
Semua orang yang ada disana menghentikan pertarungan mereka, Damar Biru dapat melihat dengan jelas seorang pemuda yang sudah terluka parah ditarik paksa oleh dua orang asing.
Damar biru membulatkan matanya saat menyadari pemuda itu adalah Rayandra, seluruh wajahnya lebam dan darah mengalir dari sudut bibirnya.
Damar biru baru menyadari bahwa Rayandra berkata ada lima orang kultifator yang tinggal di desa ini, tetapi hanya ada 3 orang saja yang Damar Biru temui. Siapa yang menyangka rencana mereka sudah gagal sejak awal
Rayandra menatap Damar Biru dengan pandangan putus asa, pemuda itu sudah tertangkap sejak awal ia memasuki rumah itu.
Ternyata kakaknya sudah menyadari keberadaan mereka sejak Damar Biru dan Rayandra bersembunyi didekat jendela dan menguping pembicaraan nya.
Saat Rayandra masuk ia langsung dipukuli habis habisan, tetapi kedua orang yang memukulinya menganggapnya seperti mainan dan tidak segera mengambil nyawanya.
Khandra yang melihat adiknya sekarat langsung tertawa keras membuat Damar Biru berfikir bahwa pria itu sudah gila.
"Bagaimana? Kau masih mau melanjutkan pertarungan dan melihat kepala temanmu ini di penggal?"
Damar Biru mengepalkan tangannya erat, ia berusaha menahan diri untuk tidak berlari kearah khandra dan memenggal kepalanya dengan tangannya sendiri
"Kenapa? Kau kakakku tetapi ingin membunuhku?"
Rayandra bicara dengan suara yang sangat pelan tetapi dapat didengar oleh mereka semua karena mereka adalah kultifator, khandra mendekati Rayandra yang tengah berlutut.
Khandra menarik rambut Rayandra sehingga pria itu dapat menatap matanya yang tersirat kebencian yang mendalam
"Kau bertanya kenapa? Aku adalah anak yang berasal dari istri sah ayah tetapi ia lebih memperhatikanmu yang seorang anak dari selir rendahan. Aku selalu mendapatkan juara pertama dalam hal apapun tetapi ia tidak mengucapkan apapun kepadaku"
Khandara menghantamkan kepala Rayandra ketanah, rasa marah, sedih serta kecewa yang mendalam terpancar jelas dimatanya.
Tidak ada rasa kasihan saat saudaranya memuntahkan darah segar, khandra hanya menatap sinis kearah Rayandra
"Sejak awal aku hanya diam, sampai kau kabur dari rumah dan menikahi seorang gadis desa, seluruh keluarga menyuruh ayah untuk memberimu
hukum mati karena telah mempermalukan keluarga.
Tetapi siapa yang menyangka, ayah membelamu mati matian dan mengeluarkanmu dari keluarga sehingga kau terbebas dari hukuman mati"
Rayandra yang sudah hampir kehilangan kesadarannya hanya bisa diam mendengarkan, ia tidak menyangka ayahnya akan berbuat begitu banyak untuknya.
Damar Biru merasa begitu tidak berguna saat menyaksikan Rayandra yang dalam kondisi terluka masih menjadi sasaran kemarahan dari khandra
"Jadi, aku akan melakukan apa yang tidak ayah lakukan"
__ADS_1
Khandra tersenyum tipis dan mengeluarkan pedangnya untuk memenggal kepala Rayandra
"Apa kalian akan diam saja melihat semua ini?"
Damar biru berteriak dengan keras membuat khandra menaikkan sebelah alisnya, pemuda itu menganggap bahwa Damar Biru hanya ingin mengalihkan perhatiannya agar tidak memenggal kepala Rayandra
Siapa yang akan menyangka tiga orang berpakaian serba hitam dengan topeng yang terlihat sangat mencolok datang dari kegelapan.
Semua orang yang ada disana terkejut bahkan sampai mundur beberapa langkah setelah mengetahui tingkat praktik dari tiga orang itu, khandra bahkan sampai menjatuhkan pedangnya dan gemetar ketakutan.
Siapa yang akan menyangka mereka akan bertemu tiga yang berada pada tingkat semesta sekaligus, biasanya orang yang berada pada tingkat ini adalah ketua atau tetua Sekte besar
"Baru saja aku melihat pertunjukan yang sangat bagus, tetapi belum sampai akhir kau sudah memanggil kami"
Vajra berucap dengan nada kecewa, ia mendekati khandra yang bahkan tidak bisa menggerakkan satu jarinya karena tekanan yang diberikan oleh gadis itu.
Damar biru yang melihat kondisinya sudah dibawah kendali langsung mendekati Rayandra dan memberikannya beberapa pil, kondisi Rayandra sudah mulai membaik dan kesadarannya mulai kembali, Damar Biru memberikannya beberapa pil lagi untuk nyembuhkan seluruh luka luarnya dan mengembalikan energi pemuda itu.
