
Luciel bertemu dengan Liz paginya di penginapan dan Liz pun meminta maaf karena tidak menepati janjinya lalu menjelaskan mengapa dia tidak bisa menemuinya ketika malam tadi.
Luciel dan Liz sekarang berada di pusat Kota. Luciel menemui Herman sedangkan Liz menemui Ludwig.
“ Ini izin penjualan yang kau minta,” ucap Herman sambil menyerahkan sebuah kartu yang berisi Rune.
“ Apakah kau akan sering kesini nanti?” Tanya Luciel.
“ Kurasa untuk tahun ini tidak, aku akan pergi ke ibukota untuk melakukan transaksi yang lumayan besar setelah kembali ke Kota Maburg,” jawab Herman.
“ Baiklah, semoga perjalananmu lancar,” ucap Luciel.
“ Well… semoga bisnismu cepat jalan juga,” balas Herman.
Setelah berpisah dengan Herman, Luciel lalu menunggu Liz yang sedang mengobrol dengan Ludwig.
“ Jadi, setelah sampai di Kota Marburg kau akan mendaftar ke Akademi Ksatria Kerajaan di ibukota?” Tanya Liz.
“ Ya, kurasa aku sudah mengumpulkan uang yang cukup dan aku percaya dengan kemampuanku yang sekarang dapat lolos seleksinya,” jawab Ludwig.
“ Baiklah, hati – hati dan sukses selalu,” ucap Liz yang menjabat tangan Ludwig.
“ Ahh… Ya, Liz juga. Ketika kita berdua sudah menjadi Ksatria nanti, kita akan berduel dan pada saat itu akulah yang akan menang, “ ujar Ludwig sambil tersenyum.
Setelah berpisah dengan Ludwig, Luciel dan Liz lalu pergi menuju Hunter Guild. Sesampainya di depan Hunter Guild, Luciel lalu melihat seorang pria berusia 30 tahunan terlihat sedang menungu seorang.
“ Master, kau sudah menunggu lama?” Tanya Liz.
“Tidak, dan siapa ini Liz?" tanya Rolf.
“ Aku Luciel, teman Liz,” jawab Luciel sambil menawarkan untuk berjabat tangan.
“ Rolf, Liz sudah menyelamatkanku kemarin,” ucap Rolf sambil menjabat tangan Luciel dan terlihat Rolf memandang mata Luciel agak lama.
“ Ah Master, akan kemana kita untuk hari ini?” tanya Liz yang merasa agak canggung dengan diamnya masternya.
“Ke sungai Rhine, kita akan berburu Drowner,” jawab Rolf
“ Baiklah, Ciel kali ini aku tidak akan telat aku janji,” ucap Liz.
“ Ya tentu, aku akan menunggumu,” ujar Luciel sambil tersenyum.
Setelah melihat Liz pergi, Luciel lalu masuk ke Hunter Guild dan duduk di sudut ruangan.
‘Bang Alan dan yang lainnya katanya ingin istirahat dulu, apa yang harus kulakukan ya?’
Ketika Luciel sedang berpikir apa yang akan dia lakukan, tiba – tiba seorang gadis cantik berambut oranye muncul di depannya membawa sebuah buku. Gadis itu kira – kira seusia dengan Luciel dan memiliki karakteristik seorang Mage.
“ Hey kau, aku akan mempekerjakanmu sebagai pembawa barang,” ucap gadis tersebut.
“ Tidak, Nona aku adalah seorang Hun…”
“ Aku akan mengupahimu satu Gulden perhari,” ujar gadis tersebut.
__ADS_1
“Siap Nona, aku akan melakukan apapun yang Anda mau!” Luciel lalu tiba – tiba berdiri.
“ Baiklah, ikut aku dan perbaiki caramu bersikap. Luruskan pundakmu dan sejajarkan wajahmu jangan tertunduk begitu ketika berbicara,” ujar gadis tersebut.
Luciel lalu melakukan apa yang gadis itu ucapkan.
“ Tunggu di luar dan bawa barang - barangku, aku akan mencari sebuah Quest terlebih dahulu,” perintah gadis tersebut.
Luciel lalu membawa beberapa tas yang berisikan gulungan – gulungan sihir dan menunggu gadis itu di luar Guild. Tak lama kemudian, gadis itu muncul.
“ Ayo bergegas, kita akan menuju Hutan Rhine bagian Timur,” ucap gadis tersebut.
“ Baik Nona.”
**********
Liz POV
Liz dan Rolf akhirnya tiba di sungai Rhine, tepatnya 7 Km arah barat jembatan.
“ Disekitar sini warga melapor melihat beberapa Drowner dan sering kali menyerang warga sekitar yang menggunakan Transportasi sungai,” ucap Rolf.
“ Drowner memiliki ketahanan terhadap racun dan tidak akan mati jika mengalami pendarahan,” jelas Rolf. “Bunuh dengan cara menebas kepalanya menjadi rekomendasi membunuhnya paling efektif.” Lanjutnya.
“ Aku mengerti, Master,” ucap Liz.
“Drowner memiliki tingkat monster level satu, namun akan lebih sulit melawannya di air,” jelas Rolf. “Kau akan melawannya untuk meningkatkan stamina dan kekuatan di lingkungan yang sulit,” lanjutnya.
“ Cobalah cari mereka dan masuk kedalam sungai,” perintah Rolf.
‘ Aku tidak bisa menggunakan sihir apiku’ Pikir Liz. Dia lalu berbalik untuk menghadapi Drowner yang kembali menuju ke arahnya.
‘Rage!!!’ Liz menebaskan pedangnya, namun Drowner itu berhasil menghindar.
