The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 1 Chapter 4 : Hasil seleksi


__ADS_3

[ Kota Freidburg, Tahun 735 Bulan 5 hari ke 15 ]


Siang harinya, Luciel sedang mengantarkan beberapa pesanan pedang yang di minta oleh pasukan Patrol Kota yang terletak dekat alun – alun Kota. Luciel lalu memasuki gedung yang memiliki 3 lantai yang ada di depannya.


Luciel kemudian melihat beberapa petugas sedang mengobrol dengan salah satu pendeta dan keduanya terlihat kebingungan. Luciel melihat seorang pasukan patrol keluar dari sebuah ruangan.


“Ah Luciel, mau mengantarkan barang pesanan?” tanya seorang Pria yang Luciel kenal.


“Ya Lando, apakah pak tua Angus sedang ada di gudang?” balas Luciel.


“Kebetulan aku juga sedang ada perlu dengannya, ikutlah aku,” ucap Lando


Lando adalah seorang Ajudan Wachtmeister dan sering berinteraksi dengan Luciel ketika pasukan patrol memesan beberapa barang yang spesifik. Luciel juga pernah sesekali membantu pasukan patroli dengan masalah – masalah tertentu.


“Tuan Lando, aku melihat seorang pendeta yang nampak kebingungan di depan. Apakah terjadi sesuatu yang besar?” tanya Luciel.


“Ya. Pendeta itu mengatakan, terjadi sebuah kejanggalan dimana data anak panti asuhan tidak sama dengan jumlah anak yang berada di panti asuhan yang dia kelola,” jawab Lando.


“Lalu, apa masalahnya dengan itu?” tanya Luciel.


“Dia merasakan sebuah kejanggalan. Jika dia memang keliru memasukan sebuah data, mana mungkin dia membiarkannya salah selama itu,” jelas Lando “Dia menyimpulkan ada sesuatu di balik semua ini,” tambahnya.


Mereka berdua kemudian sampai di sebuah gudang besar dan melihat seorang pria tua sedang duduk mengelap sebuah pedang.


“Hey Pak Tua Angus, Luciel mengirimkan pesanan yang kau minta. Dan aku membutuhkan beberapa Armor kulit untuk ekspedisi ke sungai Bolus,” ucap Lando.


Pria tua itu lalu menengok ke arah mereka.


“Kau bisa mengambilnya di Lemari nomor 7,” ucap Angus. Lando lalu masuk ke dalam.


“Dan kau Luciel, aku akan memeriksa pesanannya terlebih dahulu.”


Luciel lalu memberikan karung yang berisi beberapa pedang kepada Angus.


“Hmm… Kualitas yang cukup bagus,” ucap Anggus sambil meraba – raba salah satu pedangnya.


“Kakek Angus, Apakah kakek tau tentang informasi tentang Logam Langka Orichalcum atau Adamantite?” tanya Luciel


“Untuk Orichalcum, kurasa di tempat lelang gelap kau bisa menemukannya. Namun untuk Adamantite, kurasa hanya para Dwarf lah yang mengetahui rahasia untuk membuatnya,” jawab Angus.


Pelelangan gelap merupakan tempat para orang – orang kaya mendapatkan barang – barang yang illegal, termasuk budak.


“Well… semua kualitas pedangnya sangat baik, berikanlah ini ke resepsionis yang ada di bagian keuangan,” ucap Angus sambil memberikan Luciel secarik kertas.


Luciel lalu pergi ke bagian keuangan dan menukarkannya dengan uang. Dia mendapatkan 3 Gulden untuk 10 pedangan yang dia kerjakan selama 3 minggu.


Dia lalu melihat pendeta yang berada di dalam Kantor Patroli tadi sedang duduk di depan pintu Kantor. Luciel lalu menghampirinya.


“Bolehkah aku duduk di sini Tuan?” tanya Luciel.


“Tentu saja nak muda,” jawab pendeta itu.


