abis lari maraton,Bu!! Anak gadis minumnya gitu amat!!”
Renata meletakkan gelas dengan setengah membantingnya,Billy yang tersentak kaget hingga memegangi dada.
“Renata!!!Habis makan apa sih,bar-bar banget kelakuan!”
“Aahhhkkk!!” teriak Renata menggoyangkan kepalanya,mulai muak dengan keadaan.Billy menaikkan ujung bibirnya melihat sahabat satu SMA nya menjadi aneh.
“ Hemm,sepertinya ada beberapa dokumen yang harus aku copy.Aku mulai kerja dulu akkh.” Billy mendadak takut dan perlahan keluar dari pintu pantry dengan mengendap-endap.
Fabian mulai tak tenang,pikirannya entah mengapa tertuju pada gadis OG yang setia menunggunya di Rumah sakit saat itu.Ditambah dengan kejadian tadi siang,rasa ingin tahu tentang Renata memenuhi pikirannya,ia tak bisa fokus pada pekerjaannya.
Han terdiam di depan meja kerja Fabian,matanya menyelidik dan penuh tanda tanya melihat Fabian yang hanya memainkan pena nya di atas kertas.Sementara pikirannya entah sedang ke mana.
“Ehem!” Han mencoba memecah lamunan atasanya,Fabian terkesiap.
“Han,sepertinya kita harus ke Departemen Marketing.” Ucap Fabian tiba-tiba,dan membuat Han mengerutkan dahinya.
“Apa saya tidak salah dengar,Pak.Dan untuk apa Anda pergi ke sana?
“ Aku..Aku hanya ingin melihat kinerja beberapa staff di sana,karena ada beberapa dokumen yang sepertinya tidak sesuai.”
“Tapi Pak..bukankah ada tim Audit yang tiap tiga bulan sekali akan melakukan pengecekan data.Jadi apakah tidak terlalu mencolok jika Anda harus turun tangan sendiri ke sana.” Ucap Han tanpa mengurangi rasa hormat nya.Fabian berdiri dan mengancingkan jasnya.
__ADS_1
“Aku rasa aku tidak perlu berdebat denganmu ,Di sini akulah atasannya.” Fabian melangkah pergi meninggalkan ruangan, Assisten Han hanya menipiskan bibirnya,dan mengikuti dari belakang .
Sepertinya Anda sudah mulai penasaran dengan Nyonya Muda ,aku tahu semua adalah alasan Anda saja.Hhmh.Batin Han yang mengekor di belakang Fabian.
Sesampainya di Marketing,Fabian berdiri tegak matanya bak pemburu yang sedang mengintai mangsanya membuat para pegawai terlihat menyibukkan diri pada pekerjaan.Tak sedikit pula yang merasa heran dengan kedatangan sang pemilik Perusahaan.
Fabian berjalan menyusuri area tersebut,alih-alih mengawasi pekerjaan pandangannya justru ke segala arah untuk mencari keberadaan seseorang.Hingga langkahnya terhenti di ruang pantry Marketing,namun wajahnya tampak kecewa pasalnya orang yang sedang ingin ia temui tidak terlihat.Akhirnya ia pun kembali tanpa melakukan apa-apa.Han hanya menggelengkan kepala.
Membuat semua orang panik dan tegang,nyatanya dirimu hanya ingin melihat Nyonya besar bukan,ucap Han dalam hati dan tersenyum.Paling tidak walaupun Fabian tak mengenal dan mengingat Renata,namun mungkin masih ada sedikit sisa rasa untuknya.
***
Setiap hari Renata harus bangun pagi,lebih pagi dari biasanya.Semenjak ia memutuskan untuk tinggal di kontrakan,ia tak pernah melupakan kewajibannya sebagai istri.Ia diam-diam masuk ke dalam apartemen Fabian.Sekedar membersihkan ruangan ataupun menyiapkan makanan untuk sarapan pagi Fabian.Itu sebabnya ia tak ingin jauh dari jangkauan Fabian,agar ia tetap bisa menjaganya.
Fabian hendak berangkat bekerja,ia menuruni tangga sembari merapikan lengan kemejanya.Dahinya kembali mengerut,beberapa hari ia melihat ruangan yang telah rapi.Di meja makan pun telah tersedia sarapan pagi.Mbok Darmi mantan ART pun sempat di buat heran saat Fabian menghubunginya untuk menanyakan kedatangannya ke Apartemen,karena Mbok Darmi sudah lama tak menyambangi Apartemen Fabian.Terakhir kali mbok Darmi hanya di suruh untuk merawat Renata yang tengah sakit.
Sampai di Perusahaan pun ,Fabian masih memikirkan hal itu.
“Han ,apa kau menyuruh orang untuk membereskan apartemenku?” tanya Fabian di sela-sela kesibukannya duduk di meja kerja.Han yang duduk di sofa dengan laptop di depannya,segera menoleh ke arah Fabian.
“Tidak Pak..Apa ada sesuatu yang terjadi.”
Fabian mulai menyandarkan punggungnya,
“Apa Mbok Darmi?” tanya Han ikut berfikir,namun dengan segera Fabian menggelengkan kepala.
“Tanpa perintahku Mbok Darmi tak mungkin datang ke Apartemen.Akupun sudah menghubunginya.?”
