
[Kota Freidburg, Tahun 735 Bulan 5 hari ke 15 ]
‘Rambut merah, keturunan Bangsawan, kah?’ Rupert melihat seorang gadis muda di depannya dengan penuh misteri. ‘ Well… tugasku hanyalah menguji, bukan menginvestigasi latar belakang seseorang ’.
Rupert lalu melihat kuda – kuda gadis di depannya. ‘ Postur yang bagus dan tidak terlihat adanya celah ’. Gadis di depannya lalu melesat ke arahnya dan melakukan tebasan ke samping. ‘Dia akan melakukan sebuah Feint dan melakukan tebasan vertikal’. Rupert telah memprediksi serangan gadis tersebut terlihat dari pergelangan tangan dan posisi kakinya.
Tang! Tang! Rupert berhasil dengan mudah merespon tebasan gadis tersebut. Lalu Rupert tiba – tiba mengangkat tangan kirinya. Bammm! Tendangan gadis tersebut berhasil Rupert tahan, Rupert lalu merespon dengan sebuah tusukan, namun gadis itu menghindar mundur dan mulai memperlebar jarak.
‘Serangannya terlihat tidak memiliki komitmen untuk menyerang, apakah dia mengetes kecepatan reaksiku terlebih dahulu?’. Gadis di depannya lalu mulai menembakan sihir Fireball. Bola api itu lalu melesat ke arah Rupert. Dia lalu menebas bola api itu menjadi dua tanpa menghindar akan tetapi, gadis yang harusnya berada di hadapannya menghilang. Insting Rupert membuatnya menoleh ke atasnya. Dia lalu melihat gadis tersebut akan menebas lehernya.
“Upper Cut”
Rupert lalu menghindar dari serangannya namun, terdapat beberapa helai rambut pirang yang terbang di udara. Ya, gadis itu hampir saja mendapatkan leher Rupert. ‘Dia memiliki pengalaman bertarung hidup dan mati ternyata. Kurasa aku harus menunjukan sopan santun ku dengan merespon dengan seharusnya’ pikir Rupert.
Rupert lalu menatap mata gadis itu yang seperti membara layaknya api yang berkobar. Rupert lalu mulai melesat dan menyerang gadis tersebut.
Clang! Clang! Clang! Beberapa kali serangan Rupert mampu di tangkis dengan baik. Selama menguji hari ini, Rupert belum pernah menyerang menggunkan salah satu tekniknya sebagai seorang ksatria. Dia hanya melakukan serang dasar saja. Namun kali ini, dia mungkin harus menelan harga dirinya sebagai Instruktur dengan melawan peserta menggunakan teknik bertarungnya.
“Bersiaplah, kali ini aku akan menyerang,” Rupert memperingati gadis itu.
“Ya, aku akan melakukan yang terbaik,” ucap gadis itu.
Rupert lalu melesat dan menyerang gadis itu dengan tebasan kuat. Clang! Gadis itu mampu menahannya dan sedikit terdorong karena hantamannya. Namun, ketika dia berkedip, Rupert sudah menghilang dari pandangannya. Gadis itu mengalami sedikit guncangan karena serangan kuat Rupert dan kehilangan fokus pandangannya untuk sementara waktu. Rupert manfaatkan momen itu untuk menggunakan salah satu tekniknya, Feather Foot. Teknik itu memungkinkannya untuk bergerak tanpa mengeluarkan suara kaki sama sekali. Rupert terus bergerak di titik buta gadis tersebut dan melakukan tusukan ke arah tangan gadis tersebut dari belakang. Namun, Rupert merasakan sesuatu di kakinya saat hendak menyerang gadis tersebut. Clang! Gadis itu tiba – tiba berbalik dan menangkis serangan Rupert.
“Hehhh… sungguh keputusan yang tepat, kau langsung menyebarkan radiasi manamu saat aku menghilang dari pandanganmu,” puji Rupert.
Radiasi mana dapat di keluarkan untuk jarak 2 meter, dan apapun yang mengenainya akan terdeteksi oleh yang mengeluarkan radiasi mana tersebut. Namun, untuk kebanyakan petarung, teknik ini adalah suatu yang sia – sia untuk membuang mana. Akan tetapi, bagi mereka yang mempunyai reaksi yang cepat dapat menjadi sebuah media serangan balik kejutan.
‘Dia belum menunjukan satupun teknik bertarung satupun dan hanya memperlihatkan beberapa sihir tingkat dasar’ Pikir Rupert.
Rupert mencoba menyerang gadis itu secara intens untuk melihat batasan stamina dan fokus yang gadis itu miliki. Dengan intensitas serangan yang meningkat dari Rupert, gadis itu mulai mengeluarkan beberapa sihir penguatan. Setelah memasuki 5 menit pengujian, Rupert melihat tidak ada tanda – tanda gadis itu kehilangan stamina dan fokus. ‘ Dia cukup sabar menunggu celah dariku, haruskah aku menjebaknya? ‘. Rupert lalu mulai melesat dan melakukan 4 combo serangan dasar. Clang! Clang! Gadis itu berhasil menghindari 2 serangan dan menangkis sisa 2 serangan Rupert.
Rupert lalu menyiapkan kuda – kuda lalu berlari menghampiri gadis itu. Gadis itu menarik nafas dan melakukan hal yang sama dengannya. Mereka akan saling berhadapan yang kemudian akan mengadu mental dan keakuratan mereka. Gadis itu menebas terlebih dahulu Slash! Namun, dia hanya terlihat menebas udara kosong.
