The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 1 Chapter 42 : Profound Codex


__ADS_3

Liz POV


“Ketika seorang ksatria melanggar sumpahnya, maka dia tidak lagi berhak untuk di sebut seorang ksatria,” ucap Rolf menjelaskan beberapa hal tentang ksatria kepada Liz.


Liz dan Rolf baru saja selesai makan siang di tepian sungai setelah Liz berhasil mengalahkan beberapa Drowner.


“Sumpah seorang ksatria akan membentuk inti kekuatan mereka yang dinamakan Profound Codex,” ucap Rolf


Profound Codex atau di singkat PC adalah sebuah koneksi jiwa dengan sumpah ksatria tersebut yang akan menciptakan sebuah mana special dan akan membuat ksatria itu menjadi lebih kuat.


“Semakin lemah kepercayaan seorang ksatria terhadap sumpahnya, maka akan semakin melemah Profound Codex yang ksatria itu miliki,” jelas Rolf yang terlihat agak berat ketika memberitahu itu kepada Liz.


“Kau harus membentuk Profound Codexmu dan menjunjung tinggi sumpahmu sebagai ksatria jika kau ingin lebih kuat dengan jalan menjadi seorang Ksatria,” ucap Rolf.


“ Master, bagaimana jika kepercayaan kita terhadap sumpah kita runtuh?” tanya Liz.


“Kasus yang paling parah adalah, inti mana ksatria tersebut runtuh dan tidak bisa mengunakan mana lagi,” jawab Rolf.


“Master, apa sumpahmu menjadi ksatria dulu?” tanya Liz.


Rolf pun terdiam lalu teringat akan kejadian masa lalu yang dia sangat sesali.


“ Aku akan memberitahumu suatu saat nanti.”


***********


Di sisi lain, Luciel dan Adel sudah sampai ke Danau Danube.


“ Resepsionis bilang Nymph itu terlihat di sekitar sini,” ucap Adel. Mereka lalu berjalan menulusuri pesisir danau.


“Katanya, sudah 6 hunter Rank Cooper kebawah yang melakukan Quest ini dan tak pernah kembali,” ungkap Adel.


Luciel lalu berhenti berjalan.


“Hmm.. ada apa?” tanya Adel.


“Berarti ini adalah Quest yang berbahaya!” ujar Luciel.


“Ya, ini dikategorikan Quest tingkat D,” ucap adel.”Aku sudah bilang kan, aku mempunyai artifak untuk jaga – jaga jadi tenang saja.”


Setelah beberapa saat mereka menyisir daerah danau, Luciel tiba – tiba mendengar sebuah nyanyian seorang perempuan. Dia lalu baru menyadari bahwa Adel sudah tidak mengikutinya berjalan dan terbengong.

__ADS_1


‘Dia tidak sempat mengaktifkan artifaknya’ Tidak lama kemudian, Luciel mulai kelihangan pandangan dan kehilangan kesadaran.


***********


Liz POV


“Lagi!”


Liz sedang belajar teknik berpedang dengan Rolf setelah beristirahat tadi. Liz menyerangnya dengan seluruh kemampuannya, namun Rolf berhasil menghindari serangan – serangannya dengan mudah.


“Kau memang bertalenta menggunakan pedang, akan tetapi talenta saja tidak cuckup,” ucap Rolf.


“Hahh…Hah… baik Master,” Liz lalu kembali menyerang Rolf dengan menggunakan kombinasi serangan fisik dan sihir akan tetapi sia – sia karena Rolf dengan mudah membacanya.


“Bertarung melawan manusia dengan monster itu berbeda,” ucap Rolf.


“Ketika melawan monster, yang paling dibutuhkan adalah kekuatan, kecepatan, sihir dan lainnya,” ungkap Rolf. “Namun, ketika melawan manusia atau ksatria lainnya, pengalaman dan mental lah yang akan menjadi penentu kemenangan jika perbandingan kekuatan tidak terlalu jauh,” sambungnya.


“ Lagi!”


“Siap!”


Ketika Liz hendak berlari, namun dia tiba – tiba berhenti dan berkedip – kedip.


“Luciel mengaktifkan artifaknya, kurasa aku harus pergi Master,” ucap Liz.


“Lens Record, kah? Seperti apa gambaran yang dia kirim padamu?” tanya Rolf.


“Kurasa aku melihat sebuah danau berkabut,” jawab Liz.


“Dia tidak memerlukan bantuanmu,” ucap Rolf


“T-tapi…”


“Pecayalah padaku,” tegas Rolf.


**********



...Adelheid von Rhine...

__ADS_1


Aku terlahir di keluarga Rhine yang merupakan bangsawan ternama yang ada di Kerajaan Bavaria. Banyak orang berpikir, lahir di keluarga bangsawan itu sebuah keberuntungan. Namun, banyak orang yang tidak melihat konsekuensi menjadi salah satunya. Ayahku adalah seorang Duke yang di kenal dengan julukan The Red Sun. Salah satu penyihir terkuat yang ada di Kerajaan Bavaria. Berkatnya, Rhine Duchy menjadi wilayah yang paling berpengaruh di Kerajaan baik itu segi Militer, Ekonomi maupun Politik.


