The Devil Tears : Lord of The Night

The Devil Tears : Lord of The Night
Arc 1 Chapter 46 : Kenaikan para Pahlawan


__ADS_3

Hari berganti malam, Festival sedang berada di puncak acara. Orang – orang berkumpul di alun – alun untuk menyaksikan pertunjukan teater tentang kenaikan para pahlawan. Luciel dan Liz sedang duduk di sebuah pinggiran air mancur. Seorang Bisop lalu naik ke panggung teater dan mengumumkan.


“Para hadirin sekalian, inilah saatnya bagi kita untuk menyaksikan petunjukan yang sangat kalian nanti pada Festival hari ini,” ucapnya. “ Kenaikan Para Pahlawan!” Tiba – tiba tirai teater terbuka, dan alunan musik pun mulai terdengar.


Di atas panggung itu terdapat 6 orang pria dan 2 orang wanita yang sedang berlutut di hadapan seorang Wanita. Lalu sebuah narator membacakan sebuah narasi.


700 tahun yang lalu, Raja Iblis menginvasi Benua Asgardia dengan pasukan – pasukannya yang mengerikan. Ras Iblis yang muncul di selatan Benua kemudian mulai menyerang Manusia dan Dwarf yang tinggal disana. Tahun demi tahun berlalu, para Iblis telah menaklukkan separuh benua dan Manusia harus meminta bantuan kepada Ras Elf dalam menahan serangan para Iblis. 30 Tahun sudah para Iblis menguasai separuh Benua dan Manusia mulai berputus asa. Namun semua itu berubah ketika seorang Saint mengorbankan dirinya untuk menjadi sebuah penghubung Dewi Juliana untuk turun ke alam fana. Dewi Juliana lalu memberkati para pahlawan dan memberi mereka masing – masing senjata suci. Ke 8 Pahlawan itu ialah.



Alarich Bavarias, di berikan Perisai Suci Aegis.


Urraca Jimena, di berikan Belati Suci Spaniard


Leonidas, di berikan Pedang Suci Damocles


Siegfried Udonen, di berikan Pedang Suci Balmung


Arthur Celtiga, di berikan Pedang Suci Excalibur


Louis de Lafayette, di berikan Pedang Suci Durandal


Yohanna, di berikan Armor Suci Miracle


Jordan Catanbria, di berikan Tombak Suci Longinus.


Mereka lalu bertarung selama beberapa tahun hingga akhirnya mampu menyegel Raja Iblis Lucifer dan mengakhiri peperangan besar yang terjadi di benua Asgardia.


Luciel dan Liz melihat pertunjukan dan bagaimana para pahlawan mengalahkan satu demi satu bawahan – bawahan Raja Iblis. Orang – orang yang menyaksikan mulai bersorak ketika para pahlawan yang di peragakan di panggung mengalahkan beberapa Iblis – iblis kuat.


“Ya, kalahkan iblis – iblis hina itu!”


“Ayo Pahlawan, kalahkan Raja Iblis!”


“Iblis tidak punya tempat dibenua ini!”


Kegembiraan orang – orang mulai memuncak ketika Pahlawan Yohanna mengeluarkan serangan andalannya kepada Raja Iblis yang membuat Raja Iblis kehilangan kesempatan untuk menang.


“Yeahhhh!”


“Hidup para pahlawan!”


Mereka bersorak gembira dengan kemenangan para Pahlawan terhadap Raji Iblis.


.


.


.

__ADS_1


Di sisi lain, dua orang pria dari atas sebuah bangunan sedang memperhatikan orang – orang yang gembira menyaksikan pertunjukkan di alun – alun.


“Semua sudah selesai?” tanya pria berjubah kepada pria bertopeng.


Pria bertopeng itu lalu mengangguk. Pria itu lalu memejamkan matanya dan berbicara.


“Tuan, kau bisa melakukan sihirnya sekarang.”


Tidak lama kemudian, sebuah sinar lingkaran sihir mulai bermunculan di luar Kota Rhine yang membuat orang – orang kebingungan melihatnya. Lalu mereka melihat sebuah sinar lingkaran sihir di Kuil terbesar kota dan ruang waktu di sekitarnya mulai retak dan menciptakan sebuah gerbang besar yang di dalamnya tidak ada apapun selain kegelapan. Tidak lama kemudian, monster – monster mulai muncul dari gerbang tersebut dan membuat orang – orang yang ada di kota menjadi panik.


“Kita mulai tahap selanjutnya”


.


.


.


Di kediamannya, Duke Lambert mulai marah mendengar laporan banyaknya monster muncul di Kotanya.


