The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 1 Chapter 40 : Tingkatan penyihir


__ADS_3

Luciel dan yang lainnya telah keluar dari area pertambangan dan sedang menunggu perahu transportasi yang akan mengarah ke jembatan. Mereka beristirahat di pinggiran sungai dan mulai berbincang – bincang.


“Jadi, kita bakal cuman dapet setengah bayaran aja setelah apa yang kita lalui!?” Protes Alan.


“Kurasa tidak, kita membawa beberapa kuping Lycanthrope dan Talisman mereka yang bisa dijual 1 ral per Talisman,” ucap Serlina yang memperlihatkan sebuah kantung.


“Jadi kemungkinan uang yang masing – masing kita dapatkan sekitar 8 ral untuk hari ini,” jelas Serlina.


Beberapa saat kemudian mereka melihat sebuah perahu yang akan lewat dan menaikinya. Luciel lalu berbincang – bincang dengan Serlina mengenai menara Sihir dan penyihir.


“Jadi penyihir juga memiliki tingkatan – tingkatan?” tanya Luciel.


“Ya, terdapat 7 tingkatan seorang penyihir. Aku sendiri berada di tingkatan ke 6,yaitu Pseduo Mage dan bisa memakai beberapa sihir Dasar level 2,” jawab Serlina.


Serlina lalu menjelaskan tentang beberapa tingkatan penyihir kepada Luciel.



Grand Mage


Archmage ( mampu menguasai sihir tingkat Extreme 9 dan 10 )


Senior Mage ( mampu menguasai sihir tingkat Atas level 7 dan 8 )


Mage ( mampu menguasai sihir tingkat menengah Lvl 5 dan 6 )


Apprentince mage ( mampu menguasai sihir tingkat Awal level 4 )


Pseduo Mage ( mampu menguasai sihir tingkat Awal level 2-3 )


Beginner ( mampu menguasai sihir tingkat Dasar level 0 -1 )



...Author Note : untuk Grand Mage akan di jelaskan nanti ya....


2 jam kemudian mereka telah sampai di jembatan Rhine lalu pergi menuju Guild Hunter untuk melaporkan Quest mereka.


.


.


.


Di suatu tempat di perbatasan Kerajaan Bavaria dan Kekaisaran Suci Isenburg. Beberapa rombongan ksatria sedang beristirahat di dekat sebuah sungai.

__ADS_1


“ Master, mengapa Anda tidak menggunakan sebuah artifak teleportasi saja dan repot – repot harus melakukan perjalanan sejauh ini?” tanya seorang ksatria muda.


“ Betrand, artifak Teleportasi hanya digunakan untuk keadaan paling darurat saja dan akan menarik banyak perhatian jika aku datang ke Istana Kerajaan dengan cara seperti itu,” jawab Camillus.


“ Mata – mata Devil Cult berada dimana – mana kau tahu dan beberapa hari ini pergerakan mereka mengindikasikan sedang melakukan operasi yang besar,” lanjutnya.


“ Memangnya bagaimana pengalaman Anda dulu ketika menangani sebuah Konjungsi 30 tahun lalu?” tanya Betrand.


“Sangat kacau,” jawab Camillus.” Puluhan ribu orang mati, ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan bahkan Keturunan salah satu pahlawan menjadi habis di karenakan mati ketika melawan salah satu iblis level 6 dan pusaka tombak sucinya hilang entah kemana,” jelas Camillus.


Keturunan salah satu pahlawan yang habis saja sudah menjadi kehilangan yang cukup besar bagi umat manusia, di tambah senjata suci peninggalannya pun ikut hilang menjadi sebuah malapetaka bagi umat manusia.


“ Aku sudah berususan dengan iblis selama 47 tahun Betrand, dan aku tahu mereka sedang merencakan sesuatu kali ini.”


.


.


.


Menara sihir Saxon, Aula besar.


“ Sebelum kalian naik menjadi penyihir tingkat 4 yang mana menjadi syarat kelulusan untuk menjadi seorang penyihir resmi menara sihir, kalian harus melakukan sebuah tugas magang selama 1 tahun,” ucap seorang Archmage. “ Baik itu menjadi asisten penyihir senior, maupun menjadi seorang hunter dan terjun di peperangan. Kaliah harus mempraktekan kemampuan kalian di kehidupan nyata,” lanjutnya.


“ Hey Adel, kau ingin melakukan magang dimana?” tanya seorang siswa kepada seorang siswi.


