The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 1 Chapter 44 : Hari yang tenang sebelum badai


__ADS_3

Hari berlalu, Luciel dan Liz menjalani waktu mereka di Kota Rhine. Luciel sibuk dengan ramuan yang di buatnya dan melakukan Quest sebagai hunter sedangkan Liz sibuk dengan latihannya bersama Rolf.


Hari ini, Luciel dan Liz sedang berjalan – jalan di pusat Kota Rhine yang para penduduknya sedang sibuk untuk mempersiapkan Festival Kenaikan Para Pahlawan. Para Pahlawan menerima 8 Senjata Suci pada Bulan 5 hari pertama di sebuah tempat yang dinamakan Altar Dewi. Letaknya berada di pusat Kuil Dewi Juliana yang berada di Teokrasi Geneva. Dewi Juliana berinteraksi melalui kesadaran seorang Saint terpilih dan memberkati para Pahlawan dan memberi mereka sebuah senjata untuk melawan Raja Iblis pada masa perang besar.


Setelah Raja Iblis di segel, para manusia di benua Asgardia merayakan hari bersejarah itu setiap tahunnya dan akan diadakan sebuah Teater tentang perjuangan para pahlawan dalam mengalahkan Raja Iblis.


Luciel dan Liz lalu tiba di alun – alun Kota Rhine. Alun – alun Kota Rhine memiliki luas yang lebih besar daripada alun – alun Kota yang pernah Luciel lihat. Para penduduk mulai menghiasi jalan dan lampu kota untuk Festival. Para Acolyte ( pembantu pendeta, kedepannya akan di jelaskan lebih lanjut di cerita nanti) sedang mentata sebuah panggung di tengah Alun – alun untuk pertunjukkan ketika malam Festival.


Luciel dan Liz lalu duduk di salah satu Stall yang menjual makanan di luar area alun – alun.


“Kota ini lebih sibuk dari biasanya,” ucap Liz yang memperhatikan aktivitas warga Kota.


“Wajar saja, 2 hari lagi Festival yang paling popular di Benua ini akan berlangsung,” jelas Luciel.


“Aku tidak pernah mengunjungi satupun Festival waktu di Kota Baden,” ucap Liz yang terlihat murung.


“Kita akan melihatnya nanti, kudengar pertunjukkan ketika malam Festival akan sangat bagus,” ujar Luciel.


Mereka lalu menghabiskan makanan yang di pesannya dan tidak lama kemudian mereka mendengar suara Lonceng kedua yang menandakan telah masuk tengah hari.


“Aku harus pergi sekarang, aku harus menemui Master di Hutan Timur Kota,” ucap Liz.


“Baiklah, sampai ketemu nanti malam Liz.”


Setelah Liz pergi, Luciel lalu pergi untuk melanjutkan berkeliling Kota melihat kesibukan warga kota.


.


.


.


Di Hutan Timur Kota …


Seorang pria bertopeng tengah menunggu rekannya untuk mengambil sebuah barang yang telah di janjikan.


“Kau terlihat cukup baik – baik saja sejak terakhir kita bertemu,” ucap seorang pria berjubah yang tiba – tiba muncul di belakangnya.


“Aku akhir – akhir ini memilih untuk mengurangi aktivitasku memasang formula sihir karena para Inquisitor sudah mulai berfokus kepadaku, aku bahkan membatasi penggunaan sihirku agar mereka tidak dapat melacak ku,” jelas Pria bertopeng tersebut.


“Baiklah, bagaimana dengan detail persiapannya?” tanya rekan pria berjubah.


“Formula sihir yang ku tanam tidak terdeteksi oleh mereka, dan aku tinggal memasang yang terakhir di pusat kota,” jawab pria bertopeng.


“Baiklah, ini artifak penyempurnanya,” pria berjubah lalu memberikan sebuah Artifak berbentuk kotak kepada pria bertopeng.”Kudengar Camillus sang Ksatria Pertama sedang melakukan perjalanan kesini, berhati – hatilah,” tambahnya.


“Lalu bagaimana dengan rencana awal? Apakah berubah,” tanya pria bertopeng.


“Ya, Aku akan melawan Duke Lambert sedangkan Tuan Vlad akan melawan Camillus jika dia muncul,” jawab pria berjubah.

__ADS_1


Camillus, mendengar namanya membuat pria bertopeng itu pesimis akan rencana yang mereka kerjakan akan berhasil.


“Baiklah, sampai ketemu pada saat eksekusi rencana.” Pria berjubah itu lalu menghilang di kedalaman hutan.


Beberapa saat kemudian, pria bertopeng itu melihat seorang gadis berambut merah yang terlihat sedang mencari seseorang.


***********


Liz POV


Liz sedang duduk di sebuah pohon ketika dia melihat Rolf berjalan menghampirinya.


“Kau sudah menunggu lama Liz?” tanya Rolf.


“Tidak Master, apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanya balik Liz.


“Well… kau sudah tahu bahwa ksatria memiliki 3 gaya umum dalam kultur Aryan,” ucap Rolf ” Strom, Vertei dan Gesch,” Rolf kemudian menjelaskan ketiga gaya bertarung seorang Ksatria Aryan.



