
Asap terlihat membumbung tinggi dari arah pantai, orang-orang yang tinggal tak jauh dari tempat kejadian berkumpul mencari tahu apak penyebabnya.
Terlihat sepasang muda-mudi dibalut dengan pakaian mewah khas bangsawan sedang beradu serangan, lebih tepatnya serangan secara sepihak karena sang pria terus-menerus menghindar, sedangkan wanitanya semakin gencar memberikan serangan dengan jurus-jurus yang luar biasa. Bola api terus saja keluar dari telapak tangannya, tubuhnya melenting di udara mencari titik lemah lawan yang sangat sukar untuk ditemukan
Pada akhirnya sang wanita menghentikan serangan nya karena kelelahan, sudah terkuras habis seluruh tenaganya karena memberikan serangan tanpa henti kepada pria di hadapannya tanpa memberikan perlawanan balik
"Mengapa kakak tega berbohong kepada ku, aku tidak Sudi melihat wajah penuh dosa sepertimu"
Sang wanita terus aja menghardik pria di hadapannya dengan kata-kata yangan kasar, sedangkan sang pria hanya diam mendengarkan dengan wajah tenang, setenang air dikolam, sama sekali tidak ada niatan untuk dirinya menuntut balas. Rupanya pria itu menunggu gadis dihadapannya selesai berbicara
"Sebelumnya saya meminta maaf kepada tuan tuan dan puan puan semuanya, sudikah kiranya tuan tuan dan puan semuanya menyingkir. Ini adalah masalah pribadi tak layak menjadi tontonan gratis"
Sang pria rupanya tak rela membiarkan puluhan pasang mata menatap kearah mereka meskipun hal tersebut sudah terlambat
.
Keributan kecil tersebut sudah mengundang perhatian banyak orang yang berkerumun di sekitar mereka.
Para penonton hanya dapat menuruti perintah, apalah daya seorang masyarakat kecil berhadapan dengan seorang bangsawan dengan kekuatan yang begitu besar. Mereka semua sadar diri bahwasanya jika sampai pemuda itu marah tentu dapat dengan mudahnya menghancurkan perkampungan mereka, tempat mereka hidup serta mencari nafkah.
Setelah orang-orang di sekitarnya perlahan pergi meninggalkan mereka, tatapan pria itu kembali kepada gadks di hadapannya. Tatapan matanya mulai melunak, perlahan ia mendekati gadis di hadapannya yang di hadiahi dengan plototan mata yang tajam.
"Adikku sekar Cendana rupanya kau telah salah paham terhadap kakakmu ini" upaya pria itu membujuk gadis yang telah yang ia panggil sekar cendana sangatt sulit, gadis keras kepala itu tidak memberikan simpati kepada pria di hadapannya yang merupakan kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Kakak Bara pastilah yang telah menyuruh pelayan istana mengambil seluruh pakaianku, sungguh lancang"
Gadis yang masih usia remaja itu pasti sangat mudah tersulut emosi, hingga melawan kakaknya sendiri hanya karena pakaian
"Kakakmu ini hanya menyuruh pelayan mengambil sebagian pakaian mu untuk disumbangkan, lagi pula adik Sekar memiliki ratusan pakaian diruang penyimpanan, berkurang beberapa pakaian tentu saja tidak berdampak banyak, apa lagi hanya sebagai saja"
"Tetapi mengapa kakak tidak jujur langsung kepadaku, kau malah berdalih bahwa pakaianku hilang dicuri" rupanya sang adik benar benar marah kali ini,
"Kakak telah mengambil barang-barang ku tanpa seijin dariku, bila kejadian ini terulang maka kupastikan wajah mulus nan tampan yang senantiasa dipuja oleh gadis-gadis itu ku gantikan dengan kepala kerbau" sekali cendana mengungkapkan kalimat itu tanpa keraguan sedikitpun di matanya, sedangkan Bara hanya diam tak ingin adik kesayangannya itu kembali murka
"Aku sudah menyiapkan sesuatu sebagai gantinya, tak usah tersulut emosi sampai sedemikian. Kau bahkan ingin membunuh kakakmu sendiri hanya demi pakaian, sungguh durjana''
"Apa yang akan kakak berikan kepadaku sebagai gantinya" sekar cendana sedikit tertarik dengan penawaran yang diberikan oleh Bara
Saat ini kakak beradik itu tengah berada dalam misi perdamaian, mereka diutus oleh Baginda raja ke kerajaan Palapa. Tanpa disangka niat jahil Bara kepada adiknya Minggu lalu itu baru terbongkar pada hari ini, yang membuat sebuah keributan kecil di sebuah desa. Urusan mereka dengan kerajaan tersebut sebenarnya sudah selesai, hanya Sekar Cendana yang selalu menunda nunda kepulangan, karena ia sangat suka berjalan jalan di pantai sambil menikmati terpaan ingin yang meniup rambutnya.
