The Accidental Wedding

The Accidental Wedding
#Eps 35


__ADS_3

Renata berusaha memiringkan tubuhnya yang kini terasa berat,dengan perlahan ia berusaha membuka matanya yang sebenarnya masih mengantuk.Tangan kekar yang sangat lembut menyentuhnya telah melingkar erat di pinggangnya seolah tak mau melepaskan.


Ketika tangan Renata berusaha melepas pelukan,justru membuat Fabian makin mengeratkan.Dengan menggeliat,Fabian pun terbangun karena pergerakan Renata yang sedikit mengganggunya.Melihat Fabian yang tengah berusaha membuka matanya,Renata justru langsung memunggungi dan menenggelamkan seluruh tubuhnya dengan selimut.


Pergulatan semalam,nyatanya membuat Renata bingung harus berbuat apa.Dibalik selimut berulangkali ia hanya mengedipkan mata,berpikir mencari sesuatu yang bisa dipakai sebagai bahan obrolan ketika Fabian terbangun dari tidur.


Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lembut dan dingin menyentuh bahunya yang terbuka,ia berusaha menoleh dengan perlahan dan matanya seketika terbelalak menyaksikan Fabian tengah mencium bahunya.


“Kyaaaaaa!!!”teriak Renata reflek dengan mengayunkan tangan dan bahu seolah risih dengan perbuatan Fabian.


“Kenapa kau hobi sekali berteriak!Apa yang sedang kau teriakkan,he?!”ucap Fabian seketika menjauh dari tubuh Renata,dan menyandarkan punggungnya pada bahu kasur.


Dengan sedikit rasa takut ,Renata mengeluarkan kepalanya dari selimut sedangkan tubuhnya masih terbalut selimut sampai sebatas leher.


“Maaf.Hanya saja saya belum terbiasa.Saya hanya merasa geli.”jawab Renata lirih dan hampir tak terdengar oleh Fabian.


Fabian paham,gadis itu terlalu malu untuk sifat yang terbilang bar-bar untuk menerima segala sentuhan darinya.Ia pun tak mempermasalahkannya,karena itu hanya akan memperkeruh keadaan yang sudah membaik pada hubungan mereka.


“Cepat bersiaplah,sudah siang!mungkin jalanan sudah lengang karena hujan nampaknya sudah reda.”


“Baik.”jawab Renata singkat.Ia tak tahu harus menunjukkan wajah seperti apa di depan Fabian.Karena ia tak tahu kejadian semalam akan merubah hubungan mereka atau hanya pelampiasan sesaat bagi Fabian.


***


“Ahhh..Akhirnya sampai juga.” Ucap Renata dengan merentangkan tangan dan menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri begitu berada di dalam apartemen.


“Istirahatlah,,Aku akan pergi ke kantor sebentar.Setelah itu mari kita makan malam bersama.”Ajak Fabian yang berdiri di belakang Renata.


Renata menghentikan aktivitasnya,memalingkan wajah ke belakang dengan mata melotot.


“Aku pergi dulu.”sahut Fabian tanpa menunggu respon dari Renata ia mendekat dan mengecup bibir gadis itu,dan meninggalkannya dalam keadaan terdiam.


“Ada apa dengannya,apa ini semua mimpi?” ucap Renata yang mengusap perlahan bibirnya.Ia pun mencubit kedua pipi untuk meyakinkan apa yang terjadi.


“Auuwww...”Rintihnya kesakitan.


Ini bukan mimpi,ini nyata.Sikapnya seperti layaknya suami,adegan ini seperti di drama korea.Apakah ini berarti Dia sudah menerimaku sebagai istrinya,apa Dia sudah jatuh cinta padaku.Aaaah,,manis sekali.Batinnya kegirangan dan mengulas senyum lebar di bibir.

__ADS_1


Renata berusaha mencari beberapa resep masakan di internet,makan malam bersama dengan Fabian membuatnya terlalu bersemangat hingga semua masakan ingin ia coba namun nyatanya tak ada yang bisa.Akhirnya ia menemukan ide untuk menelepon Christian dan menanyakan resep masakan darinya.