Strom, sebuah gaya berpedang yang menggunakan Kekuatan serang sebagai dasar dari teknik – tekniknya.


Vertei, sebuah gaya berpedang yang menggunakan variasi serangan balik sebagai dasar dari teknik – tekniknya.


Gesch, sebuah gaya berpedang yang memanfaatkan kecepatan sebagai dasar dari teknik – tekniknya.


Rolf lalu mulai bernafas dan menyiapkan kuda – kudanya. Kemudian dia melihat 3 helai daun yang terjatuh dari sebuah pohon dan melesat melewatinya. 3 daun itu lalu terbelah menjadi dua bagian dengan sekejap.


“Itu adalah teknik yang Master gunakan ketika melawan Hobgoblin kemarin!” Liz terlihat bersemangat melihatnya.


“Ya, teknik ini sangat mengandalkan kecepatan untuk menguasainya,” ucap Rolf “ Cobalah kau mulai berlatih melakukan 3 kali tebasan dengan cepat terlebih dahulu,” tambahnya.


“Baik Master!”


.


.


.


Di pusat kota terdapat sebuah kastil megah tempat dimana penguasa Rhine Duchy tinggal. Dua orang Bodyguard sedang menyaksikan seorang ayah dan anaknya berlatih sihir di tempat latihan.


“Begitukah, jadi anak muda itu mampu terlepas dari ilusi seekor Nymph dengan cepat,” ucap Zeno. Mereka sedang mendiskusikan tentang apa yang terjadi ketika Luciel dan Adel menghadapi Nymph di danau.


“Ketika seseorang sudah banyak mengalami hal – hal buruk, maka ilusi buruk apapun akan terasa seperti mimpi yang sangat indah,” jelas Zeno.


“Tapi Master, bagaimana orang yang semuda itu bisa mendapatkan keadaan seperti yang Master jelaskan?” tanya Muridnya.


“Semua orang mempunyai rahasianya tersendiri kau tahu,” jawab Zeno.

__ADS_1


Zeno lalu melihat Adel yang sedang kesulitan melawan ayahnya.


“Nona Adel masih belum bisa terbebas dari belenggu masa lalunya,” ucapnya.


Zeno lalu melihat bawahannya berjalan mendekatinya dan mulai berbisik di telinganya.


“Baiklah, aku akan membertitahukan kepada Duke tentang kedatangan mereka,” jawabnya.


“Ada apa Master?” tanya Muridnya.


“Menurut patrol Kota, mereka melihat Grand Master Camillus terlihat sedang berada di dalam Kota,” jawab Zeno.


“Apa yang terjadi…?” muridnya kebingungan dengan kedatangan orang terkuat di Ordo Ksatria Suci secara tiba - tiba.


.


.


.



Sorenya, Camillus dan beberapa ksatria sedang berkeliling di pusat kota untuk melihat keadaan Kota. Mereka telah sampai di Kota Rhine pada siang hari tadi. Lalu Camillus memerintahkan asisten dan beberapa ksatrianya untuk pergi ke Kuil untuk memberitahukan kedatangan mereka.


“Aku baru pertama kali ke Kota ini dan ternyata makanannya sangat enak,” ucap salah satu ksatria suci.


“Kotanya juga terlihat sangat ramai,” balas rekannya.


Mereka sedang menikmati suasana kota tanpa menggunakan perlengkapan ksatria mereka agar tidak menarik perhatian.


“Grand Master belum kesini juga?” tanya salah satu Ksatria.


“Ya, dia ingin melihat suasana Kota sebentar katanya.”


Di sisi lain, Camillus sedang berada di gedung dimana Lonceng kota di letakkan. Bangunan ini adalah tempat tertinggi yang ada di setiap kota. Setelah dia sampai di balkon, dia melihat seorang anak muda yang sedang memperhatikan cakralawa melihat matahari mulai tenggelam.


“Pemandangan yang sangat indah bukan” ujar Camillus.


“Ya, sangat berbeda dengan pemandangan di Kota asalku yang hanya memiliki pemandangan reruntuhan dan kepulan Asap,” jawab anak muda tersebut.


“Aku turut prihatin tentang keadaan tempat asalmu yang hancur karena peperangan,” ucap Camillus.


Anak muda itu lalu berbalik dan menatap Camillus dan berkata.


“Ya, dan seseorang harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki konflik – konflik besar yang terjadi di dunia ini.”


Ketika melihat tatapan matanya, Camillus teringat dengan seorang iblis wanita yang dia lawan ketika dia masih muda 40 tahun yang lalu. Salah satu iblis 7 dosa besar yang muncul ketika mereka sedang melakukan operasi pembersihan eksperimen – eksperimen Devil Cult. Iblis itu membunuh sebagian ksatria namun mengampuni sebagian ksatria juga, termasuk Camillus muda. Sampai saat ini Camillus masih tidak mengerti motif dan tujuan iblis itu bertindak demikian.


Anak muda itu lalu mulai berbalik dan berjalan untuk meninggalkan bangunan tersebut. Camillus hanya melihat punggung anak muda tersebut dalam diam dan mengingat kejadian yang telah berlalu itu.

__ADS_1


__ADS_2