The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 2 Chapter 8 : Ruangan bawah tanah


__ADS_3

[ Kota Freidburg, Tahun 735 Bulan 5 hari ke 17 ]


Kukkuruk! Kukkuruk!


“Ya, ya. Aku sudah bangun Casper.”


Keesokan harinya Luciel mulai terbangun saat matahari mulai terbit. Dia lalu menyiapkan sebuah daging untuk memberi makan Casper.


“Rumah menjadi agak sepi semenjak Liz pergi,” ucap Luciel yang terlihat mencoba mengobrol dengan Casper sambil memberinya makan.


“Kau juga terlihat tumbuh dengan cepat, huh.”


Casper sudah memiliki ukuran sebesar paha manusia. Luciel lalu melihat sebuah coretan yang ada di tangannya. ‘ Coretan apa ini? aku tidak ingat mendapatkannya dimana pun’ pikir Luciel. Dia lalu mulai mempersiapkan tokonya sambil menunggu Rono datang. ‘ Kurasa aku akan ke panti lagi untuk lebih menginvestigasi masalahnya ’.


Setelah Rono datang, Luciel kemudian pergi ke panti asuhan Frohein. Setibanya Luciel di sana, dia melihat seorang gadis seusianya yang terlihat kebingungan.


“Maaf Nona, mengapa Anda terlihat kebingungan seperti itu?” tanya Luciel.


“Ah, entahlah. Aku mengingat suka kesini setiap Lonceng pertama dan Lonceng ketiga. Tetapi, aku tidak tahu alasan aku melakukan itu,” jawab gadis itu.


“Namaku Luciel. jika Anda memiliki urusan di panti asuhan mungkin kita bisa sama – sama mendiskusikannya bersama pendeta Bath,” usul Luciel.


“Ya. Kau bisa memanggilku Conis dan tidak perlu begitu formal, kita terlihat memiliki usia yang sama,” ucapnya sambil tersenyum.


Luciel dan Conis lalu masuk ke panti asuhan dan menemui pendeta Bath di ruang kerjanya.


“Jadi begitukah? Di rumah nak Conis memiliki pakaian anak laki – laki tapi kamu tidak mengingat memiliki keluarga atau orang yang tinggal bersamamu sesuai dengan ukuran pakaian yang ada di sana?” tanya kembali pendeta Bath.


“Ya. Aku juga telah bertanya ke beberapa tetanggaku, namun mereka mengatakan tidak mengingat sama sekali jika aku mempunyai keluarga yang tinggal bersamaku,” jawab Conis.


Pendeta Bath lalu berdiri dan mengambil sebuah buku. Dia meletakannya di meja dan membuka sebuah halaman untuk Luciel dan Conis lihat.


“Kemarin sore, aku telah mendata kembali anak – anak yang berada di panti asuhan. Sebelum lonceng ketiga, biasanya aka nada absen untuk memastikan anak – anak telah kembali ke panti,” jelas Pendeta Bath.


Luciel lalu membaca halaman tersebut dan melihat sebuah kejanggalan.


“Absen kemarin memiliki jumlah anak 48 dengan anak laki – laki 31 dan 17 untuk anak perempuan. Namun hari ini, anak laki – laki tercatat hanya 30 orang. Apakah terjadi sebuah kesalahan Pendeta Bath?” tanya Luciel.


“Para suster dan aku sudah memastikan bahwa anak – anak sudah semua yang telah di absen. Dan kami sama sekali tidak mengingat ada anak – anak yang tidak terhitung kemarin. Aku sudah bertanya kepada anak – anak yang lain juga, mereka tidak mengingat apapun tentang satu anak laki – laki yang hilang ini,” jelas Pendeta bath.


Pendeta Bath lalu membalikan halaman dan terdapat beberapa nama anak – anak panti asuhan akan tetapi, terdapat beberapa jarak dari baris absen nama tersebut.


“Seperti yang kau lihat, kurasa tempat kosong ini dulunya berisi nama – nama dari anak – anak yang hilang dan kami lupakan,” ucap Pendeta Bath dengan nada yang murung.