‘Kekuatan dan kecepatan tebasanku melemah karena berada di dalam air ’. Liz kesulitan melawan musuhnya. Jika mereka di darat, Liz dengan pasti hanya memerlukan beberapa detik untuk mengalahkan musuh di depannya.
Liz lalu berhasil muncul ke permukaan untuk mengambil nafas. Namun dia di tarik kembali kedalam air oleh Drowner tersebut dengan menarik kakinya.
Liz lalu mulai menebaskan pedangnya dan Drowner itu melepaskan tangannya dari kakinya.
‘Jika seperti ini terus, aku yang akan lelah terlebih dahulu.'
Liz lalu ke permukaan kemudian melempar pedangnya ketepian. Dia lalu di tarik kembali ke dalam air oleh Drowner tersebut dan mulai bergulat dengannya di dalam air.
Liz lalu memposisikan dirinya di belakang Drowner tersebut dan mulai mencekik makhluk tersebut. Liz lalu mengaktifkan sihir penguatan di tangannya. Dengan sekuat tenaga Liz mencoba menghancurkan leher Drowner tersebut. CRACKKK!!! Liz mendengar suara retakan tulang, akan tetapi Liz tidak berhenti di situ dan terus memperkuat kunciannya.
‘Aghhhhh!!’ SPLURTTTTT!!!! Kepala Drowner itu lalu terputus dari lehernya. Liz lalu melempar kepalanya dan mulai kembali ke permukaan.
“ Hahhh… Hahh….” Liz lalu berjalan ke tepian sambil terengah – engah. Bertarung di dalam air membuatnya sangat kelelahan.
“Bagaimana menurutmu?” Rolf lalu datang menghampiri Liz.
“ Hahh… hahh… aku harus berlatih menebas di dalam air,” ujar Liz.
__ADS_1
“ Aku tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menebasnya,” tambahnya.
“ Baiklah, masih ada beberapa Drowner lagi yang harus kau kalahkan,” ucap Rolf
***********
“Fireball ” Swushhhh. Sebuah bola api mengarah ke seekor Cetus, sebuah monster level 1 yang memiliki bentuk humanoid berkepala babi. Sihir Adel membunuh monster itu seketika.
‘ Sihirnya lebih kuat dan cepat daripada yang dimiliki oleh Liz.’ Pikir Luciel yang sedang menyaksikan di belakangnya.
“ Ambil bagian tubuhnya,” ucap Adel.
Dia memberitahu Luciel namanya saat memasuki hutan. Setelah memotong bagian tubuh dari monster tersebut, Luciel lalu menanyakan sesuatu.
“ Nona Adel, mengapa sihirmu terlihat jauh lebih kuat dan cepat dibandingkan dengan sihir Fireball biasa?” tanya Luciel.
“ Apa maksudmu? Output sihirku tadi adalah paling minimum jika kau berada di menara sihir. Mungkin pengguna yang kau bicarakan tidak berbakat dalam menggunakan sihir,” ucap Adel.
Luciel agak jengkel ketika Adel menjelek – jelek kan Liz.
“ Di menara sihir, kita diajarkan untuk melakukan sihir lebih efektif dan efisien,” ungkap Adel. “ Para hunter yang tidak datang ke menara sihir tidak akan mampu bersaing dengan penyihir – penyihir yang di latih khusus oleh menara sihir,” jelasnya.
...Author Note :...
...Hunter - hunter peringkat Gold ke atas mampu bersaing dengan penyihir reguler menara sihir, Adel bilang gini karena belum bertemu salah satunya....
Menara sihir memiliki fasilitas dan sumber daya yang memadai untuk mengembangkan para penyihir mereka. Karena itulah biaya dan seleksi untuk masuk ke salah satu menara sihir sangat sulit. Karena kemampuan mereka di jamin oleh penyihir – penyihir tingkat atas.
Mendengar ini, pikiran Luciel menjadi lebih terbuka.
‘Dunia ini sangat luas, aku yang tidak memiliki talenta ataupun latar belakang yang bagus tidak mungkin bersanding dengan orang – orang ini’ Pikir Luciel.
“ Ayo bergerak, kita akan pergi ke danau Danube, kita akan berburu Nymph,” perintah Adel.
Danau Danube terletak di arah selatan hutan.
“Tapi, bukankah Nymph memiliki tingkat kesulitan yang tinggi jika kita tidak memiliki seorang Purifier?” tanya Luciel.
“Tenang saja, aku punya artifak penjamin,” jawab Adel. “ Dan kau tidak akan berkembang jika selalu berada di Zona nyaman,” tambahnya.
.
.
.
Di sebuah kastil kediaman Keluarga Rhine…
“ Zeno, bagaimana dengan putriku? Kudengar dia sedang melakukan magang sebagai seorang Hunter,” tanya Duke Lambert kepada pemimpin bodyguardnya.
“ Nona Adelheid meminta para bawahanku agar tidak mencampuri urusannya Tuanku,” jawab Zeno. “ Namun tidak usah khawatir, aku sudah mengirimkan murid terbaikku untuk mengawasinya diam – diam,” lanjutnya.
“Dia adalah satu – satunya anakku dan jika terjadi sesuastu padanya….” Suhu di dalam ruangan tersebut lalu tiba – tiba naik akan tetapi yang Zeno keluarkan dari tubuhnya hanyalah sebuah keringat dingin.
__ADS_1
“Hanya putriku lah di negeri ini yang mempunyai potensi menjadi serang Grand Magus,” ucap Duke Lambert sambil meredam auranya kembali.