The Game Master

The Game Master
Bangsawan Penyihir


__ADS_3

Setelah melewati jembatan batu, Red memang menemui sebuah persimpangan. Dan setelah ia belok kiri di persimpangan itu, ia juga menemui sebuah bukit.


Namun apa yang Red lihat dari atas bukit itu tidak seperti apa yang dibayangkannya.


Red melihat banyak siluet bangunan, bahkan ada yang bentuknya sangat aneh. Terlihat pula titik - titik cahaya di sana - sini. Tapi jumlah penerangan di sana sama sekali tidak sebanding dengan luasnya kota itu yang merupakan kota yang cukup besar.


'Pemandangan kota di malam hari ternyata tidak seindah pemandangan alam di siang hari.'


Karena tidak ada alasan untuk berlama lama, dengan segera Red menuruni bukit itu.


Tak lama Red sudah bisa melihat tembok pagar kota yang lumayan tinggi, sekitar 4 meteran.


"Nama."


Saat akan masuk lewat gerbang kota itu, Red dihadang dua orang penjaga dengan cara menyilangkan kedua tombak mereka. Sebenarnya masih ada celah di sebelah kiri atau kanan kedua penjaga itu, tapi tentu saja tidak seperti itu cara kerjanya.


"Red. Petualang."


"Alasan berkunjung."

__ADS_1


"Aku mencari seseorang."


"Aturan umum, aturan kota." Keduanya menarik tombak mereka dan kembali ke sudut gerbang, posisi di mana tadi mereka berdiri.


Red tidak mengerti kalimat yang terakhir itu, tapi yang pasti dia sudah diperbolehkan memasuki kota. Oleh karena itu Red merasa canggung untuk tetap berdiam diri di sana, apalagi untuk bertanya - tanya segala.


Tapi Red merasa tidak punya pilihan. Sangat sedikit sekali orang yang berlalu lalang di jalanan. Ia tidak tau harus memulai dari mana.


"Kenapa kota ini sangat sepi?"


"Tengah malam sudah lewat sedari tadi... Apa yang kau harapkan?" Kembali penjaga yang tadi menanyai Red yang berbicara.


"Apa kau tidak melihat kami sedang bertugas? Carilah orang lain untuk diganggu." Penjaga yang lain menghardik Red dengan serius.


"Sayang sekali... Kalau begitu aku harus mencari orang lain yang mau menerima kudaku..."


Baru beberapa meter kuda Red melangkah, si penjaga yang lebih ramah kembali bertanya, "Kau akan menjual kudamu?"


"Ya. Menjualnya dengan harga yang pantas." Red turun dari kudanya, lalu ia menepuk - nepuk punggung kuda tersebut.

__ADS_1


"Siapa yang kau cari?" Si penjaga berwajah serius pun ikut menjadi tertarik.


"Entah kalian kenal atau tidak... Namanya Esquire Eric."


"Aku tau! Dia adalah seorang penyihir bergelar bangsawan." "Tidak ada bangsawan penyihir di kota ini. Yang mana yang kau maksud?" "Apa kau sudah lupa? Itu... penyihir yang baru saja diangkat menjadi bangsawan." "Oh... yang itu.... Tapi kudengar dia adalah pedagang, bukan penyihir." "Tapi bisa sihir juga kan? Apa lagi sihir yang diperlihatkannya adalah sihir yang belum pernah ada sebelumnya." "Kau kan tidak melihatnya sendiri... Jangan mudah percaya dengan kabar burung." "Lalu apa yang membuatnya layak untuk diangkat menjadi bangsawan? Dia bukan orang terkenal, juga bukan saudagar besar, apalagi keturunan bangsawan, sama sekali tidak. Menurutmu apa kelebihannya jika bukan sihirnya itu?" Si penjaga berwajah serius tidak lagi mendebat temannya itu.


Dari tadi Red hanya mendengarkan percakapan mereka. Meskipun terdengar seperti adu mulut murahan, tapi sebenarnya yang mereka bicarakan adalah informasi yang ia butuhkan.


"Jadi kalian tau di mana dia atau tidak?"


Keduanya menatap satu sama lain. Raut wajah mereka menjelaskan segalanya.


"Tidak ada informasi, tidak ada kuda." Red naik kembali ke atas kudanya, berniat untuk meninggalkan mereka begitu saja.


"Hey, kau sudah mendengar sedikit, setidaknya berikan bagian kami..."


"Mendengar apa? Kalian hanya berbicara satu sama lain. Jika hanya itu yang kalian tau tentangnya, maka aku tau lebih banyak. Lagi pula bagian mana yang kalian inginkan dari kuda ini? Kotorannya? Carilah orang lain untuk diganggu."


Red memasuki kota lebih dalam, meninggalkan kedua penjaga yang kini wajah mereka berubah lucu, ingin marah tapi juga merasa penasaran. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan 'kotoran' yang Red maksud.

__ADS_1


__ADS_2