Kedua orang di dalam ruangan pun saling pandang,mereka saling beradu pikiran.Merasa heran dengan kejanggalan yang terjadi beberapa hari di Apartemen Fabian.
“Lebih baik Anda memergokinya sendiri ,bangun lebih pagi dan melihat siapa sebenarnya yang membantu Anda mengurus Apartemen.”saran Han yang menduga semua ini adalah kerjaan Renata.
“Hmm.Selain Evelyn dan kamu siapa lagi yang tahu password pintu apartemen? Untuk Evelyn sendiri,aku rasa dia bukan tipe wanita yang suka masak atau beberes rumah.Lalu siapa?orang yang berani masuk ke apartemen ku?”
Ketika Han dan Fabian sedang berpikir,tiba-tiba pintu terbuka.
“Halo Sayang!!”seru Evelyn dengan gayanya yang khas.Fabian dan Han tersentak ,dan bersamaan mengalihkan pandangan ke arah Evelyn.Gadis itu terdiam ,pandangannya beralih ke Fabian dan Han yang melihatnya tak biasa.
“Ada apa?! Apa aku mengganggu kalian.”
__ADS_1
Han berdiri dan menunduk.
“Maaf,kalau begitu saya permisi.Lima belas menit lagi akan ada meeting dengan beberapa staff marketing perihal strategi penjuala n produk kita,Pak.”
“Baik ,aku mengerti.” Jawab Fabian singkat.Evelyn mendekat ke arah Fabian,menyandarkan kakinya di samping meja kerja Fabian.Han pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.
“Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu ,sayang?”
Fabian memejamkan mata,menekan pelipisnya.
“Tidak! Lebih baik kita bersiap meeting.Semua orang akan menunggu kita di sana.”
Fabian beranjak berdiri,dan Evelyn mendengus melihat sikap dinginnya.Ia pun mengikuti Fabian dari belakang.Ternyata hilang ingatan juga tak mengubah sikap kaku dan datar pada Evelyn.
Mata Fabian kembali mengelilingi setiap sudut ruangan begitu sampai di bagian Marketing.Evelyn memicingkan mata,ia tahu betul Fabian sedang mencari siapa.Karna ia tahu Renata dipindahkan menjadi OG di Marketing.
Fabian memasuki ruang meeting bersama dengan Evelyn ,belum banyak orang yang datang.Sementara Renata yang tak mengetahui kedatangan Fabian tampak masih tertawa di pantry bersama Dani dan Billy.Setelah mengetahui adanya jadwal meeting,Renatapun dengan sigap membuatkan kopi untuk beberapa atasan.
Memasuki ruangan,Renata berhenti melangkah saat di ambang pintu.Pandangannya mengarah pada Fabian yang duduk di kursi utama di depan pintu masuk .Pria itupun melihat ke arah Renata,Evelyn mengikuti arah mata Fabian.
Seolah tak terjadi apa-apa di dalam hatinya,Renata mencoba masuk ke dalam ruangan.Satu persatu ia meletakkan secangkir kopi di atas meja yang terlihat kosong.Ia melewati Evelyn karena wanita itu tak menyukai kopi,Renata hanya memberi segelas air putih.Mendekati posisi Fabian,mata Renata bertatap muka dengan wajahnya.Pria yang berhasil menyandang cinta pertamanya.Ia pun menundukkan wajah,tak ingin beberapa orang curiga melihatnya.
Evelyn yang merasa geram, menjegal kaki sebelah Renata.Dan Gadis itupun terhuyung ke depan,secangkir kopi tumpah di atas jas dan celana Fabian.
“hisshh” Ucap Fabian dengan reflek berdiri dan mengibaskan jas beserta celana.Mata Renata melebar,dengan sigap ia gunakan tangannya untuk membersihkan jas terdebut.
“Maap.Maapkan saya Pak!Saya tak sengaja.” Ucap Renata dengan nada gemetar,beberapa orang pun melihat kejadian itu.Evelyn tak tinggal diam,ia menarik lengan Renata untuk menjauh dari Fabian.
“Dasar lancang!!”saut Evelyn mengambil segelas air dan mengguyur wajah gadis itu.Renata gelagapan,mulutnya terbuka ia pun mengusap wajahnya yang basah.
“Evelyn!!!!” bentak Fabian meninggikan suaranya.
“Apa yang kau lakukan!”
“Aku hanya memberinya pelajaran,dia telah mengotori baju mu.Masih beruntung dia masih tetap bekerja di sini.”
“Maafkan saya.Saya permisi!” Renata menundukkan wajah,dan segera pergi dari tempat itu.Sedangkan Evelyn hanya berdecak kesal sembari melipat kedua tangannya.
“Kau sungguh keterlaluan!”ucap Fabian penuh penekanan,dan pergi dari ruang meeting untuk membersihkan bajunya.
__ADS_1
Evelyn merasa geram,matanya memandang ke semua orang yang berada di ruang meeting.Matanya tajam seolah menyuruh orang untuk tidak banyak bicara.Ingatan yang menghilang tak menjadikan Fabian memilihnya,tak menjadikannya istimewa.Dan itu semua itu ia rasa percuma.
Tbc