Setelah berdiskusi beberapa saat, Conis lalu pamit pergi untuk bekerja dan akan kembali lagi saat Lonceng ketiga nanti.


“Bagaimana menurutmu nak Luciel?” tanya Pendeta Bath.


“Kurasa, waktu Conis kemari kebingungan dengan waktu satu anak laki – laki hilang itu sangat berdekatan,” jawabnya.


“Menurutmu, anak laki – laki yang tidak tercatat itu merupakan keluarganya nak Conis?”


“Ya. Dan ini membuktikan apa yang menculik atau menghilangkan eksistensi anak – anak itu berada di sekitar sini dimana anak – anak melakukan kegiatan,” jelas Luciel.


“Tidak bisa di maafkan! Mengapa ada yang sengaja mengincar anak – anak yang tidak bersalah itu!” ucap Pendeta Bath dengan nada tinggi. “Ah, maafkan aku atas nada bicaraku,” tambahnya.


“Tidak apa – apa, semua orang akan bereaksi sama jika ada orang yang ingin mencelakakan anak mereka,” ujar Luciel sambil tersenyum.


“Baiklah Pendeta Bath, aku akan pergi terlebih dahulu karena ada beberapa urusan.”


“Ah. Terima kasih karena telah membantuku nak Luciel. Aku akan mencoba mencari beberapa tempat yang mencurigakan untuk menguak peristiwa ini,” ucap Pendeta Bath.


**********


[ Akademi Ksatria, Arena Latihan ]

__ADS_1


“Dengar, kalian rekrutan baru mulai hari ini akan di panggil Cadet. Itu merupakan tingkat paling awal seseorang untuk menjadi seorang Ksatria,” jelasnya. “Setelah memasuki semester kedua, kalian akan menjadi seorang Novice dan akan menjadi Squire jika kalian telah menguasai beberapa teknik dasar yang di ajarkan di sini,” tambahnya.


“Semua Proses itu akan memakan waktu selama 2 tahun. Ini memperlihatkan, tidak mudah untuk menjadi seorang Ksatria. Kalian akan di latih secara fisik maupun mental dan belajar memahami kode – kode penting yang harus seorang Ksatria ikuti,” jelas Rupert.


“Untuk hari ini, kalian akan melakukan sebuah sparring dan instruktur akan menentukan rekan latihan kalian sesuai dengan kemampuan kalian. Untuk 20 rekrutan terbaik akan mengikuti kelas khusus yang akan di pimpin olehku. Ada pertanyaan?”


Para cadet lalu terdiam karena informasi yang di jelaskan oleh Rupert gampang di cerna.


“Jika tidak ada, mulai lah mencari pasangan dan lakukan Sparring. Untuk 20 cadet terbaik, ikut lah dengan ku.”


20 Cadet lalu mengikuti Rupert ke sebuah aula khusus di bangunan sebelah Arena.


“Kalian juga carilah pasangan sparring masing – masing. Alasan aku memisahkan kalian dengan yang lain adalah agar bisa melihat kemampuan kalian dengan lebih detail.”


Ketika Liz ingin mencari pasangan untuk sparring tiba – tiba dia di hampiri oleh Leon.


“Hey Liz. Mau sparring denganku?”


“Kau tidak dengan Sara?” Liz balik tanya.


“Aku sudah sering latihan dengannya kau tahu, kurasa aku akan mendapatkan pengalaman lebih jika sparring denganmu,” ujar Leon.


Liz lalu melihat Sara yang berada di belakang Leon. Dia melambaikan tangannya mengindikasikan bahwa dia tidak apa – apa.


“Baiklah.”


**********


Setelah Luciel pergi dari panti asuhan, dia mempersiapkan peralatan – peralatan bertarungnya. Dia juga sudah membawa sebuah ramuan penyembuh untuk berjaga – jaga nanti. Apapun yang ada dibalik kasus hilangnya anak – anak panti itu, Luciel harus sudah bersiap jika itu adalah seekor monster ataupun seorang Devil Cult. Setelah selesai dengan persiapannya, Luciel lalu berangkat kembali ke panti asuhan ketika sore hari.


