The Last Prince

The Last Prince
#8


__ADS_3

"Nona sudah datang" seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan  menghampiri Sekar Cendana, senyuman wanita itu terlihat sangat cerah meskipun kondisi tubuhnya tidak jauh berbeda dari murni, tetapi yang sedikit menarik adalah ia memiliki sebuah aura seperti seorang pemimpin.


"Namaku lembayung, aku adalah kepala desa di desa awan kabut. Aku sangat berterima kasih karena kebaikan Nona Sekar dan tuan damar yang telah membuat warga desa bisa kembali tersenyum ceria"


Lembayung berkali kali mengucapkan terimakasih  kepada Sekar Cendana dan Damar Biru, ia sampai menitikkan air mata.


Sekar Cendana hanya bisa tersenyum pahit, ia tidak melakukan kontribusi apapun tetapi kepala desa itu terlihat sangat berterimakasih kepadanya.


Sekar cendana begitu tersentuh, karna hal kecil seperti ini saja mereka sangat bersyukur. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Damar Biru yang masih menatap kepala desa di hadapannya.


Sekar Cendana menarik pakaian damar biru untuk menjauh dari kerumunan warga desa, mereka semua selalu memberikan senyuman ramah saat mereka berdua melewatinya.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku, bagaimana mungkin kau dapat merburu binatang siluman sebanyak itu dalam waktu dua jam"


"Mengapa kau sangat cerewet, biarkan itu menjadi sebuah rahasia"


Tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari Sekar Cendana, Damar Biru bergegas meninggalkannya menuju sekumpulan anak anak yang tengah menikmati daging panggang dengan sangat lahap.


Mereka nampak terlihat begitu antusias saat seorang pria menaruh setumpuk daging dihadapan mereka, meskipun begitu mereka membaginya dengan adil tanpa ada yang berusaha untuk berebut agar mendapatkan jatah lebih banyak.


Damar biru tersenyum bangga kepada mereka, ia teringat akan kehidupannya di desa tempat tinggalnya. Dulu setiap satu bulan sekali desa itu selalu mengadakan acara makan bersama, mereka membawa berbagai macam bahan makanan dari rumah masing masing lalu bergotong royong untuk memasaknya. Setelah itu makanan itu dibagi rata kepada seluruh warga desa.


Tetapi ia tidak akan pernah merasakan pengalaman itu lagi seumur hidupnya, sebuah kenangan yang muncul di ingatannya membuat damar biru tersenyum pahit.


"Tuan apakah kau mau mencobanya"


seorang anak laki laki berusia sekitar 5 tahun menghampiri Damar Biru, ia menawarkan sepotong daging yang berada ditangannya kepada damar biru.


"Aku sudah makan Sangat banyak tadi, kau makan saja daging itu. Jika aku makan terlalu banyak maka tubuhku akan gemuk nanti"


Damar biru tersenyun geli lalu mengelus puncak kepala anak itu, sebenarnya ia belum makan tetapi ia tidak merasa lapar sama sekali.


Tiba tiba anak itu menarik tangan damar biru kearah teman temannya.

__ADS_1


"Hey kalian, apakah kalian sudah mengucapkan terimakasih. Tuan ini telah memberikan kita banyak daging, apakah kalian tidak akan melakukan sesuatu?"


Mereka semua terlihat berfikir keras, tiba tiba semua anak anak itu pergi berpencar, beberapa saat kemudian Meraka semua kembali dengan membawa sebuah bungkusan di tangan mereka.


"Tuan kami semua tidak punya uang, kami hanya memiliki ini"


Semua anak anak itu menumpuk barang yang mereka bawa dihadapan Damar Biru, sekarang ia melihat bahwa anak anak itu membawa buah buahan segar untuk diberikan kepadanya. Mereka semua menatap damar biru dengan wajah polosnya, mereka ingin memberikan sesuatu lebih dari ini tetapi sekarang mereka tidak memiliki apapun.


"Kalian semua tidak perlu memberikanku apapun, sebaiknya kalian ambil kembali buah buahan ini dan berikan kepada orang tua kalian."


Damar biru merasa tersentuh, anak anak itu ternyata pergi untuk mencarikan buah buahan segar untuk diberikan kepadanya. Meskipun begitu damar biru tau bahwa desa ini sangatlah kekurangan akan makanan, ia tidak ingin menerima apapun dari desa ini. Ia akan berusaha agar warga desa tidak lagi kekurangan


Anak anak dihadapannya hanya diam ditempat, tidak ada satupun dari mereka yang bergerak untuk mengambil kembali buah-buahan yang sudah mereka berikan.


"Begini saja, aku tidak mungkin menghabiskan semuanya sendirian. Jadi sebaiknya kita makan bersama sama"


Anak anak dihadapanya saling pandang lalu mengangguk setuju, mereka semua duduk melingkari buah buahan yang yang tadinya akan mereka berikan kepada damar biru, beberapa anak mengambil daging yang tadi sudah mereka bagi rata.


"Siapa namamu?" Damar biru bertanya kepada seorang anak yang tadi menariknya kesini.


Akhirnya mereka semua mengucapkan nama masing masing meskipun damar biru tidak bertanya, ia hanya mendengarkan semua nama anak anak didesain ini yang sangat unik.


