
Hari berganti senja,para pegawai sudah mulai mengemasi barang-barang dan bersiap untuk pulang.Sementara Renata,masih duduk terdiam dan melamun.Melihat tingkah aneh dari temannya,Retnopun mendekat dan menepuk bahu Renata.
“Wooiii...nggak pulang?Malah melamun aja,mau nginep di sini?”
Renata tersentak kaget dan melihat Retno sudah duduk di sampingnya.
“Hee..ntar mba ,masih betah.”jawab Renata nyengir.Retno menaikkan alis,merasa heran dengan sikap Renata,karena biasanya jika sudah mau jam pulang dia paling cepat berkemas.
“Tidak sedang nunggu seseorang kan?”Goda Retno menyenggol lengan Renata.
“Aahh..Apaan sih mbak Retno.Nggak ada,lagian mau nungguin siapa coba.Udah mbak pulang duluan aja.Keburu malam lho.”
“Oke deh kalau ga mau ngaku.Aku duluan ya.” Retno mulai beranjak dan pergi meninggalkan Renata.Gadis itu sedang termenung,dengan berpangku tangan ia menatap ponsel yang ia taruh di atas meja.
“Haruskah aku mengirim pesan duluan.” Ucapnya pada diri sendiri,ia mencoba mengambil ponsel.Namun ketika mau mengetik,Renata kembali berpikir.
“Tapi bagaimana kalau dia menganggap aku terlalu agresif ?”Ia kembali menaruh ponsel di atas meja,ia pun memutuskan untuk menunggu kabar dari Fabian.
“Apa Dia masih sibuk,,hhheh.”Renata menghembuskan nafasnya,hampir tiga puluh menit ia berada di pantry dan menunggu Fabian untuk pulang bersama.
“Apa semua itu mimpi,” Renata menepuk kedua pipinya,meyakinkan bahwa semua bukan hayalannya saja.
“Atau ..Dia kembali berbohong?”
Braag
Renata beranjak berdiri dengan menggebrak meja,ia pun melangkah membalikkan badan.
Bugg
Renata menubruk dada bidang di depannya,wangi parfum maskulin yang sangat ia kenal.Wangi yang selalu mendamaikan hati dan membuatnya mabuk kepayang.Renata mulai mendongakkan wajahnya,dan kini pandangan Renata bertemu dengan wajah Fabian nan tampan.
“Kenapa kamu menggebrak meja?”
“Eh..Tidak.Tidak ada.”jawabnya singkat dengan senyum yang dipaksakan.
“Ayo kita pulang!” ajak Fabian membalikkan badan dan melangkah mendului Renata.Mereka berjalan menuju loby utama,dan Renata hanya mengikuti Fabian dari belakang agar tak menimbulkan kecurigaan walaupun para pegawai terlihat sudah meninggalkan perusahaan.
Mobil mewah berhenti di depan loby,nampak assisten Han keluar dari balik mobil seraya memberi hormat.Sedangkan Fabian mengambil alih mobil,dan duduk di depan.Renata tampak terdiam dan mematung,
“ Apa kau akan terus berdiri di situ?”tanya Fabian dari dalam saat kaca mobil ia turunkan.Renata pun gelagapan,pandangannya justru ke asstisten Han
“Apa anda tidak ikut ,Pak Han?”tanya Renata sebelum masuk ke dalam mobil.Assisten Han hanya tersenyum melihat tingkah polos istri bosnya.
__ADS_1
“Silahkan masuk nyonya,Pak Fabian nampaknya sudah tak sabar.”
Mereka pun meninggalkan assisten Han,dan mobil melaju dengan kencang.Di dalam mobil,entah mengapa suasana menjadi canggung.Sedari tadi Renata hanya memainkan kedua ibu jarinya,sesekali ia pun mengalihkan pandangan keluar jendela.
“Apa kau lapar?”
“Tidak!”jawab Renata spontan,namun pada akhirnya suara perutnya tak bisa berbohong.Renata tampak menundukkan kepala merasa malu.
“Aku akan mengajakmu ke restoran paling enak.”
“ Tidak!! Maksudku aku tidak suka ke tempat seperti itu selain harganya yang mahal sepertinya lidahku juga kurang cocok dengan makanan seperti itu.”
“Lalu kau mau makan apa?”ucap Fabian mengalihkan pandangan ke arah Renata,dan seketika tangannya menyentuh tangan kanan Renata.
Oh Tuhan,baru seperti ini saja membuatku sesak nafas.Hufft...sepertinya jika dia seperti ini aku akan kehabisan oksigen.
“Apa kau baik-baik saja?” pandangan Fabian kembali beralih ke arah Renata,dilihatnya gadis itu seperti orang kesusahan bernafas.Punggung tangannya pun menyentuh kening Renata.
“Aku..aku baik-baik saja.Setelah pertigaan itu kita belok ke kanan,kita makan di daerah situ saja.”
“Baiklah.” Jawab Fabian menganggukkan kepala.
***
“Apa makanan seperti itu yang cocok di lidah mu?” tanya Fabian geram melirik tempat yang di jadikan tempat makan malam pertama bagi mereka.Sebuah angkringan sederhana di pinggir danau buatan,serta di suguhi beberapa pohon rindang dan beberapa tanaman yang tampak terawat.
Disana tampak beberapa orang dengan duduk beralas tikar sedang menyantap makanan.Fabian yang belum pernah melihat,merasa geli apalagi harus melakukan hal yang di luar kebiasaannya.Pemimpin Global King,harus bersama dengan orang-orang menyantap makanan dengan duduk beralas tikar.Fabian berpikir dua kali untuk mengikuti kemauan Renata.