Berkat pengaruhnya juga, tidak datang hal – hal yang positif saja. Ayahku banyak memiliki musuh – musuh dari tindakan yang dia lakukan, baik itu melawan Devil Cult maupun orang – orang yang terganggu kepentingannya gara – gara pengaruh Ayahku. Dan peristiwa itupun terjadi.


Ketika umurku 5 tahun, aku dan ibuku sedang melakukan sebuah perjalanan pulang ketika berkunjung dari Kekaisaran Suci Isenburg. Ketika hendak melewati perbatasan, tiba – tiba kereta kuda kami di sergap oleh kawanan orang. Mereka mengalahkan para pengawal dan berhasil menculik aku dan ibuku.


“Kalian menjadi seperti ini berterima kasihlah kepada Duke Lambert…”


Mereka lalu menyiksa ibuku dan melecehkannya di depan mataku.


“Hentikan! Mengapa kalian melakukan hal buruk terhadap mama…” Salah satu dari mereka lalu menjambak rambutku dan berkata.


“Oh rambut oranye khas keluarga Rhine fufufu, namun kenapa aku tidak merasakan Magus sama sekali dalam dirimu Putri keluarga Rhine?” Dia lalu mengatakan hal yang selalu membuatku depresi.


Ya, aku terlahir tanpa kekuatan sihir. Karenanya, banyak pembicaraan yang mengatakan’ Rhine Duchy akan merosot sepeninggal Duke karena pewarisnya tidak bisa menggunakan sihir.’


“Hehh… jadi kau adalah beban Rhine yang selalu di bicarakan oleh banyak orang akhir – akhir ini,” ucap salah satu penculik. Mendengarnya, tubuhku langsung bergetar dan hatiku mulai gelap.


“Tidak! Jangan dengarkan mereka Adel, kau adalah putri kami yang paling berharga! Jangan dengarkan mereka,” ucap Ibuku.


“Diam kau!” Salah satu penculik kemudian menampar ibuku. “Kurasa kita harus melakukan sesuatu yang lebih menarik.”


Mereka lalu memaksaku menyaksikan sebuah pemandangan keji. Ibuku lalu meninggal karena siksaan yang mereka lakukan.


“Nah, sekarang giliranmu Rhine kecil…”


Melihat mayat ibuku yang kaku membuat dadaku serasa panas dan jantungku berdebar sangat kencang, aku merasakan marah yang tak tertahankan dan tubuhku terasa akan meledak. Ketika para penculik itu mulai menyentuhku, tiba – tiba sebuah api keluar dari tubuhku dan beberapa saat kemudian aku kehilangan kesadaran.


Ketika aku mendapatkan kesadaranku kembali, bangunan yang menjadi tempat mereka menyekapku hangus terbakar. Aku melihat tubuh para penculik itu telah menjadi abu seakan terbakar oleh sesuatu, hanya aku dan mayat ibuku lah yang masih utuh disana.


Tak lama kemudian, ayahku dan beberapa pengawal datang.


“Maafkan ayah kau harus melewati semua ini nak,” ucapnya sambil memelukku.


Setelah kejadian itu, aku membangkitkan talenta sihirku dan menjadi salah satu penyihir muda terbaik di Kerajaan Bavaria.


Namun pada saat ini, aku sedang melakukan magang untuk kelulusanku menjadi seorang penyihir resmi. Aku mengambil beberapa Quest dan salah satunya perburuan Nymph. Makhluk itu memiliki sebuah sihir ilusi dari nyayian mereka dan akan membawa korbannya ke dalam air untuk mereka makan sebagai nutrisi. Ketika aku mulai merasakan ada yang aneh pada tubuhku, aku berupaya untuk mengaktifkan artifak sihir namun terlambat. Kesadaran ku telah hilang dan kini di depanku sebuah pemandang ketika ibuku di siksa dan di lecehkan sampai mati terjadi.


“Tidak!!!” Suara teriakannya.


“Splurrtt! Aghhh!” Suara sebuah pedang menyayat tubuhnya.

__ADS_1


Tubuhku mengingat kembali perasaan itu, perasaan marah tak tertahankan yang membuat tubuhku seakan meledak. Namun tiba – tiba, aku mulai tidak bisa mendengarkan jeritan ibuku dan perlahan pemandangan penyiksaan ibuku mulai menghilang dalam ingatanku. Akupun mulai bisa merasakan tubuhku kembali. Ketika aku membuka mataku, kakiku sudah tenggelam di danau dan terlihat seorang anak laki – laki di depanku sedang bertarung dengan Nymph yang sedang menggigit bahunya.


“Apa yang terjadi?”


__ADS_2