
"Kau baik - baik saja?"
Red tidak merespon.
"Wah, gawat. Padahal caraku menyampaikannya sudah secara bertahap, seperti apa yang para dokter sarankan. Apa mungkin caraku salah?" Pria itu menjadi panik sendiri.
Dengan perasaan bersalah, ia kembali menanyai Red, "Kau.. tidak apa - apa kan?"
Namun Red masih tidak menjawab. Banyak hal terlintas dalam benaknya. Terutama tentang dua hal, yaitu pekerjaannya, dan tentu saja keluarganya, tepatnya sang ayah, satu - satunya keluarga yang ia miliki.
Red tidak bisa membayangkan apa reaksi ayahnya saat mendengar berita tentang kecelakaannya, ditambah ia mengalami koma setelahnya.
Parahnya sang ayah pasti tidak memiliki kesempatan untuk membesuknya. Mengingat ia sedang dipenjara saat ini.
Entah ayahnya mendapat penjelasan yang tepat atau tidak tentang dirinya. Entah ada atau tidak orang yang menjelaskan tentang perkembangan kesehatannya pada ayahnya. Entah ayahnya tau atau tidak bahwa ia telah mengalami koma hingga saat ini, hingga 7 bulan lamanya.
__ADS_1
Tapi itu pun jika ada seseorang yang memberitahu ayahnya, memberitahu ayahnya tentang kecelakannya. Lalu bagaimana jika tidak ada seorang pun yang memberitahunya? Bagaimana jika ayahnya tidak tau apa pun sama sekali?
Padahal, setiap bulan Red pasti menyempatkan diri untuk menjenguk ayahnya. Jika ayahnya tidak diberi kabar apa pun, maka ia pasti akan mengira Red mengalami masalah dalam melaksanakan pekerjaannya, yaitu sebagai seorang detektif, pekerjaan yang dianggap begitu beresiko untuk dijalani.
Karena rasa khawatir yang berlebihan, bisa jadi ayahnya malah memikirkan hal - hal yang tidak seharusnya. Misalnya merencanakan aksi pelarian hanya untuk memastikan kondisi anaknya.
"Apa... kah.. a.... ku.." Red bahkan sampai tidak mampu menyusun kata - kata yang diucapkannya.
Pria itu pun mencoba untuk menenangkannya, "Tenanglah. Semua baik - baik saja. Tidak ada masalah. Buktinya kau berhasil masuk ke dalam game, dan Dokter Hyun juga mengatakan semua berjalan lancar."
Red memang merasa tubuh virtualnya tidak sealami tubuhnya di dunia nyata, begitu pula dengan pikirannya, tapi bukan berarti menjadi lebih buruk. Setelah semua, Red merasa ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya.
Di saat genting seperti saat ia disudutkan si orang bertopeng, Red merasa tidak terlalu khawatir, meski ia juga merasa akan menjadi gawat jika ia mati. Dan sejak saat Red tersadar di atas bukit, di dekat Desa Lingka, ia juga merasa sangat fokus. Yang padahal, ia biasanya mengalami kondisi seperti ini hanya di saat suasana hatinya sedang bagus, saat sedang gembira. Dan tentu saja, tiba - tiba masuk dalam sebuah game tanpa tau apa - apa bukanlah sesuatu yang akan membuat ia gembira.
Karena menganggap ini bukanlah hal buruk, Red merasa tidak perlu untuk menanyakan atau pun membahasnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah mengabari ayahku?"
"Ayahmu? Ya. Kurasa sudah. Tapi bukan aku yang melakukannya."
"Lalu siapa?"
"Siapa lagi? Tentu saja satu - satunya walimu yang tersisa."
Red kini menatap pria itu dengan begitu keheranan, "Siapa?"
"Apa kau lupa bahwa kau punya kekasih?"
"Siapa yang kau maksud? Aku tidak punya."
Kali ini pria itu yang menjadi tertegun mendengar sangkalan Red, "Kalau begitu... Dia siapa?"
__ADS_1