The Game Master

The Game Master
Dua Prajurit


__ADS_3

"Perang tahun ini tidak begitu buruk... Para orc hanya berhasil menguasai beberapa desa dan sebuah kota, itu pun hanya dalam waktu beberapa hari."


"Tapi beberapa hari saja sudah cukup untuk mereka."


Setelah menghela nafas, orang yang tadi menyinggung soal perang kini berkata dengan lesu, "Ya. Mereka benar - benar tidak membuang - buang waktu..."


Tadinya Red berniat menuju alun - alun kota, berharap bisa mendapatkan sesuatu di sana. Tapi setelah mendengar percakapan kedua orang itu, Red memutuskan untuk mengikuti mereka.


Pada masing - masing dari pinggang mereka terdapat sebuah pedang. Meskipun tidak memakai armor yang lengkap, Red yakin mereka adalah prajurit, tidak jauh berbeda dengan rombongan prajurit yang tadi dilihatnya.


Setelah berada tepat di belakang mereka, Red turun dari kudanya dan mencoba untuk masuk dalam pembicaraan, "Setidaknya para orc berhasil di pukul mundur."


Sebenarnya kedua prajurit itu sadar bahwa mereka diikuti, tapi mereka tidak menduga bahwa orang yang mengikuti mereka akan mengatakan sesuatu, bahkan sebelum menyapa mereka. Ini membuat keduanya mengira Red adalah orang yang mereka kenal.


Namun setelah melihat wajah dan penampilan Red, dan setelah mereka melihat ekspresi heran di wajah satu sama lain, keduanya kompak mengatakan dua kata, "Siapa kau?"

__ADS_1


Ini sudah ketiga kalinya Red mendengar pertanyaan ini. Tapi entah mengapa ia merasa kali ini terdengar lebih ramah. 'Apa aku sudah mulai terbiasa?'


"Aku Red, aku tidak mengenal kalian. Kudengar kalian baru saja pulang dari peperangan, apa betul?"


"Kau ini orang asing yang aneh... Tapi, yah, memang betul. Kami baru saja pulang dari Perang Tahunan. Aku Taka, dan dia ini Vikov. Dia adalah Centurion!"


"Centurion? Apa itu?"


"Kau tidak tau?? Centurion itu.." "Bagaimana kalau kau ikut dengan kami? Kami berencana minum di bar itu. Mau ikut?" Pria bernama Vikov memotong ucapan temannya lalu menunjuk sebuah bangunan yang dari dalamnya terpancar cahaya yang cukup terang.


Mereka bertiga menuju bar itu bersama - sama. Red menuntun kudanya dengan cara menarik tali kuda itu.


"Kuda yang bagus. Kau pandai memilih kuda."


"Benarkah? Benar - benar kuda bagus atau hanya 'kuda bagus'."

__ADS_1


"Ha ha ha, kalau begitu tidak jadi saja. Kudamu bukan kuda bagus, hanya kuda biasa saja.. ha ha."


Red dapat menilai bahwa Taka ini adalah orang yang humoris.


Saat mereka sudah tiba di depan bar, Red menjadi bingung. Ia tidak tau di mana dia harus menempatkan kudanya.


"Tambatan kuda di sebelah situ." Vikov menunjuk salah satu sudut bar.


Setelah mengikat kudanya, Red segera menyusul Taka dan Vikov yang sudah masuk ke dalam bar lebih dulu.


Di dalam bar ada tiga orang selain Taka dan Vikov, pelayan bar dan dua pengunjung lain. Salah satunya duduk sendirian dengan membelakangi arah pintu. Ia terlihat sedang memandang ke arah luar lewat jendela.


Taka dan Vikov sendiri duduk di meja sebelah dalam. Mereka duduk menghadap ke arah pintu. Taka melambaikan tangannya sesaat setelah Red menyadari keberadaan mereka. Namun tatapan Red sebenarnya terfokus pada orang yang duduk di meja lain tepat di depan mereka. Orang ini juga duduk menghadap ke arah pintu.


Red merasa orang ini agak tidak biasa.

__ADS_1


__ADS_2