Alhasil Bara putra mahkota kerajaan Agrasia hanya bisa menuruti kemauan adik semata wayang nya
******
Terlihat dua orang tengah berlutut di hadapan sang maharaja Daksa Mukti, raja dari kerajaan Agrasia sekaligus ayahanda dari kedua orang tersebut.
"Bangkitlah wahai putra dan putri ku, sungguh ayahnya mu ini sangat bangga akan keberhasilan tugas pertama kalian sebagai wakil kerajaan" sang raja bangkit dari singgasana dan memeluk putra dan putri nya yang berada dihadapannya, keduanya pun memeluk erat sang ayahanda sebagai pelepas rindu karena sudah lama tak bertemu.
__ADS_1
"Ayah, luangkan waktu nanti malam, aku ingin menceritakan segala sesuatu yang terjadi saat meninggalkan istana. Termasuk tindakan nan keji yang dilakukan oleh kakak Bara kepadaku" gadis itu bergelayut manja di leher ayahandanya, lirikan tajam serta rasa kesal tiada habisnya di tujukan kepada kakaknya yang sedari tadi hanya bisa pasrah.
"Tentu saja putriku, datanglah ke kamar ayahanda dan ibunda. Kami akan dengan senang hati mendengarkan keluh kesahmu"
sepertinya inilah penyebab dari sifat manja putri Sekar Cendana, rasa sayang yang berlebih dari kedua orang tuanya membuatnya terbuai akan kasih sayang. Sedangkan Bara pramastya sang putra mahkota hanya menatap tajam adegan antara ayah dan anak itu jangan malas.
"Sebelumnya, siapakah pria nan malang di belakang kalian" keduanya lalu menatap kearah yang dimaksud oleh sang ayahanda
"Dia adalah pelayan yang diberikan kakak Bara sebagai penebus dosa kepadaku." ucap sang putri enteng, sang ayahanda hanya menganggukkan kepala.
Pemuda yang dimaksud hanya dapat menatap sendu ke arah sang raja, Seakan dia dapat membaca masa depan yang akan datang. Pastilah sang putri akan memperlakukannya seperti mainan, dan dia hanya bisa pasrah tidak bisa melawan. Apalagi melarikan diri, sungguh sampai seribu tahun yang akan datang niatnya hanya bisa menjadi angan.
Sang putri lalu menyeretnya kedalam sebuah ruangan yang cukup besar, didalamnya juga terdapat dapur dan kamar mandi. Pemuda itu begitu terpana, seumur hidupnya dia tiada pernah bermimpi untuk masuk bahkan tinggal di istana. Tetapi rasa kagumnya menghilang saat sang putri menatap tajam ke arahnya.
"Sebagai pelayan pribadiku, tentu kau harus mematuhi setiap perintah ku, dan perintah pertamaku adalah jangan pernah tinggalkan tempat ini, dua Minggu dari sekarang aku akan menemuimu lagi" tanpa menunggu jawaban, sang putri langsung meninggalkan pemuda itu yang masih mematung.
" Setidaknya aku tidak ditaruh di kandang kuda itu sudah cukup"
pemuda itu menarik nafas panjang berusaha mensyukuri apa yang diterimanya, ia menyusuri setiap sudut ruangan yang akan ditinggalinya setidaknya dua Minggu mendatang. Tiba tiba pandangannya tertuju pada sebuah pintu di sudut ruangan, karna begitu penasaran ia memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Saat pintunya sedikit terbuka aroma lavender langsung menyeruak kedalam kamar pemuda itu, perlahan lahan ia dapat melihat seluruh isi ruangan.
Terdapat tempat tidur yang sangat besar, lemari pakaian yang juga besar serta pemandangan yang sangat indah disajikan tempat itu. Separuh dinding ruangan adalah kaca, sehingga pegunungan nan hijau dapat terlihat dengan jelas. Tiba tiba mata pemuda itu tertuju pada lukisan yang sangat besar, nampak seorang gadis terlihat sangat anggun dengan busana warna putih serta background pantai di belakangnya. Rambutnya seakan melambai di tiup angin, bibir merah muda serta mata birunya membuat gadis itu terlihat begitu sempurna.
"Astaga!"
__ADS_1
---------------------------