The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 2 Chapter 2 : Seleksi Akademi Ksatria


__ADS_3

[Kota Freidburg, Tahun 735 Bulan 5 hari ke 15 ]


“Kukkuruk! Kukkurukkkkk!Kukkuruk!”


Luciel mendengar suara binatang yang berkokok. Dia lalu bangun, mengambil sebuah potongan daging dan menghampiri seekor bayi Griffon. Griffon adalah, makhluk setengah Elang setengah singa yang sulit di jinakan jika belum mengenal manusia. 2 Tahun yang lalu, Luciel menemukan sebuah telur secara kebetulan ketika melakukan sebuah Quest dengan Liz. Luciel lalu menyimpan telur itu di tempat hangat hingga menetas.


“Oke Casper, ini makananmu. Berhentilah berkokok.” Casper lalu memakan daging yang di berikan Luciel.


Luciel lalu melihat jam dan memperlihatkan tepat jam 5 pagi. Luciel lalu mulai mempersiapkan Tokonya. Satu jam kemudian, Luciel mulai memasak makanan untuk mereka berdua sarapan. Sambil menunggu masakan jadi, Luciel lalu masuk ke kamar Liz untuk membangunkannya.


“Hey calon ksatria, ini waktunya bangun,” ucap Luciel.


“Emmm… Sebentar lagi…,” gumam Liz.


‘Dia pasti sangat kelelahan kemarin’ pikir Luciel.


“Kau harus bersiap. Bukankah satu jam lagi Liz akan mengikuti seleksi Akademi Ksatria,” bujuk Luciel.


“Hahhhh… aku masih sangat mengantuk,” ucap Liz yang duduk dengan mata masih tertutup.


“Liz pergilah mandi terlebih dahulu, aku sedang menyiapkan sarapan.”


“Baiklah.”


Luciel lalu kembali ke dapur dan membuat 2 buah telur mata sapi dengan sosis, 2 rebusan daging dengan bumbu special yang telah dipersiapkan semalam dan 2 jus apel. Setelah mereka membangun rumah 1 tahun yang lalu, Luciel lah yang selalu mengurus pekerjaan rumah. Hal itu sangat beralasan karena waktu itu ketika Luciel sedang sakit, Liz membuatkan sebuah makanan untuknya, namun makanan yang Liz buat sangat lah buruk dan Liz sama sekali kurang cakap untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


15 menit kemudian, Luciel dan Liz berada di meja makan sedang menyantap sarapannya.


“Liz akan mulai tinggal di asrama akademi jika lulus seleksi nanti?” tanya Luciel.


“Ya, dan mereka melarang para murid disana untuk bekerja di luar akademi selama masa pelatihan,” jelas Liz.


“Liz tidak usah khawatir, Liz dapat menggunakan uangku dulu jika memang Liz tidak dapat menghasilkan uang ketika disana,” ucap Luciel sambil tersenyum.


“Terima kasih Ciel,” ucap Liz yang ikut tersenyum.


“Fokuslah untuk menjadi lebih kuat. Ketika selesai pelatihan selama setahun, Liz pasti bisa menjadi seorang Squire Grand Master kau tahu,” ucap Luciel.


“Mengapa?”


“Liz mempunyai talenta berpedang yang bagus, kurasa salah satu Grand Master dari Ordo Ksatria akan tertarik untuk merekrutmu nanti,” jelas Luciel.


Setelah mereka menghabiskan sarapan, Liz lalu bersiap untuk berangkat ke Seleksi Akademi Ksatria.


“Doakan aku menjadi rekrutan terbaik yahhh,” ucap Liz.


“Tenang saja, aku akan hadir denganmu untuk melihat pengumuman sore nanti,” balas Luciel.


“Baiklah, sampai jumpa Ciel,” Liz lalu melambaikan tangannya dan pergi menuju Kawasan Akademi Ksatria Elang Agung.


“Baiklah, mulai menempa logam untuk pelanggan,” gumam Luciel yang kembali masuk ke gudangnya.


.


.


.


Di depan gerbang Akademi Ksatria, sudah banyak sekali para peserta yang sudah menunggu untuk mengikuti seleksi pelatihan Ksatria. Ribuan orang yang telah menunggu hingga menyebabkan kemacetan bagi Kereta kuda yang ingin lewat di jalan itu.


Dalam kerumunan itu, ada seorang pria dan dua orang wanita yang sedang mengobrol sambil menunggu dimulainya seleksi.


“Leon, kau percaya diri bisa mendapatkan posisi rekrutan terbaik?” tanya gadis berambut coklat dengan perlengkapan ksatria di sampingnya.