Luciel lalu sengaja berjalan mengelilingi daerah sekitaran panti asuhan untuk mencari petunjuk lebih dari misteri ini. Tak lama kemudian, Luciel berada di sebuah turunan jalan sempit di belakang panti dan menemukan sebuah pintu di sebuah sudut gang. Dia mendekati pintu itu lalu Crackk!!! Luciel menginjak sebuah krayon berwarna merah. Luciel lalu melihat leburan krayon yang ada di sepatunya.


“Ini adalah….” Mata Luciel terbuka lebar ketika melihat warna krayon itu.


Dia lalu memandangi pintu tersebut lalu bergegas lari untuk menghubungi Pendeta Bath di panti asuhan.


Setelah mendengar penjelasan Luciel Pendeta Bath lalu bergegas memanggil suster – suster panti asuhan.


“Salah satu dari kalian hubungi lah pasukan patrol dan meminta bantuan untuk kesini,” ujar pendeta Bath.


“Nak Luciel, ayo kita bergegas. Lebih cepat kita kesana, ada kemungkinan kita masih bisa menyelamatkan anak – anak itu.”


Luciel dan Pendeta Bath lalu ke lokasi pintu tersebut. Setelah mereka sampai, Luciel lalu bertanya kepada Pendeta Bath.


“Kurasa pintunya terkunci,” ujar Luciel.


“Mundurlah sedikit Nak Luciel,” perintah Pendeta Bath.


Luciel lalu mundur dan melihat Pendeta Bath sedang menyiapkan kuda – kudanya.


“Tinju Besi : Bentuk kedua, Shockblow!” BAMMM!!!


Pintu itu terbuka dan memperlihatkan sebuah tangga yang menuju ke area bawah tanah.


“Apakah Nak Luciel memiliki sihir cahaya?” tanya Pendeta Bath.


“Ya, tapi manaku tidak akan cukup jika memakainya dengan waktu yang lama. Tapi aku sudah mempersiapkan ini.” Luciel lalu mengeluarkan sebuah benda berbentuk bulat.


“Ini adalah Prototype Artifak yang kubuat. Artifak ini bisa mengeluarkan cahaya yang cukup kurang lebih 3 jam,” jelas Luciel.


“Ah, seperti lampu Homel,” ujar Pendeta Bath.


Mereka lalu menuruni tangga tersebut dan Luciel mulai mengaktifkan Artifak sihirnya dan menempelkannya di pinggangganya.


“Tempat apa ini sebenarnya Pendeta Bath?” tanya Luciel.

__ADS_1


Ekspresi wajah Pendeta Bath kemudian berubah namun, Pendeta Bath tidak menjawab pertanyaan Luciel. Tidak lama kemudian, mereka melihat sebuah pohon berukuran 2 meter. Pada batang pohon tersebut, terlihat 3 orang anak yang sedang terlilit dan tubuhnya terlihat mengering.


Pohon itu lalu menyerang Luciel dan Pendeta Bath dengan batang pohonnya yang mirip seperti tentakel.


“Nak Luciel, berhati – hatilah. Itu bukan monster biasa!” Seru Pendeta Bath.


Batang tentakel pohon tersebut kembali menyerang Luciel. Dia menghindari serangan itu dan menebaskan belatinya memotong batang tentakel pohon tersebut. Akan tetapi, batang tentakel pohon tersebut kembali tumbuh dan terlihat tubuh anak – anak yang ada di genggamannya menjadi lebih kering.


“Nak Luciel! Jangan lukai pohon tersebut, dia hanya akan memulihkan dirinya menggunakan tubuh anak – anak itu!” perintah Pendeta bath.


“Lalu bagaimana kita mengalahkannya!” seru Luciel sambil kembali menghindar dari serangan Monster pohon tersebut.


