
Kota Freidburg, Tahun 735 Bulan 5 hari ke 16 ]
Ketika lonceng pertama berbunyi, Luciel sudah berada di Guild Hunter. Dia sedang melihat papan bulletin Quest yang akan dia ambil.
...Quest Tingkat F...
Kehilangan Anjing Peliharaan ( imbalan 5 ral )
Membasmi hama serangga Toter ( imbalan 3 ral )
Membersihkan selokan ( imbalan 2 ral )
Mengumpulkan tanaman obat ( imbalan 3 ral )
...Quest Tingkat E...
Membunuh Gremlin ( imbalan 10 ral )
Membasmi tikus besar ( imbalan 7 ral )
...Quest Tingkat D...
Memburu Serigala Perak ( imbalan 20 ral )
Mencari orang hilang ( imbalan bisa di diskusikan )
‘ Hm… Sangat jarang melihat sebuah Quest tentang orang hilang di Guild ’ pikir Luciel. Dia kemudian mengambil lembaran Questnya lalu duduk di pojokan Guild untuk membaca lebih detail keterangannya. Yang membuat Quest itu adalah pendeta Bath pimpinan panti asuhan Frohein.
“Sedang membaca apa kau Luciel?”
Tiba – tiba, di depan muncul seorang wanita berambut hitam dengan perlengkapan seorang assassin.
“Ah, Izzy. Aku sedang membaca Quest tentang orang hilang,” jawab Luciel.
“Orang hilang? Bukan kah biasanya para warga akan mendatangi kantor pasukan patroli daripada ke Guild Hunter untuk pencarian orang hilang,” ucap Izzy.
“Well… kurasa aku tahu siapa yang melakukan permintaan Questnya,” ujar Luciel.
“Kau akan mengambil Questnya?” tanya Izzy.
“Ya. Kau tidak melakukan Quest dengan yang lainnya?” tanya balik Luciel.
“Nolan dan Finn sedang melakukan hobi mereka sedangkan Jeny sedang mengikuti kelas etika,” jawab Izzy. “Hey, bolehkah aku ikut denganmu? Tidak ada kegiatan yang ku lakukan untuk hari ini,” tanyanya.
“Tentu saja,” jawab Luciel.
Mereka lalu keluar dari Hunter Guild dan mulai berjalan menuju panti asuhan Frohein.
“Kau bilang tadi Jeny sedang mengikuti kelas etika, untuk apa seorang Hunter mengikuti kegiatan tersebut?” tanya Luciel heran.
“Putri pertama Kerajaan Bavaria akan datang kesini kau tahu. Mereka akan melakukan perayaan pertunangan antara Pewaris Freidburg Duchy dengan Tuan Putri Frederica,” jawab Izzy.
“Seperti kataku tadi, apa hubungan kunjungan Tuan Putri dengan seorang Hunter ingin belajar kelas Etika?” tanya kembali Luciel.
“Para Bangsawan biasanya memiliki tradisi melakukan perayaan seperti pesta dansa dan makan – makan untuk merayakan pertunangan anak – anak mereka. Akan banyak anak – anak bangsawan dan orang – orang ternama yang hadir. Ini bertujuan agar anak – anak mereka dapat membentuk koneksi dengan calon – calon penguasa di daerah lain maupun orang – orang penting istana,” jelas Izzy. “Jeny mengikuti kelas Etika karena dia ingin berdansa di pesta pembuka,” tambahnya.
“Perayaannya terbuka untuk umum?” tanya Luciel.
“Tidak. Seperti yang kubilang, hanya orang – orang penting saja yang akan hadir. Jeny ingin menjadi bagian dari tim dansa yang akan mengiringi Pewaris Duke dan Tunangannya,” jelas Izzy.
“Izzy ternyata banyak tahu tentang kehidupan sosial para bangsawan,” ucap Luciel.
__ADS_1
Izzy lalu terdiam sebelum berkata.
“Kakakku yang memberitahuku tentang hal – hal merepotkan itu,” ceplos Izzy.
“Merepotkan?” tanya Luciel.
