The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 1 Chapter 45 : Festival


__ADS_3

Liz POV


Liz dan Rolf baru saja selesai dengan sesi latihan mereka di hutan dan sedang beristrahat di bawah pohon.


“Master, dalam perjalananku kemari, aku bertarung dengan seorang Devil Cult yang masih anak – anak. Ketika aku hendak membunuhnya, aku pun ragu melihat usia dan yang akan ku bunuh adalah manusia,” ucap Liz. “Pada akhirnya, Luciel lah yang membunuhnya dan mengakibatkan dia hampir mati,” lanjut Liz.


“Dia mengatakan, tindakanku seperti itu menunjukkan aku masih mempunyai moral manusiawi yang di butuhkan oleh seorang ksatria sejati,”. Suara Liz terlihat menyesal.”apa yang harus dilakukan oleh ksatria sungguhan ketika dia harus memilih moralitas dengan tugasnya sebagai seorang ksatria?” tanya Liz.


Rolf lalu sedikit berpikir sebelum menjawabnya.


“Liz, menjadi seorang ksatria bukan soal kita menjalankan tugas kita dengan baik maupun membunuh musuh di depan kita,” ucap Rolf. “Yang terpenting bagi seorang ksatria adalah, bagaimana membuat dirimu selalu berpegang teguh dengan sumpah yang kau katakan,” jawabnya. “Seorang ksatria hanya hidup untuk menjaga sumpahnya, tidak kurang dan tidak lebih,” tambahnya.


“Dan sumpahku sebagai seorang ksatria adalah …. “


Rolf lalu berdiri setelah memberitahu sumpahnya kepada Liz.


“Besok aku akan sibuk dengan sesuatu, kau bisa istirahat untuk festival besok,” ucap Rolf.


Ketika Rolf sudah pergi, Liz masih memikirkan kata – kata yang di ucapkan Masternya itu.


***********


“Tidak, aku tidak mau. Itu pasti akan sangat memalukan di tonton oleh banyak orang,” ucap Adel. Di sedang berada di ruangan ayahnya bersama ayahnya dan seorang Bishop.


“Kurasa anda harus mencari orang lain sebagai pemeran Dewi untuk pertunjukkan besok Bishop Clay,” ucap Duke Lambert.


“Sangat di sayangkan, padahal Nona Adel mempunyai rupa yang anggun untuk memerankannya,” ujar Bishop Clay.


Ketika pendeta itu keluar dari ruangan Duke Lambert, dia mulai berbicara serius dengan putrinya.


“Adel, sekarang kau menolak permintaan Bishop Clay, kau harus pergi ke ibukota bersama Zeno besok,” ucap Lambert.


“Mengapa? Aku tidak suka dengan ibukota apalagi di Istana Kerajaan dimana banyak sekali yang menggangguku ketika aku di sana,” ketus Adel.


“Well… kurasa ini sudah waktunya dirimu untuk menambah sirkel hubunganmu untuk masa depan nanti,” Bohongnya.


“Kau serius Ayah???” tanya Adel ragu.


“Baiklah.” Lambert lalu memberitahukan alasannya kepada Adel.”Menurut Grand Master Camillus, terdapat aktivitas mencurigakan yang sedang dilakukan oleh kelompok Devil Cult. Aku tidak mau kau terjebak di dalamnya jika hal terburuk terjadi,” jelasnya.


“Aku dapat mengalahkan beberapa monster dan tidak akan beda jika beberapa orang jahat hendak mengincar ku. Lagipula, Pak Tua Zeno akan selalu mendampingiku bukan? jadi tidak akan ada masalah,” ucap Adel. Dia lalu keluar ruangan Duke Lambert dengan sedikit Badmood.


Tidak lama kemudian, ada seseorang yang masuk ke ruangan Duke Lambert.


“Sepertinya sangat susah ketika berurusan dengan anak sendiri, bahkan untuk seorang sang Matahari Merah Bavaria,” ucap Camillus menyindir Duke Lambert.


“Ya, lebih mudah berurusan dengan politik dan administrasi daripada dengan putriku,” balas Duke Lambert dengan lemas.


“Jadi, bagaimana dengan penyelidikannya Master Camillus?” tanya Lambert memulai topik utama mereka berbicara kali ini.


“Kami masih tidak menemukan formula – formula sihir yang biasanya digunakan untuk Konjungsi,” jawab Camillus.


“Ya, aku juga tidak bisa tiba – tiba membuat peringatan pada warga Kota tanpa adanya bukti yang cukup,” ucap Duke Lambert.


“Tenang saja, Ksatria Suci telah melakukan pembicaraan dengan Raja Korand dan sedang mengirimkan 200 Ksatrianya kemari langsung dari Kota Suci Geneva,” ucap Camillus menenangkan kekhawatiran Duke Lambert.


**********

__ADS_1


Keesokan harinya, Kota Rhine menjadi sangat ramai karena festival yang di adakan hari ini. Para Warga tertawa, menari dan bernyanyi seakan negerinya sedang tidak dalam keadaan perang. Luciel dan Liz sedang berada di sebuah bar dan di meja mereka terdapat 2 Ksatria sedang menceritakan kisah mereka ketika membasmi para iblis.


“Kalian semua sangat hebat!” ucap Liz takjub.


“Nah, Vampir adalah lawan yang sangat sulit,” ucap salah satu Ksatria yang bernama Wellen.”Mereka dapat beregenerasi dan sangat lincah,” tambahnya.


“Ya, “ balas rekannya. “ Tanpanya, mungkin kami akan sangat sulit untuk mengalahkan seorang Vampir.” Jelasnya.


“Siapa?” tanya Liz.