“Afterimage.”
Rupert tiba – tiba menghilang dan berada di belakang gadis tersebut dan mengarahkan pedangnya ke leher gadis itu.
__ADS_1
“Kau sangat berpengalaman dan terampil untuk usiamu gadis muda. Kau bahkan dapat menguasai teknik yang lumayan sulit,” puji Rupert.
Faktanya, Serangan gadis itu berhasil mengenai Rupert dan membuat kaki kanannya meneteskan darah karena tergores pedang gadis tersebut.
“Tidak Mungkin!” seru asisten yang melihat pengujiannya. Dia tidak percaya ada peserta yang dapat melukai Seorang Instruktur walaupun dia menahan diri.
Kemudian terdengar berbagai macam bisikan dari para peserta yang menonton Pengujian Liz.
“Dari mana kau dapat mempelajari teknik Sackel?” tanya Rupert.
“Aku mempelajarinya dari Seorang Ksatria hebat,” jawab gadis itu.
Rupert memperhatikan detail kecil wajah gadis itu berubah ketika berbicara tentang itu. Dia lalu mensarungkan kembali pedangnya dan berkata.
“Well… tadi itu lumayan menyenangkan Elizabeth. Aku ingin lebih bersilang pedangan denganmu, akan tetapi aku harus menyelesaikan seleksi terlebih dahulu.”
“Tidak apa – apa instruktur. Aku mendapatkan ilmu yang berharga, terima kasih," ucap Liz.
Liz lalu mulai berjalan kembali ke tempat duduk untuk beristirahat.
“Oh Boy… ini terjadi lagi,” ucap Sara sambil menepuk keningnya seakan telah mengetahui gelagat Leon.
“Hey Sara, siapa tadi nama gadis itu?” tanya Leon sambil tidak melepaskan pandangannya terhadap gadis tersebut.
.
.
.
Tepat saat Lonceng kedua berbunyi, Seleksi peserta Akademi Ksatria telah usai. Hasil pengumumannya akan di tempel di bulletin pada sore hari.
Para peserta lalu mulai melihat – lihat kawasan Akademi sambil menunggu hasil seleksi keluar. Liz sedang duduk di taman utama akademi dan terlihat beberapa peserta yang berada di sana sedang berbisik – bisik sambil memandangnya. Tak lama kemudian, Liz di hampiri oleh seorang Lelaki dan gadis seusianya.
“Bolehkah kami duduk di sini? tanya laki – laki berambut hitam tersebut.
“Tentu”
__ADS_1
Lelaki dan gadis itu lalu duduk di samping Liz.
“Namaku Leon, aku melihat mu ketika seleksi. Kau memiliki skill yang hebat,” ucap Leon yang menawarkan jabat tangan kepada Liz.
“Ah, Aku Elizabeth. Kau bisa memanggilku Liz. Dan terima kasih atas pujianmu,” balas sambil menjabat tangan Leon Liz. Dia lalu melihat ke arah gadis yang terlihat bengong menatapnya di belakang Leon.
“Dan siapa namamu?” tanya Liz
“Ah, namaku Sara. Kau gadis yang cantik, Liz,” puji Sara.
“Aku juga melihat kalian ketika giliran maju tadi. Kurasa kalian memiliki skill unik masing – masing,” ucap Liz. “ Leon juga sangat hebat ketika melakukan teknik serangan menggunakan dua elemen sekaligus, aku bahkan hanya bisa menggunakan satu saja,” tambahnya.
“Ah, tidak juga hahaha,” ucap Leon terlihat malu – malu ketika di puji.
“Hah….” Melihat gelagat Leon, Sara hanya bisa menghela nafasnya.
Mereka lalu mulai berbincang – bincang mengenai diri mereka masing – masing.
“Jadi, kalian sudah berteman sejak 3 tahun yang lalu?” tanya Liz.
“Ya, Leon waktu itu menyelamatkanku dan adikku ketika kami di hadang oleh rombongan bandit. Dan sebagai balasan atas jasanya, ayahku merekrut Leon sebagai Squire nya,” jelas Sara.
“Ya, Baron Ainulf sangat baik hati untuk membiayai ku selama melakukan pelatihan di akademi ini,” ucap Leon.
“Memangnya berapa biaya keseluruhannya?” tanya Liz.
“Kalau tidak salah… Untuk biaya masuk 10 Gulden, biaya akomodasi selama satu tahun 40 Gulden, dan biaya pembelajaran adalah 25 Gulden,” jawab Sara.
Liz lalu terbengong mendengar perkataan Sara.
‘ Mahalnyaaa!’ jerit Liz dalam hati. Liz tidak mencari tahu detail tentang seleksi karena Luciel telah memberitahunya bahwa biayanya tidak terlalu mahal. Liz hanya memiliki tabungan 10 Gulden saja. Untuk sementara, Sisanya akan Luciel biayain terlebih dahulu untuknya. Selama satu tahun, Luciel memiliki bisnis pandai besi dan meracik ramuan. Liz tidak mengetahui detail pendapatannya namun, Liz mengetahui produk yang di buat Luciel cukup berkualitas.
“Ada apa Liz, apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” melihat ekspresi Liz yang terlihat menjadi aneh, Leon terlihat khawatir.
“Ti-tidak apa – apa,” jawab Liz sambil tersenyum canggung.
Mereka lalu lanjut membicarakan hal lain sambil menunggu hasil seleksinya keluar.
__ADS_1