The Game Master

The Game Master
Makan


__ADS_3

[ Quest berhasil! ]


[ Temui pemberi quest untuk menerima reward ]


Red merasa kecewa. Padahal masih banyak yang ingin ditanyakannya.


Dia bisa melihat ada dua bar poin lagi di lingkup pandangnya, salah satunya berada di bawah bar poin stamina, yang satunya berada di sebelah atas bar poin stamina. Yang berada di sebelah atas menghilang beberapa detik setelah muncul. Sedangkan yang dua lainnya tidak menghilag, termasuk bar poin stamina.


'Bar poin yang berwarna biru muda ini adalah stamina. Sekarang isinya hanya setengah... Tadi sewaktu aku kelelahan bar poin ini berubah merah, dan isinya tinggal sedikit. Kurasa stamina akan pulih sendiri jika aku tidak banyak bergerak. Sedangkan yang berwarna kuning ini... sepertinya adalah bar poin satisfy. Itu tidak terlihat bertambah, tapi juga tidak berkurang dengan cepat. Mereka muncul saat isinya sudah berkurang seperempat. Tadi aku melambat saat stamina tinggal separuh... sepertinya poin statusku dipengaruhi saat stamina berkurang separuh, kurasa ini juga berlaku untuk poin satisfy. Dan yang barusan menghilang itu...'


"Menu status."


[ Red / Lv. 0 (12.6%)


Human / Swordman (Basic)

__ADS_1


Title (0) / Job (0)


Sta(5) Str(5) Int(5) Dex(5) ]


'Hm... begitu ya... Yang tadi itu adalah bar poin exp. Jadi mereka hanya muncul saat diperlukan. Kurasa inilah alasan mengapa bar poin hp dan mp tidak dimunculkan.'


Red lalu mengulurkan tangan kirinya. Dengan perlahan ia mengangkat belati karatan itu.


*slash*


Seperti dugaan Red. Bar poin hp yang ia miliki muncul setelah ia terkena serangan atau saat hp-nya berkurang. Dan tidak ada darah keluar saat celah luka terbentuk di lengan kirinya, hanya ada bintik - bintik cahaya, sama seperti saat ia menusuk pria tadi. Luka itu pun menutup secara perlahan.


Red menyelipkan belatinya di pinggang, lalu ia memeriksa tanah di mana pria tadi berdiri, juga tempat orang yang disiksa tadi. Setelah yakin bahwa mereka memang tidak menjantuhkan apa - apa, Red memutuskan untuk kembali ke desa.


Namun ia berhenti setelah beberapa langkah, "Siapa namanya?" Red baru sadar, setelah bicara panjang lebar, ia tidak tau nama dari pria tadi.

__ADS_1


Tapi ia tak terlalu memusingkannya, "Kalau memang jodoh nanti juga akan bertemu lagi..."


Red berjalan dengan santai, ia bercana untuk memulihkan staminanya. Tapi poin staminanya justru tidak terlihat bertambah. Begitu pula dengan poin satisfy-nya, tidak terlihat mengalami perubahan. Namun Red tau bahwa perlahan tapi pasti, tingkat kepuasan akan berkurang secara perlahan.


"Eat Bread."


Red mengerutkan keningnya. Poin satisfy-nya tidak terlihat bertambah. Ia tidak merasakan perubahan apa pun, juga tidak ada pesan notifikasi yang muncul.


"Makan Roti... Roti Makan, Consume Bread, Eat Roti, Makan Consume... Agrh, Inventory!"


[ Bread(10) / Water(1) ]


Red menekan 'roti' pada menu tersebut menggunakan jari telunjuknya. Terlihat tangan kanannya itu masuk ke dalam layar tersebut, seperti masuk ke dalam dimensi lain. Ia bisa merasakan sesuatu pada ujung - ujung jarinya. Red mencengkram benda tersebut dan menariknya dengan cepat.


Tanpa basa - basi Red langsung memasukannya ke dalam mulut, berniat untuk melahapnya. Tak terduga ia ternyata benar - benar dapat memakan roti itu, 'makan' dalam artian sebenarnya. Hampir saja Red tersedak dibuatnya.

__ADS_1


Tadinya ia mengira roti itu akan menghilang entah ke mana setelah masuk ke dalam mulutnya. Tapi bukan saja roti itu tidak menghilang, malah ia dapat menggigit roti tersebut menjadi potongan kecil, dapat mengunyah dan menelannya. Setelah menenelan roti itu barulah poin satisfy-nya bertambah.


'Rasanya tawar, tapi ini memang rasa dari roti...' Red merasa seperti sudah bertahun - tahun tidak bermain vr game. Padahal teknologi lah yang berkembang dengan sangat cepat.


__ADS_2