“Sang pemburu putih,” jawab Wendel.


“Nama julukan yang keren,” ucap Luciel.


“Namun beberapa tahun yang lalu, dia meninggalkan Ksatria Suci, hah….” Wendel terlihat sangat menyesal.


Luciel dan Liz lalu pergi ke alun – alun Kota untuk menikmati Festival setelah berbincang - bincang dengan beberapa ksatria.


“Ayo kemarilah! Kami mempunyai artifak yang mampu menyaingi senjata suci para pahlawan!”


“Ayo di beli! di beli! kami memiliki Grimoire keluaran terbaru!”


“Hey anak muda! Kami memiliki jimat keberkahan langsung dari Kuil utama Geneva!”


Para pedagang terdengar sedang menarik para pengunjung dan meramaikan suasana alun – alun. Mereka lalu melihat sebuah panggung besar tempat dimana akan diadakan pertunjukan mengenai kenaikan para pahlawan nanti malam.


“Hey Luciel! Liz! kesini!” terdengar seseorang memanggil nama mereka.


Luciel lalu melihat Alan dan yang lainnya di dekat panggung.


“Kalian akan melihat pertunjukannya nanti malam?” tanya Serlina.


“Mau ikut aku ke sebuah Ramalan Horoskop yang sedang tren akhir – akhir ini Liz?” ajak Serlina.


“Sudah gw bilang Serlina, itu hanya akal – akalan mereka. Jangan percaya dengan hal – hal seperti itu,” ujar Alan. Namun Serlina tidak menghiraukannya.


“Baiklah,” jawab Liz. Mereka berdua lalu pergi meninggalkan 3 pria di sana.


Ketiga pria itu lalu saling memandang.


“Mau melihat kontes adu kekuatan yang sedang tren?” ajak Luciel.


Mereka berdua lalu mengangguk.


************


Liz POV


Liz dan Serlina lalu mendatangi sebuah Stall dan mengantri untuk mendapatkan sebuah ramalan horoskop. Setelah mengantri lama, mereka akhirnya berada di hadapan seorang wanita tua membawa sebuah bola.


“Ah… halo gadis – gadis cantik, apa yang ingin aku ramal mengenai hidup kalian?” tanya Wanita tua tersebut.


Liz dan Serlina lalu saling tatap.


“Oh peramal, apakah aku nanti bisa masuk ke Menara Sihir Wuttenburg?” tanya Serlina.


“Taruhlah tanganmu di bola sihir ini,” jawabnya.

__ADS_1


Serlina lalu menaruh tangannya di bola sihir dan tiba – tiba, bola sihir itu menyala memperlihatkan sebuah illustrasi bintang – bintang di kegelapan malam.


“Hmm…Kau akan mencapai tujuan mu dengan waktu yang dekat gadis muda,” ucap peramal tersebut.


“Benarkah!?” tanya Serlina kembali untuk memastikan.


“Ya… Tapi untuk sekarang, kau masih belum mempunyai tekad yang cukup untuk kesana. Dan dalam waktu dekat itu kau akan segera mendapatkan tekad itu fufufufu,” jelasnya.


Setelah giliran Serlina selesai, Liz lalu maju dan meletakkan tangannya di bola sihir tersebut dan bertanya.


“Apakah aku akan menjadi seorang Ksatria yang selalu menjaga sumpahnya?”


Liz lalu melihat ilustrasi langit berbintang namun di penuhi oleh sebuah kabut. ( ini adalah Clue buat beberapa chapter nanti )


“Hmm… Bintang cerah Alea dan sebuah kabut yang menutupi langit – langit,” gumam peramal tersebut.


“Kau akan menjumpai sebuah masalah dalam waktu yang cepat ini, dan bagaimana cara kau menyelesaikannya akan berpengaruh untuk masa depanmu nanti,” ucap peramal tersebut.”Dan untuk bintang Alea… itu adalah sebuah cahaya yang akan selalu menuntunmu nanti saat kau temukan,” jawabnya ambigu.


“Apa maksudnya?” tanya Liz kebingungan.


“Aku hanya membaca anak muda, kalianlah yang harus menginterpretasi takdir kalian,” jawabnya.


.


.


.


“Tarik!”


“Tarik!


Luciel, Alan dan Paul sedang melakukan lomba tarik tambang remaja yang di adakan oleh Duke Lambert.


“Uaghhhhh!” Paul lalu menggunakan seluruh kekuatannya dan berhasil membuat lawan mereka terjungkal karena tarikannya.


“Pemenangnya, Trio Cool Guy!” seorang wasit meneriakkan nama tim mereka.


“Hey apa kataku bang Alan, ini adalah sebuah nama yang memalukan!” Protes Luciel.


“Hehh… kau tidak tahu yang namanya tren Baciel,” balas Alan.”Kau bisa lihat sendiri, berkat nama ini kita bisa menang!” ujar Alan.


“Hey, kita menang gara – gara bang Paul,” balas Luciel.


Mereka lalu menghabiskan waktu menikmati berjalannya festival yang akan berlanjut ketika malam hari dengan memperlihatkan sebuah pertunjukkan.


.


.


.


Malam harinya, di suatu tebing dekat Kota Rhine. Seseorang tengah melihat pemandangan Kota yang ramai dari jauh.


“Kalian semua tertawa lah selagi bisa.” ucapnya. " Namun malam ini, dunia akan merasakan kembali mengapa kami harus di takuti.”


“Kakak, semuanya sudah siap.” Tiba – tiba di belakangnya muncul seorang wanita berambut platinum.

__ADS_1


“Ya, segera lakukan operasinya.”


__ADS_2