The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 1 Chapter 49 : Tekad Elizabeth


__ADS_3

Setelah bertarung melawan Sang Matahari Merah, Alfonso lalu meninggalkan kota dengan luka – luka yang sangat parah. Dia lalu beristirahat di hutan Kota Barat dan duduk di bawah pohon.


“Hahh… hahhh… 2 artifak penyelamatku telah hancur dan Aku terpaksa mengakrifkan Belati Suci Spaniard. Sungguh penyihir yang keras kepala.” Alfonso lalu melihat jubah kesayangannya yang di berikan oleh ibundanya Ratu Kerajaan Jimena dan sebuah gelang yang di berikan oleh wanita tercintanya. Alfonso sangat enggan menggunkan Senjata Suci Spaniard karena waktu Cooldown yang cukup lama, yaitu 2 bulan.


Dia lalu meminum beberapa ramuan penyembuh dan menunggu untuk pulih sedikit sebelum kembali ke tempat persembunyiannya. Tak lama kemudian, dia melihat sebuah tato yang ada dipergelangan tangannya bergerak dan bersinar.


‘Elixir yang kau cari, berada di salah satu tempat keramat di Hutan Besar Greenwood.’ Sebuah suara terdengar di kepalanya.


Tato yang ada di pergelangan tangannya lalu menghilang tanda kontraknya dengan Vlad ur Dracul sudah selesai.


“Letizia… aku akan semakin dekat untuk membangkitkanmu…tunggulah… “ gumam Alfonso sambil melihat dua cahaya rembulan di langit sambil meneteskan air mata.


“Di dunia ini …. Senyumanmu lah yang paling berharga bagiku…”


***********


Liz POV


“Mengapa Master membunuh para Ksatria Suci itu?” tanya Liz yang masih menyebutnya Master walaupun terlihat jelas bahwa dirinya adalah seorang Devil Cult.


“Mengapa Master memilih jalan ini!” suara Liz terdengar kecewa dan marah.


Rolf lalu berdiri dan menggenggam erat pedangnya.


“Suatu hari nanti, kau akan mengerti dengan tindakanku Liz,” ucap Rolf.


Melihat Masternya terlihat bersiap untuk bertarung, Liz tampak terkejut.


“Tidak Master, aku tidak mau melawanmu..” Liz berakata dengan lemah.


Melihat Liz yang agak terguncang, Rolf lalu mengkuatkan dirinya dan berbicara tegas sama seperti saat dia sedang melatih Liz.


“Jangan memperlihatkan sisi lemah mu kepada lawan Liz!” tegas Rolf. “Pegang erat pedangmu, dan pegang teguh prinsip Ksatriamu. Aku adalah salah satu Devil Cult! Aku membunuh orang – orang yang tidak berdosa dan mengakibatkan kerusakan bagi umat manusia!.” Teriak Rolf.


“Bersiap lah Liz!” Rolf lalu mulai berlari ke arah Liz berniat bertarung dengannya hanya menggunakan satu tangan.


Melihat ini Liz lalu menyiapkan kuda – kudanya dan menahan pedang Rolf. Clang! Clang! Clang! Pedang mereka beradu. Setiap benturan pedang mereka membuat Liz mengingat beberapa hari saat berlatih bersama dengannya. Clang!!! Liz terpental karena menahan serangan Rolf dengan setengah hati.

__ADS_1


“Bertarunglah Liz! Apakah hanya segini tekadmu?! Dan kau berpikir ingin menjadi ksatria terbaik yang ada di benua ini?! jangan membuat ku tertawa!” Rolf lalu mulai kembali menyerang Liz.


Meskipun keseimbangan tubuhnya terganggu karena kehilangan sebuah lengan, serangan Rolf masih memilika kekuatan dan keakuratan yang baik. Clang! Clang! Clang! Liz melakangkah mundur menerima semua serangan Rolf.


“Bughhh!!!” Rolf lalu menendang perut Liz dan membuatnya terpental.


Liz lalu mencoba bangun, namun tangannya merasakan sensasi basah dari darah ksatria – ksatria yang telah Rolf bunuh. Mayat – mayat mereka seakan mengatakan kepada Liz tentang naifnya dirinya ketika berhadapan dengan kejahatan yang di lakukan oleh orang terdekatnya.


‘Mentalku masih lemah…’ pikir Liz.


Liz lalu berdiri lalu bernafas panjangnya dan membulatkan tekadnya. Dia menggenggam erat pedangnya lalu menatap Rolf dengan serius. Melihat ekspresinya, Rolf lalu tersenyum.


“Master, aku akan membersihkan dosa – dosa mu selama ini. aku akan menanggung beban mental ini dan akan menjadi lebih kuat!” ujar Liz dengan percaya diri.