Pendeta Bath adalah mantan Brawler ketika masih menjadi seorang Hunter 10 tahun yang lalu. Dia kemudian pensiun dan menjadi Acolyte di Kuil Dewi Juliana. Setelah beberapa tahun, dia lulus menjadi seorang pendeta dan di tempatkan untuk mengurus panti asuhan Frohein.


“Kita cari dulu kelemahannya lalu serang menggunakan serangan yang fatal!” seru Pendeta Bath.


Swosshh! Swosshh! Tentakel pohon itu kembali menyerang Luciel dengan lebih cepat. Luciel dapat menghindarinya namun, terdapat luka goresan di tangannya.


‘Bagaimana mengalahkan musuh yang tidak boleh kita sentuh!’ umpat Luciel dalam hatinya.


Luciel lalu memperhatikan gerakan tentakel pohon itu dan menganalisa segala gelagat pohon itu.


“Bughhh!” Serangan tentakel pohon itu mengenai Pendeta Bath yang membuatnya terlempar agak jauh.


“Pendeta! Kau tidak apa – apa!?” tanya Luciel khawatir.


“Ughhhh, aku sudah terlalu tua untuk hal – hal macam ini,” ucap Pendeta Bath sambil memegangi perutnya.


Tentakel – tentakel itu mencoba kembali menyerang Luciel. Swoshh! Swoshh! Luciel kembali dapat menghindari serangan – serangan pohon itu.


‘Jika terus seperti ini, kita akan kehabisan stamina dan kalah’ pikir Luciel.


Luciel kembali memperhatikan, pohon itu terlihat menjaga sebuah daerah tertentu di sebuah tembok di kanan belakang Pohon tersebut.


“Pendeta Bath! Kurasa aku menumakan kelemahannya!” seru Luciel. Swoshh! Swoshh! Tentakel – tentakel itu menyerang kembali Luciel.


“Aghhh!!!”


Luciel kembali menghindari serangan – serangan tersebut namun, salah satu serangan itu mengenai pergelangan tangannya.


Luciel lalu mundur ke tempat Pendeta Bath berada.


“Tembok hitam itu, tepat di belakang samping pohon tersebut,” Luciel menunjuk titik yang dia anggap kelemahan pohon itu.


“Baiklah. Nak Luciel, bisakah kau memberiku waktu selama 15 detik. Aku akan menghancurkannya dengan serangan terkuatku,” ujar pendeta Bath.


“Baiklah.”


Luciel lalu menyimpan kembali belatinya dan mengaktifkan Accelerate di kakinya. Dia lalu melesat kea rah yang berlawanan dari titik lemah yang dia yakini.


Swosshhh! Swosshh! Swosshh! Luciel lalu menghindari tentakel – tentakel yang mencoba menyerangnnya. Luciel berlari akan tetapi, kakinya tertangkap oleh sebuah akar yang tiba – tiba muncul di bawah tanah.


“Sial!”


Dia lalu diangkat dan di lempar dengan kuat ke arah tembok. BAMMM!!


Melihat Luciel yang terlempar, Pendeta Bath yang telah selesai mengumpulkan mana bergegas mengaktifkan tekniknya. Dia lalu melesat ke arah tembok di samping belakang pohon tersebut dengan cepat dan mengucapkan tekniknya.


“Tinju besi : Gerakan terakhir, Death End!” BOMMBBBB!!!


Tembok itu hancur berkeping – keping dan memperlihatkan sebuah monster pohon kecil sebesar kepala manusia.


“Eikkkk!” jerit monster tersebut.


“Disini kau rupanya bersembunyi monster licik! Ku musnahkan kau!” Pendeta Bath lalu mencekik Monster tersebut dan membuat monster itu hancur berkeping – keping.

__ADS_1


Ketika tubuh utamanya mati, pohon besar setinggi 2 meter itu tiba – tiba mulai layu dan melepaskan ketiga anak itu dari genggaman tentakelnya.


__ADS_2