
#Eps 50
Sebelum bekerja,Renata masih menyempatkan untuk menyiapkan sarapan untuk Fabian.Pagi ini ia duduk di sofa dengan mengupas buah apel kesukaan Fabian.Sesekali ia menatap pria itu yang dengan sikap dingin sedang berbicara dengan Assisten Han.
Sekilas tak banyak berubah dari pria itu,tapi siapa yang mengira kecelakaan itu membuatnya hilang ingatan sebagian.Bahkan kemampuan dan kepintarannya sama sekali tidak menghilang,lalu mengapa hanya dirinya yang tak mampu di kenali Fabian.Ini memang tak adil bagi Renata.
Fabian melirik ke arah Renata,membuat gadis itu tersentak lalu menunduk menenggelamkan wajahnya pada buah yang sedang ia kupas.Untuk semntara Renata tak mau memaksakan keadaan,biarlah seperti ini dulu.Toh,dengan sadarnya Fabian dari tidur panjang sudah merupakan mukjizat terbesar baginya.Tak apa saat ini pria itu tak mengenalinya,tapi ia akan berusaha.Renata akan trus berjuang mengembalikan memori tentang mereka brrdua.Da. Bukankah cinta akan menemukan jalannya,pasti.Renata tak akan menyerah,karena ia percaya Fabian akan kembali kepadanya.
“Apakah aku begitu dekat dengan gadis itu?”Fabian berbisik ,membuat Assisten Han sedikit membungkukkan badannya untuk mendengarkan.Assisten Han melirik Renata,kemudian pandangannya kembali ke arah Fabian.
“Apakah Anda sama sekali tak mengingat Nyonya muda?”
Fabian memicingkan mata,menatap kembali Renata mencoba mengingat memori yang hilang.Namun kepalanya berdenyut,kembali ia merasakan sakit saat mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan ingatannya.
Renata beranjak berdiri,ia panik melihat Fabian merasa kesakitan.Ia mendekat.
“Ada apa Pak Han?” tanya Renata khawatir menyentuh bahu Fabian.Dengan menyentuh pelipisnya,Fabian kembali menatap wajah Renata.
Aku benar-benar tak tahu siapa dia,tapi kenapa hati ini merasa tak asing.Kenapa Han menyebutnya Nyonya muda,bukankah yang pantas ia sebut seperti itu adalah Evelyn.
“Maafkan saya Pak,Saya tidak bermaksud untuk..” ucapan Assisten Han terpotong saat Fabian memberi tanda dengan mengayunkan lima jarinya ke depan.Menyuruh Han diam.
Renata menarik lengan assisten Han untuk bergeser agak jauh dari ranjang Fabian,namun masih dalam satu ruangan.
“Pak Han ,apa yang sedang Anda bicarakan dengan Pak Fabian?kenapa ia merasa kesakitan?
“Maaf Nyonya,Beliau menanyakan Anda.Dan saya menanyakan kembalj apa Pak Fabian benar-benar melupakan Nyonya muda.”
Renata menghela nafas,
“Pak Han,sudah!Jangan di paksa untuk mengingatnya,biarkan seperti ini adanya.Beliau membuka mata dan sadar dari koma,Re sudah sangat bersyukur.Re janji,Re akan mengembalikan ingatan itu,Re akan berjuang mengumpulkan sedikit demi sedikit ingatan tentang Re yang hilang.”
Assisten Han nampak bersimpati dengan keteguhan hati Renata.Nyata nya apa yang terjadi membuatnya masih terus berdiri,ia justru pantang menyerah saat Fabian tak lagi mengingatnya,gadis itu tetap kuat.
__ADS_1
Renata dan Assisten Han bersamaan membalikkan tubuh saat pintu terbuka dan ternyata Evelyn dengan dua perawat pribadi masuk ke dalam kamar.
“Sudah hampir satu bulan kita berada di rumah sakit ini,aku merasa bosan apakah kau tak berniat untuk mengajakku berkeliling sayang.Aku dengar ada sebuah taman yang sengaja di buat untuk melepas kepenatan.”
“Baiklah ,lagipula aku juga butuh udara segar.Udara pagi hari di sini sepertinya sangat menyegarkan.”Fabian memiringkan tubuhnya,kakinya ia turunkan dari ranjang dan beranjak dari tempat tidur.Renata bergerak mendekati,berusaha ingin membantunya.
