
Setelah menghela nafas, Red pun berkata, "Jadi kau memang mendapat belati itu dari orang sepertiku ya.... Apa kau membunuhnya karena tidak mendapat jawaban? Apa kau tetap akan membunuhku setelah aku menjawab pertanyaanmu?"
"Mereka cuman ngomongin tubuh virtual ama permainan. Lu perlu tau, gua ni nggak main - main."
"Kenapa kau selalu berkata dengan serius? Apa itu memang watakmu? Apa kau sedang menahan emosi?"
"Mendingan lu buruan jawab. Gua nggak punya banyak waktu."
"Baiklah, baiklah. Akan kukatakan. Akan aku jelaskan... yang.. sebenarnya." Red birpikir keras, karena ini bisa menjadi kesempatannya untuk lolos dari kematian.
"Begini.... Lupakan apa pun yang telah kau dengar tentang tubuh virtual dan permainan. Kami ini sebenarnya adalah... adalah.... sebuah ras!"
"Nggak pernah ada ras kayak lu pada. Lu nipu gua?"
__ADS_1
"Kami hanya tidak berdarah. Memangnya semua jenis ras pasti memiliki darah?"
"Lu pikir gua nggak tau? Kalian nggak cuman nggak berdarah, tapi bisa juga ngilang gitu aja, bisa sihir aneh, suka ngomong nggak jelas. Nggak ada angin, nggak ada ujan, tiba - tiba nongol ntah dari mana. Tuh bangsawan cuman bilang kalian dateng dari negeri yang jauh, tapi nggak bisa jelasin jauhnya sebelah mana, atau seberapa jauh. Dan yang paling aneh, kalian kalo mati, bisa hidup lagi!"
Red tersenyum kecut. Ia kembali menghela nafas dalam - dalam, "Pasti tidak sedikit usahamu agar dapat mengetahui semua itu. Sebenarnya apa yang ingin kau tau? Aku ini bukan tidak jujur padamu. Hanya saja kau meminta terlalu banyak. Kau ingin mendengarkan penjelasan yang mudah dimengerti, tapi juga ingin tau yang sebenarnya. Kau tidak mudah percaya, juga sangat tertutup. Jika kau ingin bantuan dariku, setidaknya katakan apa tujuanmu."
Kali ini orang itu tidak memberikan reaksi. Tempat itu menjadi hening untuk beberapa saat, hening yang sesekali diiringi suara kuda.
"Kau dengar itu?" "Ya. Suara kuda." Sayup - sayup terdengar suara percakapan dua orang di kejauhan.
Tapi untungnya orang itu tidak berniat untuk tinggal lebih lama.
"Hey.. Setidaknya katakan di mana bangsawan itu."
__ADS_1
Orang itu menghentikan langkahnya. Ia bahkan sempat terdiam sesaat sebelum menjawab, "Namle."
Seperti terbawa angin, setelah mengatakan satu kata ini, orang itu menghilang entah kemana.
"Apa aku beruntung?" Akhirnya Red bisa bernafas lega. Mati saat ini memang bukan sesuatu yang diinginkannya. Sebelum mendapat kepastian, setiadaknya ia bisa berusaha untuk tidak mengambil resiko.
Red menghentikan langkahnya setelah agak jauh menuntun kuda itu.
"Hey!! Aku di sini! Tolong aku!" Red berteriak ke sembarang arah. Ia memang butuh pertolongan, tapi tentu saja bukan untuk melawan atau menangkap si pencuri, melainkan untuk membantunya keluar dari gang yang menyesatkan itu.
Karenanya Red kembali menemukan hal yang merepotkan dalam game ini.
Tadinya ia mengira kompas akan muncul di lingkup pandangnya saat dibutuhkan. Tapi setelah dipikir kembali, 'saat dibutuhkan' yang dimaksud sangatlah relatif. Tidak ada pemicu yang sesuai untuk memancing kompas muncul, layaknya bar hp yang akan muncul saat pemain terluka, atau bar poin stamina yang akan muncul saat kelelahan.
__ADS_1
"Siapa yang mau memainkan game yang apa - apa serba merepotkan begini?"