“Ayo Pak.”
“Apa kau yakin,makanan di sana layak di makan dan higienis?”
“Sangat yakin Pak.Lihat banyak orang yang rela mengantri hanya ingin membeli dan makan di sana.Mereka juga tampak baik-baik saja.”
Fabian kembali berpikir,pandangannya kembali ke arah sebuah angkringan dengan beberapa orang yang rela mengantri di sana.
“Kalau Bapak tidak mau,ya sudah kita pulang saja.Saya juga sudah nggak nafsu makan lagi.”
“Oke.Baik ayo kita makan di sana”jawab Fabian ,iapun melepas safety belt.Mereka keluar dari balik mobil,dengan sigap Fabian menggenggam tangan Renata.Gadis itu tersenyum bahagia,mereka berjalan layaknya sepasang kekasih.
Renata mulai memesan beberapa makanan,sedangkan Fabian tampak canggung berdiri beberapa langkah dari angkringan.Kedua tangannya berada di dalam saku,pandangannya meneliti ke setiap arah tempat itu.
“Mari Pak,kita makan di sana saja.”Ajak Renata yang kesusahan membawa nampan berisi beberapa makanan beserta teh manis hangat untuk mereka.
__ADS_1
“Sini biar aku yang bawa.”sahut Fabian mengambil alih nampan di tangan Renata,saat melihat gadis itu tampak kesusahan.
Ouuwww.. so sweet sekali dia.batin Renata kembali mengulas senyum ke arah Fabian
Mereka pun duduk di atas tikar dengan pemandangan di depan nya sebuah danau di lengkapi dengan beberapa tanaman.
Fabian belum juga menyantap makanan di depannya,ia hanya melihat Renata yang dengan lahap memakan satu per satu makanan yang ia pesan.
“Bapak ,tidak makan?”Renata menghentikan aktivitasnya saat melihat Fabian belum juga makan.
“Tidak ada sendok,tidak ada garpu atau pisau gitu?”
Mendengar perkataan Fabian,gelak tawa Renata pecah.Ia menahan perutnya karena tingkah aneh dan lucu dari bosnya.
“Bisakah kau hentikan tawamu!?”
“Hukk..uhuk..b..baiklah.Tapi Pak,makan di angkringan seperti ini paling enak makan dengan tangan,tidak pakai sendok,tidak pakai garpu atau pun pisau.Kita hanya makan seperti ini ,hap! Ehhm ..yummy.Enak itu sederhana kok Pak,tidak perlu mahal tidak perlu mewah.hehe” ucap Renata mempraktekkan cara makan di tempat angkringan di depan Fabian.Dan dengan terpaksa,Fabian pun mengikut tata cara Renata makan dengan menggunakan tangannya.
“Pak cobain ini deh.”Renata menyodorkan semangkuk berisi ceker pedas ke arah Fabian.
“Apa itu?!”tanya Fabian mengernyitkan dahi nya,melihat sesuatu yang sedikit aneh baginya.
“Ini ceker mercon,Pak”Renata mengambil satu ceker dan memperlihatkannya ke arah Fabian.Lelaki itu tampak masih heran dengan ucapan Renata.
“Ceker?!”tanyanya ambigu.Karena tak pernah ia sekali pun tahu nama itu.
“Ceker!!” Renata membelalakkan mata,tangannya masih mengayunkan ceker yang ia pegang.
“Ceker itu kaki ayam,apa Bapak tak pernah memakannya?”
“Kaki ayam?!!” Fabian tak kalah terkejut,hanya bersama Renata ia selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tak terduga seperti saat ini.
“Untuk apa aku harus memakan kaki ayam,jika ada dagingnya yang jauh lebih enak.”ucapnya dengan sedikit meninggikan suara.Renata menaikan ujung bibirnya mendengar kesombongan Fabian.
“Ak..buka mulutnya.” Kata Renata membuka mulut mengajak Fabian agar mengikutinya membuka mulut.Fabian memalingkan wajahnya ke arah lain,melihat sikapnya Renatapun mempunyai sebuah ide.
Cup
Tiba-tiba Renata mencium pipi Fabian,hingga pandangan Fabian beralih melihat Renata yang langsung mengulas senyum di ddepannyaFabian terdiam dan kaget dengan sikap Renata yang mengambil inisiatif untuk mencium pipinya,sebuah Ceker mercon lolos kedalam mulutnya dengan bantuan tangan Renata.
“Cobain dulu”kata Renata penuh kemenangan melihat satu ceker sudah berhasil masuk ke dalam mulut Fabian,dengan perlahan Fabian pun mengunyahnya.
“Hwaaah...ini pedes ..haahh kamu ngerjain saya!” Ucap Fabian dengan wajah merah karena kepedasan,dan Renata pun tertawa lepas.Dengan menahan rasa pedas,Fabian menarik kepala Renata ke dalam dadanya.Ia merasa geram dengan sikap gadis yang dulu pernah ia benci,sekarang hanya seperti ini saja ia sudah merasa gemas dan ingin memeluknya.Mereka pun akhirnya menikmati makan malam yang romantis dengan cara yang tak biasa.Dan ini pertama kalinya bagi Fabian,semua ia lakukan hanya untuk Renata.Sedikit berkorban dan menurunkan harga dirinya.
__ADS_1
Tbc