“Cukup!” Evelyn menghalau Renata yang berusaha ingin memapah Fabian,wanita itu berupaya menjauhkan Fabian dari jangkauan gadis OG.Kapan lagi ia bisa memiliki Fabian seutuhnya,seolah ini adalah kesempatan kedua yang di berikan oleh Tuhan untuk merubah keadaan.
“Keberadaanmu sudah tak di butuhkan lagi di sini.Sadarlah,apa kau ingin mempermalukan dirimu sendiri dengan selalu menempel pada orang asing yang sama sekali tidak mengenalimu.”
Renata menatap nanar Fabian,berharap pria itu membantunya menjawab semua perkataan Evelyn.Pria itu hanya melihat Renata dengan tatapan kosong,dingin.Ia kembali seperti Fabian yang dulu ia kenal.Fabian yang tak bisa menerima keberadaan orang asing,Fabian yang dingin,dan sombong.
“Berangkatlah bekerja,dan kurasa...” Fabian menarik nafas sekali,”Kau tak perlu lagi menemaniku berada di sini ,karena semua sudah di kerjakan oleh Han.Dan mungkin aku akan segera pulang.”
Renata mencoba tegar,ia menganggukkan kepala memaksa diri untuk mengerti dan mencoba untuk selalu mengerti walaupun itu sakit.Akhitnya kata-kata itu keluar dari mulut Fabian,sang pujaan hati.Kata-kata yang bermaksud mengusirnya,karena keberadaannya tak berpengaruh terhadap apapun didiri Fabian untuk sekarang.
Baik,aku akan mencoba mengerti keadaanmu terlebih dahulu.Aku ingin kau sembuh,tapi aku akan berjuang mengembalikan cintamu padaku yang telah hilang.
“Baik. Aku pergi ,jaga dirimu baik-baik.”
Ada gelenyar perasaan yang tak biasa di hati Fabian,perasaan yang tak enak saat melihat mata Renata.Tak bisa dipungkiri,hatinya ikut bergetar merasakan kesedihan dari wajah gadis itu.Ia melirik Assisten Han dari ekor matanya,Pria yang lebih muda darinya dua tahun itu sedang menundukkan kepala.
Aku tak tahu,mengapa aku juga merasakan kesedihan yang gadis itu rasakan.batin Assisten Han yang melihat Tuannya kembali bersama dengan mantannya.Han pun menghela nafas,dengan memutar bola matanya.
Hhachh!!!
***
Renata meninggalkan apartemen yang selama ini ia tinggali,sejak kepulangan Fabian lima hari yang lalu dari rumah sakit,ia terlebih dulu mengemasi beberapa bajunya dan memilih pergi untuk sementara.Ia ingin memberi waktu Fabian untuk menyendiri terlebih dulu,untuk memulihkan kondisi dan tubuhnya setelah satu bulan terbaring di rumah sakit.Ia tak mau memaksakan diri masuk ke dalam kehidupan Fabian yang sedang kehilangan ingatannya.
Gadis itu memilih tinggal di kontrakan kembali,dan masih di dekat area Apartemen Fabian.Renata tak ingin begitu saja melepas Fabian dari jangkauan matanya.Ia tak rela.
Untuk pertama kalinya Fabian kembali bekerja setelah istirahat panjang nya yang telah menyita banyak waktunya.Beberapa pekerjaan tertunda akibat kecelakaan itu.Tak banyak yang berubah,tubuh kekar nan athletis dengan balutan jas berwarna hitam,ia pun memakai dasi yang berwarna senada dengan setelan bajunya.Sepatu hitam yang mengkilap,semua masih tetap sama.Hanya satu yang orang tak tahu,ingatannya.Dan mungkin itupun tak berpengaruh bagi sebagian orang namun bagi Renata ini adalah ujian terberatnya saat ini,karena di antara banyak orang satu-satu nya nama yang menghilang hanya lah dirinya.Dan itu sungguh menyakitkan.
__ADS_1
Evelyn berjalan menuju pantry,seperti biasa ia kembali ke kehidupan normalnya.Retno dan Tika yang dari belakang hanya saling pandang.Setelah beberapa hari lalu Renata mencoba bercerita tentang apa yang terjadi dengan hubungannya dan Fabian.Retno dan Tika selalu berusaha menghibur tanpa harus membahas apa yang terjadi ,karena ia tahu itu pasti membuat Renata sedih.
