
Sebuah titik cahaya mendekat lebih cepat dari yang lainnya. Red pun melambat dan akhirnya berhenti.
Titik cahaya itu terlihat sedikit bergerak naik turun secara konstan. Setelah mengamati lebih cermat dan setelah ia mendengar suara derap kaki kuda, Red akhirnya sadar bahwa titik cahaya itu adalah sebuah obor yang dipegang oleh seorang penunggang kuda.
Namun ternyata yang mendekat adalah dua orang penunggang kuda, salah satunya tidak membawa obor.
Setelah lebih dekat, si pembawa obor mengangkat obornya ke arah Red. Cahaya obor itu memang tidak terlalu menyilaukan, tapi Red tetap menjadi risih karena tingkah mereka ini. Bahkan mereka belum mengatakan satu kata pun.
Setelah yakin akan sesuatu, si pembawa obor mengangkat obornya tinggi - tinggi dan melambai - lambaikannya ke arah kiri dan kanan.
"Siapa kau?" Satu lainnya menanyai Red.
"Aku hanya seorang petualang. Apa aku tidak boleh lewat?"
"Boleh saja." Keduanya menyingkirkan kuda mereka secara perlahan, memberi Red celah untuk lewat.
Red mengerutkan keningnya, namun ia tetap menurut saja. Dan kali ini ia tidak memacu kudanya untuk berlari cepat.
Titik - titik cahaya itu memanglah sekumpulan obor yang lumayan banyak. Tapi ternyata jumlah orang dalam rombongan itu lebih banyak dari jumlah obor yang mereka bawa. Ada obor yang dibawa oleh orang yang berjalan kaki, ada yang dibawa penunggang kuda, ada pula yang disangkutkan di sudut - sudut kereta kuda.
__ADS_1
Red tidak ingin berhenti untuk memberi mereka jalan, karena jalan itu sendiri cukup lebar untuk dibagi menjadi dua jalur. Tapi ia juga tidak berniat untuk melewati mereka begitu saja. Ia melarikan kudanya secara perlahan, agar lebih mudah untuk memperhatikan orang - orang itu.
Mereka pun terlihat tidak begitu peduli saat Red menatap mereka hingga sedemikian rupa, walaupun setiap dari mereka pasti sekali atau dua kali melirik ke arah Red.
"Ayolah, naik ke atas kuda. Aku sudah tidak kelelahan."
"Jadi kau akan menikah dengan gadis yang itu? Benar - benar gadis yang itu?"
"Aku cukup beruntung, orc yang satu itu sangat lemah. Aku berhasil memenggal kepalanya dalam satu tebasan."
"Ahh... Aku sangat merindukan anak dan istriku."
"Kenapa orc - orc itu selalu berhasil mencuri gandum kita? Apa semakin hari mereka semakin pintar?"
"Aku tidak apa - apa, sudah tidak terlalu sakit. Kurasa pendarahannya sudah berhenti."
"Padahal itu adalah busur kesayanganku. Orc sialan itu benar - benar tidak memberiku kesempatan untuk mencabut pedang."
Meski Red buta sekalipun, ia tetap bisa menebak siapa mereka ini. Tapi setelah ia mendengar percakapan orang - orang itu, ia malah merasa pusing.
__ADS_1
'Menikah? Punya anak? Sebenarnya game apa ini?'
Red memang sempat melihat anak - anak di Desa Lingka, tapi ia tidak pernah mengira bahwa mereka adalah 'hasil' dari sebuah pernikahan. Tanpa sadar Red telah meraba bagian bawahnya, tapi tidak ada apapun di sana.
Tidak tahan Red membalikan kudanya untuk menanyakan sesuatu pada orang - orang itu, karena mereka telah terlewat beberapa meter di belakangnya.
Berkata Red dengan setengah berteriak, "Hey! Bagaimana caranya membuat anak?"
Namun Red mendapat reaksi yang tak diduganya. Padahal ia mengira orang - orang itu akan menertawakannya karena menanyakan sesuatu seperti itu.
Beberapa dari penunggang kuda di bagian paling belakang berhenti dan membalikan arah kuda mereka. Mereka menatap Red dengan keheranan, ada juga yang menatap Red dengan tatapan serius.
"Hey, nak.. hati - hati saat berbicara. Apa kau tau apa yang kau ucapkan?"
Red menjadi tambah bingung. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
Orang yang bertanya tadi terlihat tidak puas, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Satu persatu dari mereka berbalik arah dan melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan Red dengan pikirannya sendirian.
"Semoga ini bukan masa depan..."
__ADS_1
Red pun melanjutkan perjalanannya.