The Game Master

The Game Master
Tiga Kata


__ADS_3

Red merasa heran. Padahal kedua penjaga kota membicarakan Esquire Eric ini seolah dia adalah orang yang terkenal.


Saat Red ingin bertanya tentang seberapa lama mereka pergi berperang, pelayan bar mendekat ke meja mereka dengan membawa tiga cangkir mug yang terisi penuh.


"Jadi kalian sudah memesan..."


"Memesan? Di bar ini hanya ada bir. Jika kau datang ke sini, maka bir lah yang kau dapat."


"Ya.... Tentu saja...." Red ragu, apakah ia harus meminumnya atau tidak. Ia tidak ingin kehilangan fokus untuk saat ini, jika hanya untuk mengetahui apakah pemain juga bisa mabuk atau tidak.


Namun perhatian Red segera teralihkan. Ia dibuat kaget oleh Taka yang tiba - tiba berkata dengan agak lantang, "Hey, Mark! Jadi itu kau... Wahh, kebiasaanmu ini memang sulit dihilangkan." Ia menyapa seseorang di arah belakang Red.


Ternyata dia adalah orang yang tadi duduk sendirian di dekat jendela.


"Apa kuda di depan itu milik kalian?"


"Itu kudaku. Ada apa?"


"Seseorang membawanya."


"Siapa?!" Red langsung berdiri karena kaget.

__ADS_1


"Orang yang tadi duduk di belakangmu. Dia bukan temanmu?" Sebelum tiga kata terakhir diucapkan Mark, Red sudah sampai di ambang pintu. Orang bertopeng tadi memang sudah tidak ada, kudanya pun sudah mengahilang.


Tadi Red sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki kuda. Ia menduga kudanya tidak dibawa lari, yang artinya si pencuri masih belum jauh.


Saat Red hendak bertanya ke arah mana perginya orang itu, tiba - tiba ia mendengar suara ringkikan kuda. Tanpa basa - basi Red langsung memburu ke arah datangnya suara.


Kota Vallheim ini memang bukan kota kecil. Banyak sekali bangunan di kota ini. Bahkan Red sampai mengira bahwa suara kuda berasal dari dalam salah satu bangunan.


Namun setelah diperhatikan, ternyata ada sebuah celah di antara dua bangunan di hadapannya. Itu adalah sebuah gang.


Dan gang itu pun tidak sederhana. Selain gelap, Red juga menemukan persimpangan di dalam gang ini. Untungnya kuda itu terus mengeluarkan suara, yang seolah mengarahkannya.


Melarikan kuda melewati jalan sempit saja sudah termasuk tidak biasa. Tidak membawa barang curian jauh - jauh pun termasuk aneh. Ditambah si pencuri seolah - olah membiarkan kuda itu terus mengeluarkan suara. Hal ini membuat Red hanya dapat memperkirakan dua kemungkinan.


'Semoga pencuri ini termasuk dalam jenis pencuri bodoh...'


Tak lama Red kemudian menemukan kudanya. Gang itu memang cukup gelap, namun Red yakin tidak ada siapa pun di sana kecuali kudanya.


Red tidak ingin berlama - lama, ia berharap aksi si pencuri berakhir hanya sampai di sini saja.


'Sial! Ini jebakan..'

__ADS_1


Namun harapannya itu segera musnah seketika. Di tubuh kuda itu terdapat luka - luka sayatan. Tidak parah, tapi juga tidak sedikit.


Meski Red belum tau tujuan dari orang ini, tapi yang jelas sekarang ia tau, orang yang mencuri kudanya bukanlah pencuri, apa lagi pencuri bodoh, sama sekali bukan.


*slash*


Tiba - tiba Red merasakan rasa sakit di punggungnya, itu adalah sensasi sayatan benda tajam. Rasa sakit itu memang tidak sampai membuatnya berteriak kesakitan, tapi satu serangan itu berhasil mengurangi hp-nya sampai lebih dari separuh! Padahal Red sangat yakin, tebasan orang itu sangat pelan, dan area serangannya pun kecil.


Belum sempat ia bereaksi, Red kembali merasakan sesuatu di tengkuknya. Tapi kali ini bukan serangan, benda tajam itu hanya menempel di sana. Walau pun hanya menempel, sedikit demi sedikit hp-nya terus berkuarang.


Red tidak tau harus berbuat apa, melawan atau hanya menunggu kematian. Ia sama sekali tidak tau tujuan dari orang ini. Bisa jadi ini bukanlah perampokan.


Tapi setelah ditunggu - tunggu sekian lama, orang ini tak kunjung mengatakan sesuatu. Ini membuat Red semakin kehilangan harapan.


Semakin hp-nya berkurang, pandangannya semakin berkunang - kunang. Ia memutuskan untuk tidak melawan sensasi ini.


Saat hp-nya benar - benar hanya tersisa sedikit, akhirnya orang itu mengatakan sesuatu. Suaranya terdengar dingin dan datar.


Orang itu hanya mengatakan tiga kata. Tapi tiga kata ini saja sudah cukup menjernihkan pikiran Red karena saking kagetnya.


"Elu tu..... apaan?"

__ADS_1


__ADS_2