The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 2 Chapter 6 : Kegelisahan Pendeta


__ADS_3

[Kota Freidburg, Tahun 735 Bulan 5 hari ke 16 ]


Keesokan paginya, Luciel dan Liz sedang sarapan di tempat mereka.


“Jadi, ini terakhir kalinya Liz sarapan bersamaku?” tanya Luciel.


“Hey, ini tidak seperti aku akan meninggalkanmu untuk selamanya Ciel,” jawab Liz sambil memakan sebuah Bacon.


“Well…Liz ketika selesai pelatihan selama 1 tahun pasti akan menjadi seorang Squire Ksatria hebat,” ucap Luciel “Setelah setngah tahun menjadi seorang Squire, Liz pasti akan di lantik menjadi seorang Ksatria kehormatan dan seluruh perhatian akan tertuju padamu. Apalah dayaku yang hanya seorang pandai besi biasa berhubungan dengan orang hebat sepertimu,” jelas Luciel dengan nada menggoda berniat mengerjai Liz.


“Aku tidak akan seperti itu! Kau selalu membantuku Ciel, mana mungkin aku mengabaikanmu!” seru Liz terlihat cemberut dengan perkataan Luciel.


“Hahaha… Aku cuma menggodamu. Tapi serius, Liz pasti akan menjadi orang yang hebat dalam waktu yang dekat ini,” ucap Ciel menatap Liz sambil tersenyum.


“Ya. Akhirnya aku semakin dekat impianku. Dan terima kasih karena selama ini telah membantuku Ciel,” ucap Liz sambil menatapnya balik dan tersenyum.


Luciel lalu mulai memalingkan wajahnya dan berkata.


“Hahaha… jangan terlalu di pikirkan kau tahu. Tidak ada salahnya memiliki seorang teman calon Ksatria terbaik di Kekaisaran hahaha,” ujar Luciel sambil mengalihkan tatapannya. “Mungkin nanti Liz bisa memberikan ku koneksi terhadap beberapa bangsawan untuk mempromosikan produk ku kan… Jadi ini Simbiosis Mutualisme,” ceplos Luciel.


“Sungguh? Jadi Luciel hanya memanfaatkanku?” tanya Liz yang tiba – tiba berdiri menghampiri Luciel tidak membiarkannya lepas dari tatapan mata Liz.


Wajah Liz menunduk dan tatapan matanya terpaku ke mata Luciel yang duduk di kursi. Luciel hendak memalingkan kembali wajahnya namun Liz memegang dagu Luciel tidak membiarkannya melarikan diri.


“Hey Liz, aku hanya menggodamu sedikit dan ini balasanmu padaku?” ucap Luciel mengkerutkan dahinya terlihat tidak puas.


“Jangan memperlakukanku seperti anak kecil terus, atau aku akan membalasmu dengan hal – hal yang lebih dari ini fufufu,” tawa Liz nakal karena puas melakukan serangan balik kepada Luciel.


Mereka lalu menghabiskan sarapannya kemudian membawa barang – barang yang akan di bawa Liz ke depan.


“Kau yakin tidak membutuhkan seorang Potter untuk membantumu membawanya,” ucap Luciel.


Liz membawa sebuah tas gendong dan 2 koper yang terlihat berat berisi barang – barangnya.

__ADS_1


“Cuman seberat ini untuk seorang ksatria adalah hal yang sepele,” balas Liz. “Baiklah, aku pergi. Kunjungi aku setiap minggu dan bawakan aku makanan kesukaanku ya,” ucap Liz yang kemudian mulai berbalik dan pergi menuju Akademi Ksatria Elang Agung.


Setelah Liz menghilang, seseorang menghampiri Luciel dari belakang.


“Jadi, kapan Boss dengannya akan menikah?” tanya Rono


“Apa maksudmu dengan menikah? Kami hanya teman saja,” balas Luciel.


“Segeralah bersiap untuk membuka toko, aku akan pergi ke Hunter Guild untuk melakukan beberapa Quest,” ucap Luciel.


“Mengapa Boss masih melakukan hal yang berbahaya walaupun sudah memiliki bisnis yang stabil?” tanya Rono.


“Untuk berjaga – jaga. Kau tidak akan tahu kapan kau berada di situasi – situasi yang tidak terduga,” jawab Luciel. Dia lalu berhenti sebentar dan berkata.”Jika aku ingin selalu berada di sampingnya, bukankah setidaknya aku harus menjadi pria yang setara dengan kemampuannya,” tambah Luciel.


**********


Di sebuah panti asuhan, terdapat beberapa anak usia 5 – 10 tahun sedang belajar membaca di dampingi oleh seorang suster. Seorang pendeta pimpinan panti asuhan itu sedang memperhatikan kegiatan belajar anak – anak. Setelah kegiatan belajar selesai, Pendeta itu menghampiri suster yang mengajari anak tersebut.


