The Game Master

The Game Master
NPC


__ADS_3

"Siapa kau?"


Dua orang muncul dari balik pepohonan di sisi jalan tersebut. Bangunan rumah desa itu tidak seberapa jauh dari sana.


Jika dilihat dari situasi dan penampilan, mereka pasti adalah penjaga yang ditugaskan untuk berpatroli di luar desa.


"Aku pemain." Red menjawab singkat.


"Pemain apa? Apa itu namamu? Ha ha ha, sungguh aneh, benar - benar nama yang lucu." Salah satu dari mereka yang berwajah ramah berkata sambil terkekeh geli. Tapi tingkahnya justru terlihat menyebalkan.


Red mengerutkan keningnya.


'Bukankah dia NPC? Apa NPC juga bisa membuat lelucon?' Red menahan kata - katanya dalam hati.


"Kau tidak terlihat seperti pedagang. Mau apa kau di desa kami?" Pria lain yang memiliki ekspresi dingin berkata dengan tenang.


Perjalanan dari bukit tadi menuju desa ini tidak terlalu jauh. Setelah melewati hutan kecil ia menemukan sebuah jalan. Kemudian Red mengikuti jalan tersebut dan sampailah ia di desa ini.


Yang Red herankan adalah perjanannya yang begitu mudah, tiada suatu halangan apapun, misalnya kemunculan monster.


Tak terduga ia justru dipersulit saat tiba di desa. Tapi Red tetap mencoba untuk bersikap ramah.

__ADS_1


"Namaku bukan pemain, namaku Red. Aku adalah petualang."


"Petualang?!" Hampir bersamaan keduanya berkata dengan setengah berteriak. Mereka lalu saling tatap dan kemudian mengangguk mantap.


"Ikuti aku." Wajah si muka ramah kini berubah serius. Ia balik badan lalu meninggalkan rekannya begitu saja.


Red pun mengikutinya.


[ Kau adalah pengunjung pertama Desa Lingka!


Mendapatkan title 'Lingka's Guest' ]


'Jadi nama desa ini adalah Lingka... Ah, bukan informasi seperti ini yang kubutuhkan.'


Setelah agak jauh masuk ke desa, Red berkata, "Kau meninggalkan dia sendiri begitu saja, apa tidak takut jika nanti terjadi apa - apa."


Bahu pria itu nampak tergetar, reflek ia membalikkan badan.


"Apa maksudmu ini?!" Wajahnya terlihat semakin serius.


"Siapa yang tau tentang sesuatu yang belum terjadi, aku ini bukan peramal. Lagi pula jika temanmu mengalami suatu kejadian, lalu apa hubungannya denganku?"

__ADS_1


"Jadi kau memang merencanakan sesuatu!?" Dengan wajah beringas pria itu mendekatinya.


Red tidak bisa tidak menjadi gugup. Ia tidak menduga reaksi yang ia dapatkan akan separah itu. Dengan cepat ia mencoba menjelaskan, "Hey, aku bilang jika, hanya sebatas jika. Apa yang salah dengan itu? Bukankah tadi kau bilang kau akan membawaku ke suatu tempat?" Red coba mengalihkan pembicaraan.


Pria itu mulai ragu. Tapi ia masih menatap Red dengan nanar. "Lebih baik kau tidak berbuat macam - macam." Ia lalu berjalan ke arah yang tadi.


Red kembali mengikutinya.


'Hampir saja aku jadi dadar gulung, benar - benar beresiko. Tapi itu sepadan dengan informasi yang kudapat. Dialog percakapan seperti yang tadi tidak mungkin sudah dipersiapkan sebelumnya. Lagi pula respon mereka dalam percakapan sangatlah akurat, itu terlalu sempurna! Bahkan NPC yang ini mengerti dengan sindiran yang kuucapkan. Ini tidak seperti NPC di game - game yang pernah kumainkan. Jangan - jangan mereka adalah pemain?'


tok tok tok


Suara ketukan pintu menyadarkan Red dari lamunannya.


Ternyata mereka telah sampai.


Pria itu terlihat berada di pekarangan sebuah rumah. Ia berdiri tepat di depan pintu.


Rumah itu terlihat agak mencolok. Memang tidak terlihat mewah, tapi ukurannya agak lebih besar jika dibandingkan dengan rumah - rumah lain di sekitar. Halamannya juga terbilang luas.


'Penghuni rumah ini pasti bukan orang biasa. Setidaknya dia pasti memiliki kedudukan di desa ini.' Red coba menganalisa.

__ADS_1


__ADS_2