
“Apa kau baik-baik saja?”tanya Christian lewat panggilan ponsel yang baru saja terhubung dengan Renata di seberang sana.
Renata melirik jam dinding di depannya,pukul setengah sembilan malam.Dengan tertunduk dan sedikit rasa kecewa ia menatap semua masakan yang telah ia buat dengan tatapan sendu.Christian seolah tahu dengan semua yang ia rasakan saat ini.Tapi untuk berkata jujur jika ia sedang tidak baik, itu akan menurunkan harga dirinya.Apalagi dengan antusias ia telah menceritakan perubahan sikap Fabian yang banyak berubah menurutnya tapi ternyata hanya angan-angan saja,dan hal itu membuatnya malu di depan Christian.
“Apa maksud Kakak?Tentu saja aku baik-baik saja.Malah sekarang Kakak sedang mengganggu makan malam ku dengan Pak Fabian.”ucap Renata dengan nada yang pura-pura bahagia.Mendengar ucapan Renata yang seolah menutupi semuanya,mata Christian tertuju pada dua sosok yang sedang menikmati kebersamaannya.
“Kak,Re tutup ya?Nggak enak sama Pak Fabian,takut dia marah.Bye.” Renata mengakhiri panggilan tersebut,dan mendekap ponsel di depan dadanya.Ia menghembuskan nafas,seoah kebohongan yang ia buat membuatnya sulit bernafas.Ia kembali melihat semua makanan di meja dengan berpangku tangan.
“Hhheh,, untuk memasak semua ini aku harus mengambil uang tabunganku.Tega sekali Kau!!! Siapa yang akan memakannya,sementara nafsu makanku hilang setelah tabunganku terkuras karena membeli bahan makanan ini.Ck!!”Umpat Renata menaikkan ujung bibir,mengumpat melampiaskan kekecewaannya.Namun pandangannya teralih,saat bunyi pesan masuk ke ponselnya,dan ia membuka layar kunci ketika ia tahu Christian mengirim sesuatu.
📩Christian : “Maaf.”
Mata Renata seketika melotot dan jantungnya berdetak kencang,sedangkan hatinya seperti terbakar.Bukan karena Christian,bukan pula kata maaf dari mulutnya.Tapi,tentang sebuah foto yang Christian kirim melalui pesan WhatsApp.
Tanpa berniat membalas chat dari Christian,tubuh Renata bak tanpa tulang.Ia terkulai lemas,hatinya sakit melihat kebersamaan Fabian dan Evelyn.Dengan besar kepala ia telah menganggap Fabian sudah bisa menerimanya,dengan bangga ia pun bilang baik-baik saja.Lalu apa, ia justru membohongi Christian yang mengetahui segalanya,dan kini Renata merasa benar-benar bodoh.
Tanpa menghiraukan makanan di atas meja,Renata berjalan menyusuri anak tangga satu demi satu.Air matanya seolah tertahan di pelupuk mata,ia mencoba menahannya.Renata pun mengatur nafas menahan kesakitannya.Ia tak pernah membayangkan ternyata mencintai seseorang bisa sesakit ini.Jika akhirnya akan seperti ini,ia tak ingin menjatuhkan diri lebih dalam lagi.Namun siapa yang tahu,pada siapa hati kita akan berlabuh dan menentukan takdirnya kalaupun bisa ia hanya ingin sosok pemuda biasa yang mencintainya sosok pangeran berkuda putih yang ia dambakan,tapi ia sadar itu hanya sebuah cerita di masa kecilnya.
Pukul sepuluh malam Fabian baru tiba di apartemen.Ia memasuki ruangan yang beberapa lampu telah Renata matikan,tampak sunyi.Ia pun melangkah menuju dapur,mencari air dingin.Saat ingin menenggak air,matanya menangkap sesuatu di atas meja makan.Ia pun mendekat dan menyalakan lampu.Betapa terkejutnya ia melihat beberapa masakan tertata apik yang sengaja di buat Renata untuknya.Ia menangkup wajah dengan kedua tangan,mengusapnya kasar.Ia melupakan janji makan malam bersama Renata karena terlalu fokus dengan beberapa pekerjaan yang tertunda.Di tambah kehadiran Evelyn yang sengaja menahannya.
Fabian memasuki perlahan kamarnya,duduk di tepi ranjang dan menghadap pada tubuh yang memunggunginya.Selimut tebal berhasil menjadi tameng bagi Renata untuk menutupi semua kesedihan dan isak tangisnya saat ini.
“Apa kau sudah tidur?”Tanya Fabian dengan nada pelan,namun Renata terdiam.Biarkan Fabian menyangka dia sudah tidur karena malam ini Renata benar-benar tak mempunyai tenaga untuk menghadapi Fabian.Yang ia bisa hanya menangis menghadapi perasaan yang sangat menyedihkan.
Fabian tak melanjutkan perkataannya begitu ia tahu tak ada jawaban dari Renata.Ia pun melangkah ke kamar mandi ,segera membersihkan badan dan bergegas tidur karena rasa lelah hari ini.
Bahkan ucapan maaf pun tak keluar dari mulutmu.Apa sebenarnya aku di matamu,hhech..bukan..bukan kau yang salah,ini semua salahku!Aku yang terlalu percaya diri,yang telah menganggap semua sikap manis mu adalah rasa cintamu kepadaku.Dan kini aku sadar aku salah,aku tidak tahu diri.Harusnya aku sadar,siapa aku dan dimana posisiku yang sebenarnya.Yang ternyata bukan di sini,bukan di sampingmu,bukan pula di hatimu.Hiks..hiks..selamanya hatimu hanya untuk wanita itu.