"Mengapa kau bisa kalah dari orang ini?"
Vajra menatap Damar Biru sinis sebelum berjongkok dan mencengkram wajah khandra yang gemetar ketakutan, gadis itu tersenyum sinis dari balik topengnya
Damar biru hanya bisa terdiam, jika saja khandra tidak mengancamnya dengan Rayandra, mungkin saja Damar Biru dapat memenangkan pertarungan
Bima dan Cakra hanya terdiam, sama sekali tidak menunjukan minat mereka terhadap masalah ini,
Terlebih lagi sudah ada vajra yang sepertinya sangat antusias.
Terkadang fikiran gadis itu tidak dapat ditebak oleh akal manusia, mereka berdua sering menyebutnya ajaib
Rayandra yang kondisinya sudah hampir pulih sepenuhnya akibat pil dari Damar Biru berjalan mendekati kakaknya
"Aku tidak tau jika kau sangat membenciku sampai seperti ini, tetapi sekarang aku tidak akan pernah kembali lagi kerumah dan kau dapat mendapatkan perhatian ayah sepenuhnya. Tetapi sebelum itu katakan, dimana istriku"
Rayandra ingin berbicara tetapi ia bahkan tidak dapat menggerakkan bibirnya, vajra yang menyadari hal itu langsung menghilangkan aura membunuhnya
"Aku tidak tau dimana istrimu, aku hanya membayar kelima orang itu untuk membuat masalah disini. Tanya saja kepada Mereka"
Lima orang yang di maksud oleh khandra langsung mengumpat dalam hati, jika mereka tau masalahnya akan menjadi seperti ini tentu saja mereka akan menolak.
Terlebih lagi ketiga orang yang diantara mereka sudah terluka cukup parah akibat pedang dari Damar Biru.
__ADS_1
"Dimana istriku"
Rayandra menghampiri kelima orang itu yang tengah berdiri berdekatan, Mereka berlima tidak ada yang mau bicara sampai vajra mengeluarkan kembali aura membunuhnya
"Istrimu sudah mati, ia bunuh diri saat kami menyuruhnya untuk melayani kami"
Wajah Rayandra merah padam, kakinya mendadak lemas bahkan tidak bisa hanya untuk menopang tubuhnya.
Semuanya sia sia, perjuangannya hari ini sia sia karna istrinya sudah tiada. Damar biru yang melihat hal itu langsung menghampiri Rayandra
"Apa yang akan kau lakukan dengan mereka?"
Damar biru berniat menghabisi mereka semua untuk membalas kan dendam Rayandra, tetapi pemuda itu nampaknya tidak peduli
" aku ingin segera kembali ke penginapan, bahkan jika mereka semua mati istriku tidak akan hidup lagi"
Damar biru yang mendengar hal itu tidak bisa berkata apa-apa, ia menuruti pemuda itu dan berjalan kembali ke penginapan.
Setelah Damar Biru dan Rayandra menghilang di kegelapan, vajra menatap semua orang dihadapan satu persatu
"Rasanya sia sia jika sudah sampai sini dan tidak melakukan apapun"
Bima dan Cakra memutar kedua mata mereka dan meninggalkan gadis itu, semua orang yang ada disana gemetar ketakutan.
Vajra bahkan lebih mengerikan dari pada malaikat maut di mata mereka, karena aura membunuh yang dikeluarkannya, tidak ada orang yang dapat bergerak
Gadis itu menghampiri seseorang yang paling dekat dengannya, ia tersenyum kecil sebelum menjentikkan jarinya ke dahi pria itu.
Yang terjadi selanjutnya tidak dapat dibayangkan, orang yang ada di hadapan Vajra langsung meledak menjadi serpihan kecil.
Semua orang yang ada disana dibasahi oleh darah yang berceceran kecuali gadis itu yang pakaiannya masih bersih tidak ada bekas darah, beberapa saat kemudian ia melakukan hal yang sama sampai tidak ada lagi orang yang tersisa kecuali khandra.
Vajra bahkan beberapa kali tertawa kecil, tawa nya yang begitu lembut terdengar seperti terompet kematian di telinga semua orang
Khandra bahkan tidak sanggup untuk membuka matanya karena adegan yang mengerikan itu.
"Jika warga desa melihat semua mayat ini, mereka tidak akan nafsu makan sampai beberapa bulan"
Vajra menarik nafas kasar dan mengayunkan tangannya, seketika semua mayat dan darah yang berceceran menghilang seketika
"Aku akan berbaik hati dan meninggalkan mu disini, jika kau masih melakukan hal yang jahat lagi hukumannya akan lebih parah, paham"
__ADS_1
Khandra hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat sebelum gadis itu berubah pikiran