“Maaf Tuan Pendeta, Anda terlihat kebingungan. Apakah Pasukan Patroli tidak menerima laporanmu?” tanya Luciel.

__ADS_1


“Ya. Aku melaporkan beberapa kejanggalan yang terjadi di panti asuhanku. Akan tetapi, Pasukan Patroli tidak bisa melakukan apa – apa karena informasi dariku saja tidak jelas,” jawabnya frustasi.


“Apa maksudmu Tuan?”


“Aku memperhatikan bahwa setiap bulan, aku selalu salah melakukan dalam menghitung jumlah anak yang ada di panti asuhan. Dalam 6 bulan terakhir ini, aku selalu salah dalam menghitung setiap pendataan bulanan,” jawab Pendeta itu.


“Berapa selisih ketidakakuratan perhitungan Tuan pendeta?” tanya Luciel.


“Antara 1-2 anak setiap bulan kurasa,” jawab Pendeta itu.


“Apakah tahun – tahun sebelumnya pernah terjadi?” tanya Luciel.


“Kurasa tidak,” jawabnya ”Hahhh… Kurasa aku lebih baik melaporkannya ke Guild Hunter,” ujar pendeta itu seraya berdiri.


“Aku harus pergi dulu anak muda, senang berbincang denganmu,” pendeta itu tersenyum lalu pergi meninggalkan Luciel.


Luciel lalu melihat punggung pendeta itu yang mulai berjalan menjauhinya.


‘Hmmm… ada yang berbau amis disini’ pikirnya.


Luciel lalu mulai berdiri dan pergi ke tempat pegawainya membuat ramuan yang di jualnya.


Luciel kemudian berjalan kea rah timur Kota. tempat pembuatan ramuan miliknya dapat memproduksi sekitar 20 botol ramuan penahan sakit dan 10 liter ramuan Getran perhari. Luciel menyuplai ramuan itu kepada Herbalist – herbalist dan ke Barak militer Frediburg Duchy. Dari bisnisnya itu dia bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar 1 Gulden setiap melakukan pengiriman. ( Jika kalian lupa, ramuan Getran adalah yang di buat oleh Luciel di Arc 1 Chapter 14 )


Luciel lalu berada di depan sebuah gudang dan masuk ke dalam. Dia melihat 2 remaja sedang merebus bahan mentah ramuannya.


“Hey Rono, Rana. Bagaimana dengan produksinya, apakah ada kendala?” tanya Luciel


“Ya, kurasa kita surplus 5 botol ramuan penahan sakit dan 3 liter ramuan Getran,” ucap Wanita di belakang pria tersebut.


Mereka berdua adalah saudara kembar yang Luciel rekrut untuk memproduksi bisnisnya.


“Baguslah kalau begitu. Soalnya aku membutuh kan kak Rono untuk menjaga toko Peralatan ku untuk beberapa hari,” ucap Luciel.


“Mengapa?” tanya mereka berdua.


“Kurasa, aku akan melakukan sebuah Quest Hunter untuk beberapa hari dan pesanan juga sedang tidak terlalu ramai,” jawab Luciel.


“Well… hari sudah mulai sore, kalian bisa pulang setelah merapikan barang – barangnya.”


“Baik Bos,” jawab mereka berdua.


Luciel lalu keluar dan menuju ke Akademi Ksatria untuk melihat hasil seleksi yang Liz ikuti.


Suasana di perkotaan sangat tenang dan damai. Sangat kontras dengan apa yang Luciel lalui 3 tahun yang lalu.


“Kuharap kehidupan yang damai ini akan terus berlanjut,” gumamnya.


Tidak lama kemudian, Luciel sampai di depan gerbang Akademi Ksatria. Luciel melihat banyaknya orang di dalam kawasan Akademi. Dia lalu masuk dan menuju ke taman seperti yang telah di janjikan. Tak lama kemudian, Luciel melihat sosok Liz yang sedang duduk bersama seorang Pria dan Wanita di sampingnya. ‘Mencarinya dengan rambut merahnya tidak akan sulit’ pikirnya.


