
Damar biru membulatkan matanya saat melihat sebuah bangunan megah didepannya, rumah itu bahkan seperti kediaman pejabat atupun bangsawan.
Rayandra yang berada di sebelah Damar Biru juga bereaksi serupa, rumah itu bahkan hampir sama dengan rumah yang dulu ia tinggali, sangat besar dan mewah.
Tera yang melihat reaksi keduanya hanya tersenyum kecil. Gadis itu melangkahkan kakinya kedalam rumah itu setelah melewati gerbang yang dijaga oleh dua orang pengawal
"Sudah lama kau tidak berkunjung"
Seorang pria paruh baya menyambut mereka didepan dengan hangat, ia mengajak mereka bertiga untuk masuk kedalam rumahnya.
Damar Biru tidak henti hentinya mengangumi rumah itu, ia baru teringat sesuatu dan wajahnya langsung berubah pucat
'guru bisa membunuhku saat tau aku membeli rumah ini dengan uangnya'
Damar biru tidak bisa berkata kata, ia sudah terlanjur berada disini. Ia tidak menyangka Tera akan membawanya kerumah semegah ini. Saat memikirkan harganya Damar Biru merasa nyawanya akan segera melayang saat gurunya bangun
"Paman, bukankah kau pernah menawarkan rumah ini untuk dijual kepadaku?"
"Apakah sekarang kau berminat untuk membelinya?"
Pria paruh baya itu terkejut saat Tera menanyakan niatnya untuk menjual rumah ini, ia memang berniat menjualnya tetapi tidak ada orang yang menurutnya cocok untuk menempati rumah itu
Rumah yang sudah berdiri belasan tahun ini menyimpan banyak sekali kenangan, sehingga pria paruh baya itu tidak ingin memberikannya kepada orang sembarangan
"Aku tidak menyangka kau berminat untuk membelinya"
"Bukan aku yang akan membeli rumah ini, tetapi dia"
__ADS_1
Tera menunjuk Damar Biru yang berada di sebelahnya, Pemuda itu langsung salah tingkah tidak tau harus berkata apa.
Damar Biru menyadari ia telah bertanya kepada orang yang salah,
"Kau ingin membeli rumah ini? Kau terlihat masih begitu muda. Aku tidak menyangka kau akan membeli rumah, biasanya anak muda sepertimu lebih suka berpetualang"
"Aku memang berniat membeli rumah, tetapi aku tidak menyangka Tera akan membawaku kesini"
Rayandra menatap Damar Biru tidak percaya, ia tidak mengira pemuda disebelahnya begitu kaya sampai mampu membeli sebuah rumah.
Bahkan dirinya saja waktu masih berada dirumahnya tidak diizinkan membawa uang dalam jumlah banyak dan membeli sesuatu sesukanya, tidak seperti pria disebelahnya yang dapat membeli apapun yang dia inginkan
"Apakah kau sudah menikah? Aku mengira kau membeli rumah ini untuk ditinggali bersama keluargamu?"
Damar biru tersenyum masam, ia bahkan tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Sedangkan raut wajah tera merubah masam setelah pria itu berkata demikian
"Maaf tuan, aku bum memikirkan masalah pernikahan untuk sekarang. Aku ingin membeli rumah untuk ditinggali oleh temanku"
Damar Biru tersenyum kearah Rayandra, Tera langsung tersedak nafasnya sendiri saat tau Damar Biru akan membeli rumah bukan untuk dirinya, tetapi untuk orang lain
"Apa maksudmu kau sudah membantuku begitu banyak, aku tidak dapat menerimanya."
"Jika kau menolak bantuanku, apa yang akan kau lakukan seterusnya? Kau akan tinggal dijalanan? Diam, dan jangan membantah"
Pandu tersenyum kecil melihat tingkah kedua pemuda itu, seumur hidupnya ia tidak pernah melihat seseorang begitu peduli dengan orang lain. Ia lebih sering melihat orang saling membunuh untuk memperebutkan sesuatu dari pada memberikan sesuatu
"Paman, jika kau setuju bolehkah aku membeli rumah ini?"
__ADS_1
Pandu terlihat tengah berfikir, Tera berharap pria baruh baya itu akan melepaskan rumahnya untuk Damar Biru, meskipun rumah itu tidak akan ia tempati tetapi Tera masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan pemuda itu saat berkunjung menemui temannya
"Baiklah"
Tera bernafas lega saat mendengar hal itu, sedangkan Damar Biru mengumpat dalam hati berharap sebaliknya. Jika pria itu menolak setidaknya ia akan membeli rumah yang lebih kecil dari ini
"Paman ingin membuka dengan harga berapa?"
"100 juta"
Damar biru merasa petir menyambar tepat diatas kepalanya, bahkan uang sebanyak itu dapat membangun sebuah sekte
Rayandra yang mendengar harga rumah itu langsung menarik tangan Damar Biru untuk pergi dari tempat dari sana, bahkan tangannya sampai bergetar saat mendengar harganya
"Paman apakah kau tidak bisa mengurangi harganya?, aku hanya tau rumah ini yang dijual di kota ini"
Tera khawatir Damar Biru akan mencari rumah di kota lain dan tidak akan pernah lagi bertemu dengannya setelah mendengar harga rumah ini, pandu yang melihat kekhawatiran diwajah gadis itu tersenyum lembut
"Baiklah untukmu aku berikan 90 juta beserta isinya, jika kau setuju aku akan meninggalkan tempat ini Minggu depan"
"Baiklah setuju!"
Tera menjawab cepat bahkan mendahului Damar Biru yang ingin menolak rumah ini, ia menangis tanpa suara saat gadis itu menyetujui begitu saja
"Baiklah"
Setelah kembali ke hotel tempatnya menginap, Damar Biru memberikan uang untuk pembayaran rumahnya kepada Tera. Gadis itu berkata bahwa ia akan mengunjungi rumah itu lagi kerena akan ada yang ia bicarakan dengan pandu
__ADS_1
Damar biru tersenyum tipis jika mengingat apa yang dilakukan gurunya jika mengetahui hal ini, sudah hampir setengah bulan semenjak gurunya tertidur, tidak ada tanda tanda dirinya akan bangun dalam waktu dekat
Siapa yang menyangka Damar Biru merindukan sosok pria tua itu yang suka mengomeli dan menyusahkannya