Sambil mengapit ponsel antara telinga dan bahu,Renata memasak dengan instruksi Christian.Ia benar-benar berusaha agar Fabian bangga,karena ia tahu mungkin saat inilah Fabian bisa menerima kehadirannya.


“Beruntung sekali Fabian.” Ucap Christian dari sambungan ponsel.


“Kakak kan tahu mungkin sekarang Fabian sudah mau menerimaku.Kalau dulu mungkin karena paksan dari kakek,sekarang mungkin dia sudah mau membuka hatinya buat Re.”


“Apa kau yakin?!”


Mendengar pertanyaan Christian,sejenak Renata terdiam.Iapun masih takut jika harus berkata yakin secepat ini,toh selama ini Fabian tak pernah mengucapkan cinta atau bahkan mengungkapkan apa yang ada di hatinya.Yang ia tahu hanya lewat sentuhan-sentuhan lembut dari Fabian,tapi mungkin bagi sebagian wanita itu saja belum cukup.Bukankah semua harus ada kepastian,jika hanya dengan sentuhan saja toh semua lelaki punya nafsu, siapa yang tahu jika Renata hanya sebuah alat saja bagi Fabian.


"Baik,,setelah ini kita hias steak salmon di atas piring.” Renata berusaha mengalihkan pembicaraan,karena ia tahu semua perkataan Christian telah menggoyahkan pikirannya karena ia terlalu naif dan polos,ia percaya dengan apa yang ia rasa dan bukan apa yang ia dengar.


“Aku harap kau selalu bahagia.”


“Taaraaaa....akhirnya jadi juga kak, Salmon Norwegia Steak dengan saos barbeque dan ini Orange Misi soup nya,hhhmm,,aromanya saja segar.Lain kali kakak yang akan ku buatkan seperti ini,sepertinya aku sudah bisa buka restoran seperti kakak,hahahaha”


Renata berusaha menghibur diri dan pura-pura tak mendengarkan ucapan Christian yang seolah iba dengannya.


Dari tempat lain,Christian hanya tersenyum mendengar keceriaan gadis kecil yang diam-diam mencuri perhatiannya.Ia tahu,Renata berusaha untuk tidak mendengar kata-katanya,gadis itu sekuat tenaga menyembunyikan keraguannya sendiri.Renata tak punya kepercayaan diri untuk menerima kenyataan seandainya Fabian memang mencintainya.


“Terima kasih ,Kak.Kakak sudah Re anggap seperti kakak Re sendiri,jadi terima kasih buat semuanya.”


Dengan menelan sedikit kekecewaan,Christian pun dengan berat hati harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanya sebatas kakak di mata Renata.Namun,demi kebahagiaan gadis itu ia pun hanya memilih menjadi orang yang setia di belakang membantu Renata dalam keadaan sesulit apapun.


“Sama-sama.”jawab Christian,dan Renata pun mengakhiri panggilannya.Christian dengan lemas meletakan ponsel di meja,ia pun menangkup kasar wajahnya dengan kedua tangan, menghembuskan nafas,merasakan beratnya cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Di sisi lain,Renata dengan ceria mengatur beberapa makanan di atas meja.Ia pun membayangkan makan malam romantis ala-ala drakor yang menjadi tontonan favoritnya.Cukup membayangkannya saja,membuat pipinya memerah dan tersenyum bahagia dan mampu membuatnya mabuk kepayang.Sungguh ia benar-benar jatuh cinta.


Fabian tampak membolak-balikkan beberapa document di atas meja kerjanya,setengah hari ia tak ada benar-benar membuatnya sibuk.Keputusan yang tepat,ia kembali ke kantor,itu pikirnya.Dengan menyandarkan punggung ke bahu kursi kerja,Fabian merenggangkan otot-otot di tubuhnya,menekan pelipis berusaha mengurangi pening di kepala.


Matanya melotot,ketika pintu ruangan terbuka dan sosok wanita anggun nan cantik masuk ke dalam ruangannya.


“Evelyn?”


“Hai ..Sayang.”panggil Evelyn mendekat ke tempat duduk Fabian,dan berdiri di depan Fabian dengan menyandarkan tubuhnya pada meja kerja Fabian.