“Suster, berapa banyak anak yang hadir dalam kegiatan belajar tadi?” tanya Pendeta itu.


“Apakah itu sudah mencakup seluruh anak – anak yang ada di panti asuhan?”


“Ya. Aku ingat semua nama anak – anak itu pendeta Bath,” jawab Suster itu.” Apa pendeta masih menyelidiki tentang ketidak akuratan data – data yang kita catat beberapa bulan ini?” tanya Suster itu.


“Ya. Aku takut ini adalah ulah dari sihir orang – orang jahat itu,” ucap Pendeta Bath. “Aku sudah melaporkan ini dan berdisukusi dengan markas Ksatria Suci di pusat Kota. Mereka mengatakan, tidak ada aktivitas – aktivitas dari Devil Cult maupun jejak sihir kegelapan di daerah sekitaran Kota Freidburg,” tambahnya.


Setelah berbincang – bincang dengan suster tersebut, Pendeta Bath kembali ke ruangan kerjanya dan mengecek kembali beberapa dokumen berharap menemukan sebuah clue dalam peristiwa janggal ini.


***********


Setelah berjalan beberapa saat, Liz sampai di depan gerbang masuk Akademi Ksatria Elang Agung. Liz lalu masuk dan berjalan menuju gedung aula Akademi dimana akan di adakan upacara pembukaan. Di dalam gedung, sudah ada banyak sekali para rekrutan baru yang sudah duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan. Liz lalu duduk di samping seorang gadis dan menyapanya.


“Bolehkah aku duduk di sini?” tanya Liz.

__ADS_1


“Tentu saja,” jawab gadis tersebut.


Liz lalu mulai berbincang – bincang dengan gadis tersebut agar tidak bosan menunggu upacara pembukaan di mulai.


“Ahhh, begitu rupanya. Setiap rekrutan yang menjadi peringkat nomer satu akan melakukan sebuah ucapan sambutan,” ujar Liz.


“Ya. Kudengar, rekrutan terbaik itu mampu melukai seorang instruktur. Ini pertama kalinya sejak berdirinya Akademi 80 tahun yang lalu seorang peserta dapat melakukannya,” ucap gadis yang bernama Weila tersebut.


Beberapa saat kemudian, seorang pria menggunakan Outfit militer mulai berjalan di tengah jalan tempat rekrutan itu duduk. Dia lalu menuju ke podium dan menatap ke arah para rekrutan.


“Saya adalah Headmaster Adalrich von Salian. Saya ingin mengucapkan selamat kepada 250 rekrutan yang berhasil lolos seleksi Akademi Ksatria Elang Agung,” Head Master Adalrich lalu mengucapkan beberapa kata pembuka.


“Untuk menutup sambutan ini, saya berharap rekrutan terbaik akan memberi beberapa kata dan maju ke podium,” ucap Headmaster Adalrich. “Elizabeth, rekrutan terbaik di mohon menuju ke podium.”


Liz lalu berdiri dan berjalan di tengah tatapan para rekrutan baru menuju podium.


“Cantik Sekali…”


“Kudengar dia berhasil melukai instruktur dalam tes”


“Katanya, dia adalah lulusan dengan nilai terbaik dalam sejarah akademi”


Berbagai bisikan terdengar oleh Liz. Dia lalu sampai di podium dan menatap para rekrutan baru.


Liz lalu memberikan sebuah ucapan terima kasih lalu menceritakan motivasinya menjadi seorang ksatria. Para rekrutan mendengar perkataannya ikut termotivasi, terutama Leon yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya kepada Liz.


“Untuk itu, saya mohon kerja samanya agar kita bisa berkembang menjadi lebih kuat dan lulus sebagai seorang Ksatria kebanggaan Akademi ini,” Liz mengucapkan kata – kata penutup.


Para rekrutan lalu mulai bertepuk tangan. Liz lalu kembali ke tempat duduknya.


“Hey, kau tidak bilang kaulah rekrutan terbaik yang di bicarakan orang – orang,” ujar Weila.


“Hehehe… “ Liz hanya tertawa malu.

__ADS_1


Setelah sambutan pembuka, mereka lalu melihat sebuah demonstrasi beberapa teknik yang di lakukan oleh rekrutan senior. Setelah upacara selesai, para rekrutan baru mulai meninggalkan aula menuju asrama mereka masing – masing. Akademi ksatria memiliki dua asrama pria dan dua asrama putri. Masing – masing kamar akan berisi 5 orang terkecuali 20 peringkat rekrutan terbaik. Mereka memiliki kamar tersendiri sebagai privilage. Liz lalu melihat kamarnya yang memiliki ruangan yang lebih baik daripada yang ada di rumahnya dengan Luciel. Liz lalu mulai merapikan barang – barangnya agar besok dia siap untuk memulai hari – harinya sebagai rekrutan baru.


__ADS_2