Renata terisak di balik selimut tebal saat Fabian berada di kamar mandi.Untuk malam ini saja ia hanya ingin mengeluarkan semua yang menyesakkan dadanya,ingin menangis sepuasnya agar ia merasa lega.
***
Pagi ini memang Renata berangkat lebih pagi dari biasanya.Ia sengaja tak membangunkan Fabian yang masih terlelap dalam tidur.Ia belum siap menghadapi bosnya dengan keadaan kacau dengan mata sembab.
__ADS_1
Makanan di meja yang telah ia siapkan semalam,ia bawa untuk ia bagikan ke kedua sahabatnya.Setelah membereskan semuanya,apartement terlihat bersih dan rapi ia pun berangkat bekerja,danmelupakan masalah semalam.
Renata memasukkan tas ke dalam loker dengan wajah lesu dan sayu.Matanya pun terlihat sembab dan bengkak,menyisakan tanda bahwa ia menangis semalaman.
Retno dan Tika yang sudah datang duluan, mengernyitkan dahi melihat penampilan Renata yang kurang bersemangat.
“Ada apa Re?”Tanya Retno membingkai wajah Renata dengan kedua tangannya.Renata hanya menipiskan bibir dan tersenyum.
“Apa yang terjadi,apa kau ada masalah.Ceritakan ke kami,siapa tahu kita bisa membantu.”
“Tampaknya wajahmu pucat hari ini,apa kau sakit?”
“Aku baik-baik saja,kalian tidak usah khawatir.” Jawab Renata berbohong.
“Tapi hari ini kau tak seceria biasanya.”Ucap Tika yang berhasil menghentikan langkah Renata yang ingin meninggalkan pantry.
“Lagi PMS.”jawabnya dengan tangan kanan di samping mulut mencoba berbisik pada kedua sahabatnya dengan senyuman dan kemudian meninggalkan mereka yang mematung melihat punggung gadis itu yang lama kelamaan menghilang.
Fabian duduk di kursi kerjanya sebelum memulai aktivitas, ia menyandarkan punggungnya pada bahu kursi kerjanya.Kepalanya mendongak,pikirannya melayang berputar -putar dan semua tentang Renata.Tentang Renata yang pagi-pagi sudah tak ada di kamar,tentang Renata yang mungkin pagi buta telah membereskan tiap sudut apartemen nya dan membersihkan semua makanan semalam.Dan kini ,gadis itupun telah menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjanya,sebelum ia bisa melihatnya.
Apakah ia sengaja menghindari ku,batin Fabian.
Kehadiran Asisten Han pun berhasil melenyapkan semua pikiran tentang Renata,Ia pun kembali disibukkan dengan pekerjaannya.
“Re..!!” panggil Retno berlari mendekati Renata yang tengah menyiapkan keperluan logistik untuk para dewan direksi di ruang meeting.Retno mengatur nafas,dan mengumpulkan suaranya untuk kembali bicara.
“Hh..h.Di..dipanggil Bu Lala”
Renata mengernyitkan dahi,
“Ada apa?”
“Kurang tahu,tapi dari pagi beliau mengecek daftar absen karyawan OG.”
__ADS_1
Mulut Renata menganga,pasti ini semua ada hubungannya dengan absensinya yang terbilang buruk.
Dengan menggunakan lift,Renata turun ke kantor kepala OG yang berada di lantai 3.
Setelah ada jawaban dari dalam ruangan,Renata memasuki ruang kerja Bu Lala.
“Apakah Ibu memanggil saya?”
“Hmm.” Jawab Bu Lala dingin tanpa melihat ke arah Renata yang berdiri tepat di depan meja kerjanya.Pandangannya ke arah sebuah document yang berisi daftar absensi.
“ Kamu anak baru di bagian OG,dan Saya melihat absensimu begitu buruk.Datang terlambat,ijin setengah hari dan beberapa kali ijin tidak masuk.Kau pikir ini Perusahaan nenek moyang kamu!”
“Maaf Bu..” jawab Re lirih dan menundukkan wajahnya.
“Saya tidak suka mempunyai bawahan yang tidak disiplin, setiap 6 bulan sekali kepala HRD akan mengevaluasi setiap karyawan.Saya tidak mau hanya karena namamu,semua terkena dampaknya.Kau paham!! Dan jangan bersikap semau mu sendiri,saya masih memantau kinerja mu sebagai anak baru.Mengerti!!”
“Mengerti Bu.”
Bu Lala pun menyuruh Renata keluar dari ruangan dengan tegas.Renata menutup pintu,dan berdiri mematung,menghembuskan nafas.
Ke mana keberaniannya selama ini,kenapa hanya bentakan seperti itu membuat nyalinya ciut.Memang,hari ini ia tidak sedang baik-baik saja.
Sudah hampir jam makan siang,Renatapun memutuskan kembali ke pantry.Menghabiskan bekal makan siangnya bersama dengan kedua sahabatnya.
“Aku hanya cukup melupakan kejadian-kejadian yang tak mengenakkan.Dengan begitu hatiku tak akan merasa sakit.Hhm ..!! Aku harus lebih semangat.Nggak boleh patah begitu saja.” Celoteh Renata komat kamit menunggu di depan lift.
Tiing
Akhirnya pintu lift pun terbuka,
Degg
Tbc
__ADS_1