“Lupakan saja perkataanku tadi, apakah masih jauh tempatnya?” ucap Izzy yang tiba – tiba mengalihkan topik pembicaraan.
Luciel yang menyadari gelagat Izzy tidak meneruskan lebih jauh dan menjawab.
“Nah, di sana panti asuhannya,” jawab Luciel sambil menunjuk sebuah rumah besar yang ada di ujung jalan.
***********
[ Istana Kerajaan Bavaria, Ruangan kerja Raja Konrad II ]
Raja Konrad sedang mengurusi berbagai macam dokumen – dokumen tentang perkembangan Kerajaan yang dia pimpin. Tiga tahun terakhir ini menjadi tahun yang paling sulit baginya, dia di sibukkan dengan berbagai macam pekerjaan karena bencana Konjungsi yang menimpa Kerajaannya. Raja Konrad yang sejatinya berumur 40an menjadi terlihat menua menjadi seorang pria di umur 50an. Namun, berkat kerja keras dan langkah diplomasi yang dia lakukan dengan negeri lain membuat Kerajaannya dapat pulih tiga tahun kemudian. Akan tetapi, ada hal yang harus di korbankan demi kesejahteraan Negeri yang dia pimpin itu. Memikirkan hal itu, dia menjadi merasa bersalah kepada Putrinya satu – satunya.
Tok! Tok! Tok!
“Ayahanda, ini Frederica.”
Raja Konrad mendengar bunyi ketukan pintu berasal dari putri yang sedang dia pikirkan.
“Masuklah.”
Pintu lalu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis yang menawan. Dia memiliki rambut pirang seperti ayahnya, proporsi tubuh yang ideal dan wajah putih mulus idaman wanita. Frederica yang kini berusia 17 tahun telah menjadi Putri Kerajaan yang anggun kebanggaan rakyat Bavaria.
“Duduklah Frederica.”
Frederica lalu duduk di kursi di depan meja kerja ayahnya.
“Apa yang ayahanda ingin bicarakan denganku?” tanya Putrinya.
Raja Konrad sangat berat hati melepas Putri satu – satunya ke negeri orang lain. Putri Frederica di kenal sangat dermawan dan anggun. Dia bahkan sering bernyanyi di alun – alun kota dan menghibur anak – anak yatim piatu korban bencana Konjungsi. Karena itulah para warga Kerajaan sangat mencintai Putri Frederica dan terkejut dengan pernikahannya dengan Bangsawan dari Negeri lain.
“Aku akan melakukan apapun untuk membantu Ayahanda dalam menjalankan negeri ini ke arah yang lebih baik,” ucap Frederica.
Mendengar kata – kata dari putrinya, Raja Konrad menjadi berat hatinya.
“Maaf Frederica. Ayah tidak bisa memberikanmu kebebasan dalam hal yang sangat penting dalam hidupmu,” ucap Raja Konrad.
Setelah berbincang – bincang dengan ayahnya, Frederica lalu pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah buku. Dia lalu menulis sebuah kata dalam buku itu.
...Bagaimana persiapan kalian di sarang elang?...
Tulisan di dalam buku itu kemudian terserap dan tidak lama kemudian, muncul sebuah tulisan balasan.
...Persiapan telah di mulai, Sang Serigala telah mengambil umpannya....
Tidak lama kemudian, tulisan balasan itu kembali terserap kedalam buku dan menghilang. Frederica kembali menulis.
...Beberapa saat lagi, aku akan datang ke dalam sarang Elang. Aku akan memberimu sinyal untuk bertemu saat aku tiba....
Setelah tulisan Frederica terserap, muncul lah tulisan balasan.
...Baiklah. Aku akan menanti kedatanganmu, Calon Singa Emas....
Setelah berinteraksi dengan loyalisnya, Frederica lalu berjalan ke arah balkon kamar dan melihat pemandangan Kota Bavaria.
“Negeri ini sudah terlalu lama jauh dari masa kejayaannya. Hanya di bawah kuasaku lah negeri ini dapat kembali pada masa kejayaannya.”