__ADS_1


“Apa yang sedang kau lakukan di sini?”


“Aku sudah kembali,apa kau tidak menyukainya?”Jawab Evelyn melempar senyum dan merentangkan tangan berusaha menyadarkan Fabian akan kehadirannya.


“Peragaan busanaku di Paris sukses menarik banyak perhatian dunia,apalagi mereka tahu aku adalah pacarmu.Mereka mengagumi karya-karyaku.Terima kasih sayang,semua berkat dirimu yang selalu membantuku.”


“Tapi kita sudah putus.”Fabian kembali mengingat kan kejadian beberapa bulan saat ia menyusul Evelyn ke Paris.Ia pun tak bisa memungkiri,di hatinya memang masih ada sosok Evelyn.Bagi laki-laki seperti Fabian tak mudah melupakan cinta pertama dan hubungan yang terjalin selama 5 tahun,menghapus semua kenangan yang terukir bersama.


Evelyn beralih duduk di pinggir kursi kerja Fabian,menyandarkan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Fabian,ia pun bersikap manja.


“Maafkan aku.Aku tak bersungguh-sungguh mengatakannya,kau pasti tahu 5 tahun bersamamu tidak akan mampu menghapus semua kenangan kita,sayang.”


Fabian terdiam,semua yang diucapkan Evelyn mungkin benar.Ia tampak bimbang,dan hatinya gamang tak tahu dengan apa yang ia rasakan dan inginkan.Evelyn kembali dengan semua kenangan-kenangan yang sudah lama menghiasi hari-harinya.Sedangkan Renata yang hanya beberapa bulan ia kenal,juga mampu menggoyahkan hatinya.


Apakah lamanya sebuah hubungan tak ada artinya,jika takdir sudah berkata lain.Bukankah kita tak pernah tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita di masa depan,mengapa hati Fabian masih saja galau memikirkannya,siapa sebenarnya tambatan hatinya.Evelyn atau Renata.


“Ahh..Sudahlah.Hari ini pasti sangat melelahkan bagimu.Bersiaplah! Aku akan mentraktirmu makan malam.”


Tanpa menunggu jawaban, Evelyn merapikan beberapa document yang berantakan.Ia mengambil jas yang bersarang di bahu kursi kerja,dan memakaikannya ke tubuh Fabian.


“Ayo.”Ajaknya bersemangat dan menggandeng tangan Fabian untuk segera keluar dari ruangan.


Evelyn memilih mendatangi sebuah restoran mewah yang tentunya sudah ia pastikan pemiliknya,yah Christian.Evelyn sengaja datang ke restoran itu,ia hanya ingin menunjukkan pada Christian bahwa di hatinya hanya ada Fabian seorang.Dan ia sudah tak mempedulikan yang lainnya.


Christian berkeliling menyapa beberapa pelanggan setia restoran.Langkahnya terhenti,saat menangkap kebersamaan antara Fabian dan Evelyn.Matanya menyipit mencoba meneliti kedekatan mereka,dan akhirnya iapun berjalan ke arah mereka.


“Bukankah kalian sudah putus?Apa yang kalian lakukan di sini.” Tanya Christian melipat kedua tangannya di dada,bukan karena cemburu dengan mereka.Pikiran Christian melayang pada sosok Renata yang nantinya adalah pihak yang sangat terluka.


“Putus apanya.Kita baik-baik saja,wajar jika ada pertengkaran kecil dalam hubungan.”


sahut Evelyn.


Fabian hanya menipiskan bibirnya,berusaha tetap tenang.Lagi-lagi logikanya mengatakan semua ucapan Evelyn memang benar, kini ia benar-benar terlena sampai ia melupakan janji nya dengan Renata.


Christian menganggukkan kepala,mencoba memahami situasi yang terjadi.


“Ku harap kau tak menyesal.” Ucap Christian mengarah ke Fabian,iapun melangkah meninggalkan mereka berdua.Memilih menjauh dan mencari tempat untuk menghubungi Renata dan menghiburnya,karena mungkin saat ini tengah kecewa atau sedang mengharapkan sesuatu yang tak nyata.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2