The Last Prince

The Last Prince
#31


__ADS_3

udara pagi yang menyegarkan menyeruak masuk melalui jendela yang baru saja terbuka, cahaya pagi menyambar wajah sang gadis yang tengah tersenyum ceria.


gadis itu berlari kecil menghampiri seorang pria yang tengah berlatih di sebuah halaman yang lumayan luas, tempat itu begitu sunyi dan sepi. tidak ada tetangga atupun orang yang berlalu lalang, suasana yang cukup mendukung untuk berlatih kultifasi


pemuda itu menggerakkan tangannya seketika tanah yang ada dihadapannya terbelah dan muncul puluhan tombak runcing yang terbuat dari tanah muncul dari sela sela tanah yang terbelah, pemuda itu mengendalikan tombak itu sesuai dengan keinginannya dan mengarahkannya kearah sebuah pohon besar yang tidak jauh darinya, seketika puluhan tombak itu menancap dan menghancurkan batang pohon itu hingga berkeping keping


"kakak jurusmu hebat sekali"


"aku baru menguasai bagian pertama, jadi belum bisa dikatakan hebat"


Sekar Cendana berlari kearah dapur rumahnya untuk mengambilkan Bara segelas air, pria itu menerimanya dengan senang hati.


saat ini mereka tengah menempati sebuah rumah kecil yang berada di tengah hutan, rumah itu adalah milik seorang kakek tua yang bekerja sebagai seorang pemburu.


Dalam perjalanannya menuju kota selanjutnya, Sekar cendana dan Bara menemukan seorang pria tua yang tengah dikepung oleh sekawanan serigala, karena merasa berhutang Budi kerena telah ditolong akhirnya pria itu menawarkan mereka untuk beristirahat di kediamannya. siapa yang menyangka bahwa kedua putra putri raja itu akan menikmati waktu mereka disana.


"Kakek sudah pulang" seorang pria tua datang dengan membawa seekor rusa, pria itu tersenyum hangat kepada Sekar Cendana


"malam ini kita akan makan daging rusa, bukankan kau sangat menyukainya"


Sekar Cendana merasa kehangatan di hatinya, pria tua itu begitu perhatian kepada nya semenjak tinggal disini. Sekar Cendana menganggapnya seperti seorang kakek yang baik hati


"kakek man, terimakasih banyak atas perhatiannya selama ini. aku dan kakak besok akan melanjutkan perjalanan ke kota"

__ADS_1


setelah mendengar kalimat itu raut wajah kakek man berubah sendu, seumur hidupnya ia selalu sendirian. saat ia menemukan kedua orang itu rasa sepi yang selalu hinggap dihatinya perlahan terisi, ada rasa tidak rela saat Sekar Cendana dan bara akan meninggalkannya.


"tidak papa, mari kita nikmati malam ini"


saat mereka akan masuk kedalam rumah, langit tiba tiba menjadi gelap dan petir menggelegar. sebuah kilatan cahaya seperti akar menjalar di langit yang segekap malam.


bukan hanya ditempat itu saja terjadi fenomena itu, tetapi diseluruh penjuru negri mengalami kejadian yang sama yang menarik perhatian seluruh orang.


banyak warga yang menggapai kejadian langka itu adalah dewa yang tengah marah, ataupun akan ada musibah buruk. tetapi tidak bagi kultifator, kejadian itu membuat mereka semua gembira karena menandakan akan munculnya senjata ilahi kuno ke dunia ini.


"seluruh orang pasti tengah menyiapkan diri untuk mengambil senjata pusaka itu, aku berharap senjata itu tidak jatuh ketangan orang yang salah"


kakek man menghela nafas kasar, sudah hampir seratus tahun semenjak senjata pusaka ilahi terakhir muncul. dan setiap kehadirannya pasti akan membawa malapetaka, orang orang akan saling membunuh hanya demi mendapatkan senjata ilahi itu.


"aku juga berharap demikian"


****


dilain tempat seluruh sekte bahkan anggota kerajaan atau bangsawan tengah mempersiapkan pasukan mereka untuk perburuan senjata ilahi. meskipun langit masih gelap dan petir masih menyambar dengan bertubi tubi tidak ada yang akan menghalangi mereka. kondisi seperti ini akan bertahan selama sehari penuh sebelum kembali normal seperti sebelumnya


siapa yang tidak tergiur dengan senjata ilahi, siapapun yang mendapatkannya akan menguasai dunia. bahkan seratus tahun yang lalu muncul sebuah kapak yang bahkan bisa membelah gunung seperti membelah tahu.


tetapi pemilik dari senjata sebelumnya tiba tiba menghilang secara misterius dengan membawa senjata itu, begitu pula dengan orang orang sebelumnya. mereka semua yang mendapatkan senjata ilahi tidak ada yang tersisa satupun seperti lenyap ditelan bumi

__ADS_1


"apakah kau tau apa yang terjadi?"


Rayandra menatap langit berubah gelap seperti malam melalui jendela, petir bergemuruh tanpa henti membuatnya sedikit ketakutan. tetapi empat orang yang duduk dihadapannya sama sekali tidak menghiraukan ucapannya, mereka sibuk dengan urusan masing masing.


Rayandra menarik nafas panjang dan duduk di meja makan bersama empat orang dengan wajah tanpa ekspresi, mereka makan tanpa memikirkan kondisi diluar yang begitu menyeramkan


"mengapa kau tidak makan? dari pada kau hanya diam seperti itu lebih baik kau temani putrimu. ia pasti ketakutan"


setelah mendengar ucapan Damar Biru Rayandra seperti teringat akan sesuatu, ia lalu berlari menuju ke kamar untuk menggendong putrinya yang tengah menangis.


"mengapa temanmu itu begitu bodoh, bahkan putrinyapun ia tidak ingat"


vajra berbicara sinis setelah Rayandra menghilang dari pandangannya, ketiga pria itu seakan tidak perduli dan melanjutkan kegiatan makan mereka tanpa merasa terganggu. vajra yang merasa tidak di hiraukan wajahnya berubah buruk.


"besok kita akan berburu harta Karun" ucapan Bima membuat tatapan ketiganya beralih kepadanya


"apa kau ingin bertarung dengan seluruh sekte dan pasukan bangsawan dari seluruh negri? bahkan jumlah mereka semua yang menginginkan senjata itu lebih banyak dari pada pasukan perang kerajaan"


vajra segera menolak mentah mentah ucapan Bima, pria itu memang suka sekali mencari masalah. dari dulu ia memiliki sebuah kebiasaan aneh dan mengerikan, ia akan merasakan sesuatu yang tidak nyaman jika sudah lama tidak membunuh orang, bahkan ia cenderung menikmatinya


kejadia waktu didesa tempat tinggal Rayandra, vajra sempat berfikiran bahwa Bima sudah sembuh dari penyakitnya anehnya, tetapi sepertinya ia salah


"baiklah, besok kita akan berburu harta Karun"

__ADS_1


Damar biru berfikir mungkin ini akan menjadi petualangan yang menyenangkan, bahkan Cakra pun menyanggupinya. vajra hanya bisa menutupi kekesalannya dengan pergi meninggalkan tiga pria menyebalkan yang tengah menatap jahil kearahnya.


__ADS_2