“Segera kerahkan semua pasukan dan minta ke Guild agar para Hunter membantu kita dalam bencana ini,” perintahnya.


“Baik Tuan!,” asistennya lalu keluar ruangan meninggalkannya sendiri.


“Ini akan menjadi sangat kacau,” gumamnya.


Tiba – tiba Duke Lambert mendengar suara yang menjawab gumamannya. Lalu muncul lah seorang pria berjubah di ruangannya.


“Kau cukup hebat dapat menerobos keamanan sihir yang ada di kastil ini,” ujar Duke Lambert. Tetap tenang meskipun ada seorang pembunuh yang dapat menyelinap ke kediamannya.


“Itu hanyalah masalah yang sepele bagiku,” pria itu lalu membuka jubahnya dan memperlihatkan wajahnya.


“Kauuu….” Duke Lambert sangat terkejut melihat wajah yang tidak asing baginya.


“Sudah lama kita tidak berjumpa, Duke Lambert sang Matahari Merah,” Pemuda itu memberikannya sebuah senyuman.


.


.


.


Di luar Kota Rhine, Camillus dan beberapa bawahannya sedang menghadang monster – monster yang akan masuk ke Kota Rhine.


“Berapa lama lagi bantuan yang di janjikan akan datang Betrand?” tanya Camillus sambil menebas beberapa monster.


“Mereka sudah dekat Master, 500 ksatria suci akan datang dalam waktu 10 menit,” jawab betrand.


“CAMILLUSSSS!!!!!” Tiba – tiba, mereka mendengar suara kencang memanggil Camillus.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, seorang Vampir mendarat dari udara tepat di hadapan mereka.


“Kau terlihat menyedihkan sekarang Camillus Sang Ksatria Pertama,” ucap Vampir di depannya.


“Kalian mundurlah,” perintah Camillus. “Jika kalian ikut campur dan bertarung melawannya, kalian akan mati dalam sekejap.”


Di hadapannya adalah Kepala Keluarga Vampir Bangsawan Dracul, Vlad ur Dracul. Dialah otak dari serangan besar yang terjadi mala mini.


“ Aku akhirnya dapat membalaskan dendam orang tuaku,” ucap Vlad.


Di dalam Kota, Luciel dan Liz terpisah karena dorongan kerumunan orang – orang yang panik menyelamatkan diri.


“Tolong! Ada monster!”


“Kemana para pasukan patrol!”


“Aghhhhh! Tanganku, tangaku!”


“Mama! Dimana mama!”


Orang – orang berteriak dan minta tolong karena kekacauan yang di sebabkan munculnya monster – monster di dalam Kota. Setelah beberapa saat, muncul lah beberapa Ksatria suci dan pasukan Patrol untuk membantu orang – orang. Namun karena banyaknya monster – monster yang keluar dari gerbang Konjungsi, para Ksatria dan pasukan patrol mulai kewalahan membantu orang – orang. Luciel masih kesulitan untuk keluar dari alun – alun dengan keadaan seperti ini. Luciel lalu melihat beberapa monster yang terbang dan mulai memangsa orang – orang di depannya. Luciel lalu melompat dan mulai berlari dengan menginjaki beberapa pundak orang dibawahnya. Luciel untuk sekarang tidak terlalu peduli apapun di saat kondisinya seperti ini. Dia lalu mulai berhasil keluar dari area alun – alun dan mulai berlari untuk mencari Liz.


.


.


.


Di sisi lain Kota, Rolf sedang berhadapan dengan beberapa pasukan patrol.


“Mati kau! Dasar penghianat umat manusia!” teriak salah satu pasukan patrol menyerang Rolf.


Namun Rolf dapat dengan mudah menghidarinya dan mengalahkan para pasuka patrol yang melawannya.


“Kuharap dia baik – baik saja,” ucap Rolf yang melihat kekacauan yang terjadi di dalam Kota.


“Tidak, dia pasti akan baik – baik saja.”


Namun beberapa saat kemudian, Rolf melihat 3 orang Ksatria Suci sedang datang menghampirinya dan mulai menyerangnya. Rolf melihat wajah ksatria – ksatria itu dan mengenali mereka.


“Jadi, selama ini kau menghilang ternyata karena sibuk menjilati iblis – iblis hina itu?” ucap Wellen. Dia adalah salah satu rekan Rolf yang selalu bersama membunuh iblis ketika dia masih di Ordo Ksatria Suci.


“Aku punya alasanku tersendiri,” ucap Rolf.


“Kau adalah seorang penghianat, Rolf sang Pemburu Putih,” ucap Wellen.


Rolf mendengar julukannya ketika sedang berada di Ordo Ksatria Suci.


__ADS_1


__ADS_2