“Well… Kurasa Leon akan mendapatkannya. Dia bahkan sudah menguasai beberapa teknik seorang ksatria, bukankah begitu Leon,” ujar wanita yang berpakaian seperti pendeta.


“Kupikir aku dan Sara akan berada di posisi atas,” ucap laki – laki berambut hitam tersebut.

__ADS_1



...Author Note : Leon...


Dong! Dong! Dong!


Tak lama kemudian, mereka mendengar bunyi lonceng pertama kota. Para peserta lalu berhenti saling mengobrol dan melihat gerbang Akademi pun terbuka. Seorang Ksatria paruh baya lalu terlihat berjalan ke hadapan para peserta dari dalam gerbang membawa sebuah kotak sebesar tubuh manusia. Dia lalu menaruhnya di depan gerbang.


“PERHATIAN!” teriak Ksatria itu.


“Untuk para peserta, silahkan ambil kertas yang ada di dalam kotak ini lalu pergilah ke Arena sesuai dengan nomor yang tertera di kertas yang kalian dapatkan,” ucap Ksatria tersebut.


“Ambilah secara tertib! Jika tidak, jangan salahkan aku jika beberapa dari kalian bahkan akan babak belur sebelum tes di mulai!” tegasnya.


Para peserta lalu mulai mengambil nomor mereka dan menuju masing – masing arena. Terdapat 4 Arena di Akademi Ksatria Elang Agung. Arena serba guna, Arena berkuda, Arena Sparring dan Arena utama dimana kompetisi tahunan di adakan.


“Baiklah Yona, aku dan Sara akan masuk dulu. Doakan kami untuk mendapatkan yang terbaik,” ucap Leon.


“Ya, kalian berdua semangat ya!” Yona melambaikan tangannya kepada Leon dan Sara yang mulai memasuki Akademi.


Leon dan Sara lalu pergi ke Arena utama sesuai dengan nomor yang mereka dapatkan. Arena utama memiliki luas paling besar dan mampu menampung hingga 50.000 orang. Setelah memasuki Arena, Leon melihat 10 Instruktur Ksatria yang sudah menunggu di Arena.


“Untuk Peserta yang di sebutkan nomernya silahkan maju. Kalian boleh menggunakan teknik – teknik apapun termasuk Sihir bela diri,” ucap salah satu instruktur.


Seleksi perekrutan Akademi Ksatria pun dimulai. Beberapa peserta sudah maju namun, belum ada yang mampun membuat salah satu instruktur memindahkan kedua kakinya dari tempatnya berdiri.


“Selanjutnya! Nomor 60!”


“YA! Aku duluan Leon, doakan aku ya…” ucap Sara sambil berlari menuju salah satu Instruktur.


“Sebutkan nama dan umurmu,” ucap Instruktur tersebut.


“Ya! Sara von Ardenne, usia 15 tahun,” sahut Sarah.


Lalu seorang asisten di samping Instruktur mencatatnya.


Ayahnya Sara adalah seorang Ksatria Bangsawan terkenal di bawah Marquiss Warren von Lubeck. Ayahnya memiliki wilayah di perbatasan antara Kekaisaran dengan Kerajaan Bavaria. Baron Ainulf di kenal sebagai seorang Ksatria yang memiliki badan besar dan kekuatan yang mengerikan. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah ketika dia menghabisi seluruh sindikat kriminal di tempat persembunyiannya seorang diri.


“Baiklah, kita mulai tesnya. Majulah!” perintah Instruktur tersebut.


Sara lalu mulai melesat dan menebaskan pedang besarnya ke arah Instruktur tersebut. Namun, Instruktur itu mampu menahan dan menangkis serangannya dengan mudah.


Sara lalu mulai melakukan taktik Hit & Run untuk mencari titik lemah petahanan instruktur tersebut.


‘Aku tidak dapat melihat titik lemahnya… kalau begitu hanya ada satu cara’ pikir Sara.


Dia lalu menggunakan sihir Accelerate dan melesat kea rah Instruktur tersebut menggenggam pedang besarnya menggunakan dua tangan lalu melepaskan tekniknya.


“Martel!”


Tang! Serangan Sara mampu di tahan oleh instruktur tersebut.


“Kekuatan yang hebat, seperti yang di harapkan dari Putrinya,” ucap Instruktur tersebut yang kini posisinya berbeda jauh dari tempat sebelumnya dia berdiri.


Serangan Sara tadi dapat membuat instruktur pertama kali berpindah posisi dengan kedua kakinya.