Tiba-tiba Bu Lala masuk ke dalam pantry,dengan pandangan sinis dan tatapan tajam ia mencoba berbicara dengan Renata,membuat Retno dan Tika sadar diri untuk segera melanjutkan pekerjaannya.
“Mulai hari ini,pekerjaanmu sebagai OG saya pindahkan ke departemen Marketing.Pekerjaanmu akan di gantikan oleh pegawai baru.Dan semua keperluan dan kebutuhan Pak Fabian,semua sudah di alih tugaskan ke yang lain.Jadi kemasi beberapa barangmu,segera pergi ke departement Marketing untuk membersihkan ruangan di sana.!”
Perintah Bu Lala membuat Renata merasa geram,semua seolah sidah di atur dan di rencanakan sedemikian rupa.Saat Fabian sudah mulai aktif bekerja per hari ini,ia sengaja di jauhkan dari pria itu.Renata yakin ini semua ada kaitannya dengan Evelyn.
“Kenapa saya dipindahkan?”Renata mulai membalas dengan tatapan tajam ke arah Bu Lala.
“Apa semua ini adalah rencana Anda dan juga Bu Evelyn untuk menjauhkan saya dari Pak Fabian?”
“Kurasa kau tak bodoh,Kau sangat tahu akan hal itu.Jadi jangan buang-buang waktumu untuk sesuatu yang percuma.Kau hanya gadis miskin dan tak seharusnya bisa menggoda Pak Fabian.”
“Hhheh.”Rnata memberikan senyum smirknya ke arah Bu Lala.
“Ternyata Bu Evelyn tak setangguh yang Saya bayangkan.Ia sampai memutasi seseorang hanya karena takut kehilangan.Keberadaan Saya membuatnya cemas bukan,karena sebenarnya dia tahu suatu saat yang bukan miliknya akan kembali kepada yang Punya.Itu sebabnya dia menjauhkan Saya dari Pak Fabian!”
Bu Lala menipiskan bibirnya,ia tak menyangka nyali gadis itu tak sekecil perawakan tubuhnya.Ia berani melontarkan kata-kata pedas ke arahnya,yang justru membuatnya kehabisan kata-kata.Sepertinya Bu Evelyn akan mendapatkan lawan yang tangguh,karena dari sorot matanya Bu Lala bisa menilai bahwa Renata adalah gadis yang tak mudah menyerah begitu saya.
“Jika tidak ada yang di butuhkan lagi saya permisi.” Renata menundukkan kepala,dan pergi melangkah menuju pintu yang memang sengaja tak tertutup.Langkahnya pasti tanpa ada ketakutan sedikitpun.
Namun saat melewati pintu dan ingin berbelok,kepalanya terpental oleh dada bidang yang begitu ia rindukan.
Bughh
Renata terpental satu langkah ke belakang,dirinya mengusap pelan keningnya,kemudian mendongak ke atas.Matanya membulat ia bertemu kembali dengan Fabian,setelah beberapa hari ia merindukannya.
Fabian yang tetap tak bergeming,ia masih berdiri tegap di hadapan Renata dengan kedua tangan masuk ke dalam saku.Orang yang sama,namun dengan tatapan mata yang berbeda.
Renata menatap nanar ke arah Fabian,matanya menunjukkan ia menginginkan dan sedang membutuhkan pria itu saat ini.Tapi semua itu hanya mustahil,karena orang yang ia harapkan tak lagi mengingatnya.
Renata menggeser kan tubuhnya,memberi ruang untuk atasannya berjalan melewatinya.
__ADS_1
“Maaf Pak!” ucap Rnata menundukkan kepala sekaligus memberi salam.Dengan acuhnya Fabian pun berjalan tak mengindahkan gadis yang telah menabraknya.
Kenapa aku tak bisa marah pada gadis itu.Bahkan aku membiarkannya menubruk tubuhku begitu saja.walau tak sengaja.Ada sesuatu yang aneh tapi aku tak tahu itu apa.Gumam Fabian dalam hati yang teru berjalan meninggalkan Renata yang menurunkan bahunya seraya menghela nafas.