__ADS_1
Di balik wajahnya yang anggun dan menawan yang dia gunakan sebagai topeng di hadapan orang lain, terdapat seorang gadis licik penuh tipu daya dibalik topeng tersebut. Dia telah merencanakan dengan matang sebuah skenario yang akan membuat Kekaisaran Suci Isenburg dan Republik Florentia ikut secara langsung dalam konflik yang telah terjadi antara Kerajaan Bavaria dengan Federasi Nordland.
***********
Di sisi lain, Luciel dan Izzy sedang bermain dengan anak – anak yang ada di panti asuhan Frohein. Luciel sedang menemani beberapa anak laki - laki dalam kegiatan menggambar sedangkan Izzy sedang menyiram tanaman dengan beberapa anak perempuan.
Luciel lalu menghampiri salah satu anak yang nampak menyendiri.
“Apa yang sedang kau gambar?” tanya Luciel.
bocah laki – laki itu lalu menoleh kepada Luciel.
“Aku sedang menggambar sebuah gudang bawah tanah tidak jauh dari sini,” jawab bocah tersebut.
“Mengapa kau menggambar gudang tersebut?” tanya Luciel kembali.
Bocah itu lalu terdiam untuk beberapa saat.
“Entahlah, aku hanya ingin saja kurasa,” jawab bocah tersebut.
“Mengapa kau terlihat sendirian dan tidak bersama yang lainnya?”
“Sebenarnya aku jarang berada di sini, aku hanya belajar di sini sambil menunggu kakakku pulang bekerja,” jawab bocah tersebut.
Tiba – tiba, ada anak yang terdorong ke arah Luciel dan bocah tersebut dan membuat pewarna yang ada di tangan bocah tersebut mengenai Luciel.
“Hey, jangan main dorong – dorongan bahaya kau tahu,” tegur Luciel.
“Ah. Iyah kak maaf!” jawab singkat anak – anak itu yang kembali bermain menjauhi Luciel.
“Kau tidak apa – apa? Siapa namamu?” tanya Luciel.
“Tidak apa – apa, namaku Shia,” jawab bocah tersebut.
Setelah Luciel dan Izzy menghabiskan waktu dengan anak – anak tersebut, mereka berbincang dengan Pendeta Bath pemimpin panti tersebut.
“Begitukah, hal ini sudah terjadi selama hampir setengah tahun,” ucap Luciel.
“Ya. Apakah kau menemukan sesuatu setelah melihat keadaan panti asuhan?” tanya pendeta Bath.
“Kurasa tidak ada hal yang mencurigakan baik lingkungan sekitar panti maupun perilaku anak – anak tersebut,” ucap Izzy. “Bagaimana menurutmu Luciel?”
“Sama. Pendeta Bath, apakah pendeta sudah memeriksakan kondisi tubuh pendeta kepada seorang Purifier?” tanya Luciel memastikan.
“Sudah, dan tidak ada sema sekali sebuah gangguan mental baik itu secara natural maupun secara magis dalam kepalaku,” jawab pendeta itu sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.
Setelah selesai melakukan investigasi di panti asuhan Luciel dan Izzy lalu berpamitan. Mereka kemudian berjalan – jalan untuk mencari tempat untuk makan malam. Izzy yang melihat Luciel sedang melamun lalu bertanya.
“Apakah kau masih memikirkan masalah tadi?”
“Ya. Kurasa kejadian yang serupa pernah terjadi di Republik Florentia beberapa tahun yang lalu,” jawab Luciel.
“Kasus yang sama?”
“Ya. Beberapa orang mulai menghilang sekitar 3 tahun lalu di Kota Tuscany. Namun, aku tidak mengetahui detail tentang kelanjutan dari kasus tersebut,” jawab Luciel.
“Omong – omong, coretan apa yang ada di tanganmu itu?” tanya Izzy
Terdapat sebuah coretan berwarna merah di tangan kiri Luciel.
“Well… Ada anak yang terjatuh dan tidak sengaja mencoretkan Kapur warna basahnya ke tanganku,” jawabnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian lonceng ketiga kota mulai berbunyi menandakan matahari sudah terbenam, mereka lalu makan malam di sekitar alun – alun kota dan menyudahi kegiatan mereka untuk hari ini.