“Majulah!”


Liz lalu mulai berlari dan mulai melancarkan serangan kepada Rolf. Clang! Clang! Clang! Beberapa tebasannya mampu dengan mudah di tangkis oleh Rolf.


“Masih kurang! Apakah latihanmu selama ini sia – sia?!” Rolf mulai memprovokasinya.


Liz lalu menggunakan sihir percepatan dan meluncur menebaskan pedangnya ke arah leher Rolf. Namun Rolf menghindar dan terdapat luka sayatan yang ada di pipinya.


“White Death” kepulan asap keluar dari tubuhnya dan membentuk 2 tubuh yang solid.


Rofl lalu berbalik menyerang Liz. Clang! Clang! Clang! Liz lalu menjaga jaraknya dari 3 musuhnya dan mengeluarkan sihir.


“Fire Ball!” Boshhhh. Namun sihir apinya tidak membuat tiruan tubuh Rolf tercerai berai.


‘Harus bagaimana ini?’ Liz mulai kebingungan melawan Masternya yang walaupun sedang sekarat mampu memberikannya perlawanan yang susah. Melihat ekspresinya, lalu Rolf mulai berbicara.


“Apakah hanya segitu kemampuanmu? Apakah kau lupa apa yang sudah ku ajarkan padamu?”


Liz lalu berpikir dan mulai menyiapkan kuda – kudanya. Rolf dan 2 perwujudan solidnya lalu berlari ke arah Liz. Liz lalu mulai berlari dan bersiap menggunakan sihir penguatan di kakinya.


Mereka lalu berpapasan dan saling melewati satu sama lain sambil menebaskan pedangnya. SPLURTT!!!


2 perwudujan Rolf terbelah menjadi dua dan terdapat luka tebasan di dadanya, dia pun berlutut dan menjatuhkan pedangnya.

__ADS_1


“Kau berhasil menguasainya, Liz,” ucap Rolf lemah.


“Master!” Liz lalu mendatangi Masternya dan ikut berlutut di depannya.


Liz melihat masternya yang sudah kesulitan bernafas. Rolf juga sudah lama kehilangan banyak darah akibat luka yang di deritanya ketika bertempur tadi.


“Master… a-aku..” Melihat kondisi Masternya Liz mulai berlinang air mata sambil tertunduk.


“Liz… dengarkan aku…” ucap Rolf yang mulai kesulitan berbicara. “Aku melakukan kontrak… untuk menyembuhkan anakku… dari sebuah kutukan yang dia alami beberapa tahun lalu,” ungkapnya.


Liz menatap mata Masternya.


“Di dunia inii… hahhh… tidak ada kebenaran… yang se simple hitam…. Dan putih… Liz,” jelas Rolf.


“Temukanlah… jalanmu… sebagai… seorang Ksatria Sejati….hahh…Jadikanlah sumpahmu… sebagai…pedoman hidupmu…” Rolf lalu memegang bahu Liz.


“Berlatih denganmu…. Mengingatkanku dengan anakku… Namanya adalah Theo…Dia adalah satu – satunya….kenangan yang di tinggalkan… oleh istriku… Aliya..” Liz merasakan denyut nadi Rolf mulai melemah.


“Dia seumuran … denganmu.. hahh… jika kau bertemu dengannya …. Sampaikanlah… Ibu dan Ayahnya sangat mencintainya….” Tubuh Rolf lalu roboh di pelukan Liz.


“Terima kasih … Liz… karena sudah membuat akhir hidupku menjadi lebih baik…” setelah mengucapkan kata – kata itu Rolf lalu menghembuskan nafas terakhirnya.


“Master… Master… Terima kasih atas bimbinganmu selama ini” Liz menangis dan memeluk tubuh Masternya.


Di sisi lain, Luciel menyaksikan pertempuran Liz dan Masternya mengepalkan tangannya melihat Liz yang sedang menangis di hadapan mayat Masternya.


.


.


.


Di Kota Geneva, tepatnya di penampungan orang sakit.


Seorang pendeta sedang duduk di depan seorang anak muda berusia sekitar 12 tahun yang tengah tertidur. Tubuhnya sangat kurus karena hanya di beri asupan Elixir oleh pendeta tersebut. Tiba – tiba dia melihat tanda – tanda anak itu akan terbangun, pendeta itu lalu melakukan sebuah sihir penyembuh.


“Aghhhh… Ayah, Ibu…” gumam anak laki – laki tersebut

__ADS_1


“Puji Sang Dewi, Theo kau sudah sadar!” ucap pendeta tersebut.


__ADS_2