“Baiklah, Selanjutnya!”


“Tapi, aku belum selesai instruktur!” protes Sara.


“Selama 2 menit kau hanya bisa mendapatkan 1 cara untuk melawanku dan itupun tidak berhasil. Percayalah, hasilnya akan sama walaupun kita bertarung 2 menit atau 5 menit lebih lama,” jelas Instruktur tersebut.


“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba!” Seru Sara.


Instruktur itu lalu melemaskan tangannya dan tiba – tiba dia menghilang dari pandangan Sara dan terdapat sebuah logam dingin yang menempel pada leher Sara.


“Kau pikir begitu, Nona?” ucap Instruktur itu sambil menempelkan pedangnya di leher Sara.

__ADS_1


Sara bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi dan mulai berkeringat dingin sama seperti saat dia berlatih dengan Ayahnya dulu.


“Selanjutnya!” Instruktur itu menjauhkan pedangnya dari leher Sara dan melirik ke asistennya. “ Nomor 65!”


“Ya!” sahut Leon yang mulai menghampiri instruktur tersebut.


Ketika berpapasan dengan Sara, Leon berbisik


“Kau sudah melakukan yang terbaik Sara.”


Leon lalu berada di depan Instruktur tersebut.


“Sebutkan nama dan usiamu,” ucap Instruktur di depannya.


“Ya! Leon, usia 15 tahun,” sahut Leon. ( Bagi yang membaca epilog Arc 1 pasti sudah tahu nama lengkap Leon )


“Baiklah, kau bisa memulainya sekarang.”


Setelah mendengar ucapan instruktur, Leon langsung melesat ke arah instruktur tersebut dan melakukan serangan Vertikal.


“Rage!”


Tang! Percikan api keluar dari gesekan kedua pedang mereka. Setelah seranganya dapat di tahan, Leon lalu tidak berhenti dan melakukan serangan lanjutan. Namun kali ini berbeda, dia mengeluarkan sihir di tangannya dan melapisi Pedangnya dengan sihirnya. Tangan dan pedangnya kini terlihat menghitam.


“Iron Devourer!”


Tang! Tang! Tang! Serangan Leon membuat instruktur terpaksa harus mundur dan melakukan respon balasan untuk menghancurkan irama serangan Leon.


‘Dia memiliki kemampuan di atas rata – rata’ pikir Instruktur tersebut.


Melihat seorang peserta mampu membuat seorang instruktur merespon serangannya, membuat asisten dan para peserta yang melihat terkejut.


Leon lalu kembali mundur berjaga jarak setelah irama serangannnya di hancurkan.


“Sebuah kombinasi sihir elemen besi dan pemberat serangan, kau cukup terampil anak muda,” puji Instruktur tersebut.


“Aku masih memiliki beberapa teknik yang belum ku tunjukan, bersiaplah!” ujar Leon.


“Hoo… kalau begitu majulah!”


“Lightning Step!” Zzzztt.


Kaki Leon mulai memunculkan sebuah kilatan yang samar, dia juga kembali mengaktifkan Sihir besi dan pemberat di tangannya.


“Hoohh… menggunakan 2 elemen sekaligus, kau mempunyai kapasitas mana yang banyak. Menarik.”


Leon dan Instruktur tersebut mulai saling jual beli serangan, namun terlihat sekali perbedaan pengalaman dari keduanya. Serangan Leon dapat dengan mudah di prediksi oleh Instruktur tersebut. Sebaliknya, serangan Instruktur tersebut memiliki keakuratan dan ancaman yang tinggi.


Setelah 5 menit bertarung Leon mulai terlihat kelelahan.


“Baiklah, kurasa hanya sampai di sini anak muda. Selanjutnya!”


“Sial!” umpat Leon frustasi karena tidak dapat mendaratkan satupun serangan yang bersih.


Leon lalu menuju ke tempat duduk peserta di sebelah Sara.


“Mengapa kau terlihat kecewa begitu? 5 menit bertahan dari serangan Instruktur itu sudah sangat hebat kau tahu,” ucap Sara.


“Hey, dia bahkan tidak serius melawanku. Instruktur itu hanya menyerang bagian bawah tubuh saja dari tadi,” ungkap Leon.


Di sisi lain, di depan Instruktur tersebut sudah berdiri seorang peserta yang sudah bersiap.


“Sebutkan nama dan usiamu.”


“Elizabeth, umur 15 tahun”


Di depan Instruktur tersebut, terlihat seorang gadis muda berambut merah yang memiliki senyuman percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2