Luciel tidak langsung menghampiri Liz, akan tetapi mengobservasi interaksi Liz dengan pria dan wanita di sampingnya.


“Aku langsung membunuhnya menggunakan teknikku hahaha,” ucap Leon menceritakan pengalamannya bertarung dengan monster kepada Liz.

__ADS_1


“Wahh… kau sangat berani Leon,” puji Liz.


“Ehehehe… aku masih harus banyak belajar,” ucap Leon malu – malu di pujinya.


“Hahhh… dia seperti itu lagi,” ujar Sara.


‘Sedari dulu, dia selalu ingin membuat wanita yang dia tertarik terkesan dengan aksinya’ pikir Sara.


“PERHATIAN! UNTUK HASIL SELEKSI BISA DI LIHAT DI PAPAN BULETIN!” Seru salah satu Instruktur.


“Ayo kita lihat hasilnya Liz,” ucap Leon yang berdiri.


Namun melihat Liz yang masih terduduk membuatnya bingung.


“Ada apa Liz?” tanya Leon.


“Aku sedang menunggu seseorang,” jawab Liz.


Mendengarnya, Leon mulai tidak nyaman.


“Hai Liz, apa aku membuatmu menunggu?”


Luciel lalu menghampiri Liz, Leon dan Sara.


“Ah, Ciel. Tidak kok, hasilnya baru saja di umumkan,” jawab Liz.


Namun tiba – tiba Leon berdiri di depan Liz dan menatap Luciel.


“Liz, mereka temanmu?” tanya Luciel yang melihat gelagat aneh Leon.


Melihat ini Sara langsung berbicara.


“Aku Sara, dan lelaki ini adalah Leon. Kami baru saja saling mengenal,” ucapnya.


“Ah, senang berkenalan denganmu. Namaku Luciel, teman Liz,” Luciel memperkenalkan dirinya.


“Ayo kita melihat hasilnya bersama – sama,” ajak Sara.


Mereka berempat lalu mulai berjalan kea rah bulletin pengumuman. Luciel lalu memperhatikan gelagat Leon yang selalu mencoba meghalangi Luciel untuk berjalan berdampingan dengan kedua Liz dan Sara.


‘Hmm… apakah dia tipe orang yang sering di bicarakan oleh suster?” pikir Luciel.


Leon mempunyai sifat seperti seorang singa jantan. Alpha Male, dia tidak bisa mentolerir keberadaan pria lain di sekitar wanita yang dia miliki.


Luciel lalu mengikuti mereka berjalan di belakang mereka bertiga. Leon berada di tengah sedangkan Liz dan Sara berada di sampignya. Liz lalu menengok ke Luciel dan memperlihatkan ekspresi yang seperti mengatakan ‘Ada apa?’. Melihat ini Leon menunjukan ekspresi tidak nyaman. Luciel lalu menggeleng – gelengkan kepalanya dan tersenyum menandakan tidak ada apa – apa yang terjadi. Liz lalu kembali berjalan dan situasi canggung pun tidak terjadi.


‘Dengar Luciel, di sana banyak sekali lelaki yang memiliki kekuatan dan takdir special yang dengan mudah menarik wanita ke dekapannya. Mereka seperti seorang tokoh utama dalam cerita – cerita yang dunia seperti berpusat padanya. Jika kau bertemu dengan pria yang seperti itu, lebih baik jangan berurusan dengannya. Karena takdir akan selalu memihak kepada orang – orang tersebut.’ Luciel lalu melihat sosok Liz yang berjalan di depannya. Luciel lalu mengingat kembali pertanyaan yang di berikan kepada Susternya.


‘Lalu Suster, apa yang harus ku lakukan jika orang itu ingin berbuat masalah padaku?’


‘Well… melihat kepribadianmu, kurasa kau akan dengan mudah mempermalukannya fufufu’


Luciel masih tidak mengerti dengan jawaban susternya pada saat itu.

__ADS_1


__ADS_2