“Ayahku tidak memperbolehkan ku menuju medan perang dan menjadi seorang asisten nampaknya akan sangat membosankan,” jawab siswi tersebut.


“Jadi kau akan menjadi seorang hunter?”


“ Tentu saja,” jawab siswi tersebut. “ Dengan statusku sebagai siswi menara sihir, setidaknya Guild akan memberiku setidaknya Rank Cooper secara langsung,” jelasnya.


“ Bagaimana denganmu Max?” Tanya siswi tersebut.


“Aku ingin mencoba menjadi asisten seorang Archmage jika eksperimenku berhasil menarik perhatian salah satu dari mereka,” jawab siswa tersebut.


Mereka berdua merupakan siswa dan siswi kehormatan Menara Sihir Saxon 3 tahun lalu, yang mana mereka masuki ketika masih berumur 10 tahun. Karena bakat mereka, petinggi menara mengundang mereka untuk masuk menjadi siswa dan siswi di menara sihir tersebut.


Mereka telah menjadi teman sejak dari kecil dan selalu belajar sihir bersama. Namun kali ini mereka akan berpisah ke jalan mereka masing – masing untuk sementara waktu.


Mereka berdua juga merupakan salah satu anak muda yang berpotensi menjadi seorang Archmage di Kerajaan Bavaria.


“Baiklah, semoga berhasil dengan jalanmu dan ingat janji kita dahulu okay,” ucap siswi tersebut.


“Ummm, kita berdua akan menjadi seorang Archmage dan bertarung untuk menjadi Grand Magus Kerajaan,” balas siswa tersebut.

__ADS_1


***********


Liz POV


“Jadi begitukah, Anda mempunyai banyak sekali kisah menarik ketika menjadi seorang ksatria,” ucap Liz.


“Jangan panggil aku seperti itu, mulai sekarang panggil aku Master,” ujar Rolf.


“ Siap Master,” jawab Liz dengan penuh semangat.


Melihat Liz yang sangat antusias, Rolf pun tersenyum melankolis. Liz yang melihatnya pun sedikit bingung.


Hari mulai malam, mereka sudah menghabiskan cukup lama beristirahat menunggu Rolf sedikit pulih.


“ Baiklah, kurasa aku sudah agak baikan. Kita harus kembali ke kota kurasa,” ucap Rolf.


“Ahhh! Tidak!” Liz lalu tiba – tiba berdiri berteriak.


Melihat Liz yang sikapya menjadi aneh, Rolf lalu bertanya.


“ Ada apa?”


*************


Di dalam Guild Hunter.


Sekembalinya Luciel dan yang lainnya dari pertambangan munichea, mereka lalu melakukan makan – makan. Sedangkan Luciel dan Alan melakukan kontes minum bir berlomba siapa yang akan tahan lebih lama. Setelah 10 gelas, Alan tumbang dan mulai mengucapkan kata – kata aneh yang membuat Serlina dan Paul harus membawanya pulang.


Luciel pada saat itu bilang akan berada di Guild untuk sementara waktu. Namun malam sudah tiba dan Luciel masih belum melihat sosok Liz.


“ Hey, Kami akan tutup. Kau sudah di sini beberapa jam hanya duduk saja kau tahu,” ucap seorang Guild Master.


“ Apa Anda yakin semua Hunter yang melakukan Quest pembasmian telah selesai?” Tanya Luciel.


“ Aku sudah bilang berapa kali, mereka sudah beres dari siang tadi. Sekarang pergi atau aku harus menendangmu keluar sekarang?” jawab Guild Master tersebut.


Luciel menunggu Liz karena mereka sudah berjanji akan makan malam bareng ketika sudah menyelesaikan Quest masing – masing.


‘Jika Liz dalam bahaya maka pasti dia akan mengaktifkan artifaknya’ pikir Luciel. Bahkan dia telah menanyai para mentor tim Alan dan mereka mengatakan Liz ingin latihan terlebih dahulu sebelum pulang.


‘Mungkinkah dia lupa?Mungkinkah dia pikir bersamaku hanya membuang – buang waktunya?Mungkinkah dia menghabiskan waktu dengan pria lain yang lebih kuat?’ Pikiran Luciel menjadi amburadul.


‘Aku terlalu dalam memikirkannya kurasa’ Pikir Luciel. ( Faktanya si Liz emang lagi sama pria lain. )


Luciel pun kembali ke penginapannya dengan suasana hati yang suram.

__ADS_1


__ADS_2