The Game Master

The Game Master
Orang Gila


__ADS_3

'Kepala Desa ini bodoh atau apa? Jika rumah mereka akan dibakar orang, bukankah lebih baik jika mereka tetap berada di luar untuk mengungsi?' Red menahan kata - katanya.


Tak lama mereka telah sampai di pinggiran desa.


Salah satu rumah terlihat dikerumuni orang banyak. Sudut rumah itu nampak hangus terbakar. Ini berarti bahwa orang - orang ini telah berhasil memadamkan api.


Setelah lebih dekat, Red bisa melihat raut wajah mereka. Ada yang berwajah sengit, ada yang berekspresi murung. Nyata kejadian ini benar - benar membuat mereka resah.


"Di mana dia?" Kepala Desa coba mengendalikan situasi.


Tentu saja mereka tau siapa yang dimaksud dengan 'dia' ini. Seorang pria yang berperawakan pendek lalu tampil ke muka, "Dia telah kabur."


"Apa kau melihatnya sendiri? Bagaimana kejadiannya?"


"Aku hanya melihat dia lari ke arah hutan saat aku datang. Aku memilih untuk memadamkan api dari pada mengejarnya. Tak kusangka... Dari arah hutan aku mendengar sebuah teriakan, arah yang sama dengan arah larinya orang itu." Wajahnya terlihat begitu buruk saat mengatakan ini.


"Siapa yang berpatroli di hutan timur?"


"Rugus dan Fuma." Yugos menjawab.


"Jadi mereka..." Kepala Desa melihat sekeliling namun tidak menemukan kedua orang yang dimaksud.

__ADS_1


Pria pendek tadi mengangguk pelan.


"Aku dan Leid tadi berpatroli di hutan sebelah tenggara. Setelah mendengar teriakan, kami bergegas menuju ke sana, tapi kami masih terlambat. Rugus sudah mati dan Fuma sekarat. Orang itu langsung lari begitu melihat kami. Leid mengejarnya dan aku merawat Fuma. Tapi usahaku sia - sia. Luka tusukan di dadanya sangat dalam. A-Aku... tidak bisa berbuat apa pun selain melihatnya mati secara perlahan." Seorang membenarkan kematian Rugus dan Fuma. Wajahnya tidak kalah sedih dengan pria pendek tadi.


"Di mana Leid sekarang?"


Pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Itu bukan salahmu, kau sudah melakukan tindakan yang tepat. Kau juga Iru, kita semua sudah melakukan yang terbaik. Hanya saja orang ini kelewat biadap, benar - benar seorang iblis jahat!" Kepala Desa mencoba untuk menenangkan orang - orangnya, tapi tanpa sadar ia justru memprovokasi mereka.


'Pantas saja Kepala Desa menyuruh warganya bersembunyi di dalam rumah. Ternyata memang tidak aman untuk berkeliaran di luar sini.' Red sadar masalah ini tidak sesederhana yang ia kira.


"Apa orang ini sangat berbahaya?" Red merasa ini adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah ia tanyakan. Membakar rumah dan membunuh orang tentu saja sangat berbahaya. Tapi ia tetap ingin tau reaksi dari orang - orang ini.


"Maksudmu?" Red menjadi heran.


"Orang ini gila!" Yugos menjawab singkat.


"Gila? Apa orang gila juga bisa membunuh dan membakar rumah?"


"Justru karena dia adalah orang gila, maka membunuh dan membakar hanya dianggap permain belaka olehnya."

__ADS_1


"Apa kau yakin dia adalah orang gila?"


"Kau kira siapa lagi yang bisa melakukan semua ini sendirian jika bukan orang gila? Bandit tidak mungkin meninggalkan targetnya begitu saja tanpa mengambil barang - barangnya."


"Orang ini sering terlihat sedang tertawa sendiri." Seorang pria menambahkan.


"Bagaimana jika orang ini punya dendam pada kalian dan dia memang sengaja membuat kalian resah..." Red masih penasaran.


Kepala Desa menggelengkan kepalanya, "Sebelum ini Desa Lingka kami tidak pernah berseteru dengan pihak mana pun." Ia lalu menatap Red dengan penuh harap, "Tadi bukankah kau bilang kau adalah petualang?"


Mendengar ini, orang - orang mulai memperhatikan Red. Beberapa dari mereka baru sadar bahwa ternyata orang yang berdiri di samping Kepala Desa itu adalah orang asing.


"Eh... ya. Kenapa?"


"Kau adalah seorang yang sering bepergian seorang diri, tentu tidak sedikit bahaya yang telah kau hadapi..."


"Sebenarnya aku..." "Aku pernah mendengar bahwa para petualang adalah orang - orang yang ringan tangan." Kepala Desa memotong ucapannya.


Red sadar akan seperti apa percakapan ini berakhir. Dan ia yakin ia tidak akan dapat mengubahnya. Dengan seramah mungkin ia berkata, "Jika ada yang bisa kulakukan untuk kalian penduduk Desa Lingka, maka pasti akan kulakukan sebaik mungkin."


Ucapan yang sebenarnya muluk - muluk ini terdengar lain di telinga mereka. Sorot mata Iru si pria pendek terlihat menjadi penuh harap, begitu pula dengan warga desa yang lain, meskipun sebagian dari mereka masih merasa ragu. Jika mereka yang belasan orang tidak mampu berbuat apa - apa, lalu apa yang bisa Red lakukan seorang diri? Apa petualang memang sehebat itu?

__ADS_1


"Kalau begitu aku punya satu permintaan. Tentu saja kau boleh menolak jika merasa keberatan." Tutur Kepala Desa.


"Aku mendengarkan."


__ADS_2