The Game Master

The Game Master
Eksperimen


__ADS_3

Red sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia memutuskan untuk mengambil resiko.


"Jangan bergerak!!" Red meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dan berteriak sekeras mungkin. Red lalu merasa bahwa kata - katanya ini teramat konyol, orang gila mana mau mendengarkan perintah orang?


Orang itu sempat kaget, namun sangat cepat, ia memasang sikap waspada. Sementara orang yang kesakitan itu kini berguling - guling di tanah.


Red meliriknya dan langsung memalingkan muka. Mungkin jika ia menatapnya satu detik lebih lama, maka ia akan tumpah - tumpah.


'Orang ini bukan cuma gila, orang ini psikopat!' Red refleks mundur dua langkah, lalu mengacungkan belatinya, bersiap untuk pertarungan.


Orang itu menatap Red dengan tatapan aneh, seperti sedang melihat makhluk paling aneh di dunia. Tapi kemudian ia terpikirkan akan sesuatu setelah mengamati setiap tindakan dan penampilan Red.


"Apa kau juga Beta Tester?"

__ADS_1


Lima kata ini terdengar seperti guntur di telinga Red, guntur yang mampu memecahkan setiap masalah yang ia punya. Perlahan tapi pasti, matanya melebar dan senyuman mulai terbentuk di wajahnya.


"Y-Ya. Ya! Ya... Aku Beta Tester. Aku Beta Tester! Ha ha ha, aku Beta Tester!!" Kini malah Red yang bertingkah seperti orang gila. Sementara orang itu erat mengerutkan keningnya.


"Ha ha ha... huft... huft... huh..." Setelah menenangkan diri, Red tersenyum canggung, lalu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Belum pernah ia tertawa selepas itu sebelumnya.


Red lalu sadar bahwa hutan itu menjadi lebih hening.


Ternyata orang malang tadi sudah tidak merintih kesakitan. Tubuhnya diam tak bergerak. Selang beberapa detik, tubuh itu berubah menjadi bintik - bintik cahaya lalu memudar secara perlahan.


"Jadi kau sedang melakukan percobaan?"


Dia hanya mengangguk.

__ADS_1


"Membakar rumah pun termasuk percobaanmu?"


"Kau tau?" Orang itu mulai memberi Red perhatian.


"Sebenarnya penduduk desa itu yang menyuruhku kemari."


"Begitu, ya... Aku memang sengaja membakar rumah - rumah itu."


"Memangnya butuh lebih dari satu rumah untuk mengetahui apakah rumah dapat dibakar atau tidak?"


Pria itu menatap Red sekian lama. Tapi tatapannya juga seperti menerawang. Red tidak tau alasan kenapa orang ini menjadi ragu, meskipun pada akhirnya ia mulai menjelaskan.


"Awalnya memang itu niatku... Tapi kemudian aku melihat ada NPC yang keluar dari rumah yang kubakar. Aku ingin tau apakah NPC dapat terbakar hidup - hidup atau tidak. Tapi, yah... kau tau... sejak insiden rumah terbakar yang pertama mereka menjadi waspada. Penjaga desa yang berkeliaran bertambah, membuatku kesulitan untuk memastikan ada NPC yang mati di dalam rumah. Membunuh penjaga - penjaga itu sekaligus juga bukan hal yang mudah. Jadi butuh beberapa kali percobaan untuk itu."

__ADS_1


"Begitu... Lalu pria tadi..." Red masih merasa ngeri.


"Dalam pelarian terakhirku, aku menemukan ide untuk bereksperimen dengan NPC secara langsung. Aku bertemu dua penjaga. Dengan menyergap mereka aku berhasil membunuh salah satu, tapi yang lain sempat menjerit keras. Aku langsung menyerangnya, tapi sudah terlambat, bantuan mereka datang. Jadi aku memutuskan untuk melarikan diri karena aku mulai kehabisan stamina. Tak terduga salah satunya malah mengikutiku sendirian. Aku berhasil mengalahkannya setelah sedikit perjuangan. Dan... kau telah melihat sendiri apa yang terjadi padanya setelah itu."


__ADS_2