Tiba tiba warga desa sangat heboh saat seorang pria memberikan sebuah informasi kepada kepala desa, ia memberitahu bahwa saat ia pergi mencari buah buahan di hutan ia tidak menemukan satupun hewan siluman. Meraka semua seakan lenyap dalam semalam, saat semua orang bersorak bahagia karena tidak ada lagi ancaman di desa mereka setelah bertahun tahun, kepala desa justru merasa begitu janggal.


Lembayung lalu menatap kearah damar biru dengan tatapan tidak percaya, ia baru teringat bahwa damar birulah yang memberikan begitu banyak daging kepada warga desa.  Daging itu pastilah daging binatang siluman yang sudah ia bunuh, lalu pandangan wanita itu kepada Damar Biru berubah.


Lembayung menyadari bahwa Damar Biru tidaklah sesederhana yang ia lihat, ia pastilah seorang kultifator yang tengah berpetualang. Sedangkan wanita dengan gaun biru yang datang bersamanya  kemungkinan besar juga merupakan seorang kultifator.


Disisi lain Sekar cendana yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum masam, niat awalnya untuk membantu warga desa ternyata telah didahului oleh Damar Biru. Meskipun ia merasa sedikit aneh bagaimana mungkin pemuda itu membunuh begitu banyak binatang siluman sendirian dalam waktu semalam.


hujan turun dengan sangat deras malam ini, membuat suhu dingin terasa begitu menusuk kulit. dua orang pria tengah duduk bersama tanpa ada yang membuka percakapan terlebih dahulu, keduanya sama sama asik dengan fikirannya masing masing.


suara hujan begitu mendominasi di tempat itu, suara petir sesekali terdengar membuat suasana sedikit mencekam.

__ADS_1


"saatnya kau berlatih"


"tapi guru, aku bisa mati kedinginan atau tersambar petir jika berlatih disaat seperti ini."


"jangan membantah, turuti saja perintahku"


Kedua orang itu adalah panglima langit dan Damar Biru, sejak damar biru naik ke tingkat praktik langit gurunya dapat keluar dari sumber energi kehidupannya sedikit lebih lama dari sebelumnya. meskipun begitu damar biru justru tidak terlalu senang, jika gurunya berada di luar ia akan dipaksa berlatih dengan tidak manusiawi seperti saat ini.


Disaat damar biru menolak perintahnya, pria itu akan berhenti bicara kepadanya dalam waktu yang lumayan lama. tentu saja hal itu sangat merugikan Damar Biru karena ia tidak akan belajar jurus jurus baru tanpa bimbingan gurunya. selain pemarah, pria itu juga mudah tersinggung dan sangat suka memerintah.


"guru aku ingin bertanya, mengapa seluruh hewan siluman di hutan ini menghilang seketika? bukankan aku hanya menghabisi sebagian kecil saja?"


" saat kau akan kembali ke desa, aku mengeluarkan seluruh aura membunuh yang aku miliki untuk membuat mereka semua pergi. jika kau ingin menghabisi mereka semua tidaklah cukup waktu satu bulan meskipun kau bergabung dengan Sekar cendana sekalipun"


akhirnya rasa penasaran damar biru terjawab, segera pergi dari kamarnya takut jika gurunya itu akan tersinggung, panglima langit segera masuk kembali kedalam sumber kehidupan Damar Biru.


damar biru menuju ke hutan agar tidak ada yang melihat, ia menggigil kedinginan karna suhu disini sangat rendah serta pakaiannya yang basah kuyup.


"sekarang kita mulai, pertama seperti biasa alirkan Enerji kehidupan keseluruhan tubuh. buatlah perisai agar hujan tidak bisa menyentuhmu"


beberapa saat kemudian cahaya berwarna biru menyelimuti tubuh Damar biru, ia tidak lagi merasakan rintikan air hujan yang jatuh ke tubuhnya.


perlahan Damar biru membuka matanya dan tersenyum masam, jika gurunya menyuruh hal ini sejak awal maka tubuhnya tidak akan basah kuyup seperti ini


"sekarang fokuslah, alirkan energi kehidupan dalam jumlah besar ke tanganmu lalu arahkan kepohon besar yang ada di hadapanmu. buatlah energi itu menjadi seperti, kau boleh pulang jika sudah berhasil menumbangkan nya"


damar biru menarik nafas panjang, ia melakukan seperti yang gurunya perintahkan. sudah puluhan kali ia menebas pohon itu dengan kekuatan elemen angin miliknya, tetapi tidak ada perubahan yang berarti.


Damar Biru melakukan hal itu terus menerus hingga pagi tiba, tenaganya sudah benar benar habis tetapi ia baru bisa memotong separuh dari pohon itu. kakinya lemas seolah olah ia dapat tumbang kapan saja, ia lalu membaringkan tubuhnya di tanah yang basah sambil berusaha mengumpulkan kembali energinya


"guru, kenapa pohon itu keras sekali?"


"pohon itu adalah pohon biasa, aku hanya mengalirkan sedikit energi agar pohon itu tidak langsung terbelah olehmu"

__ADS_1


jawaban ringan gurunya membuat damar biru ingin meledak seketika, mengalirkan sedikit energi? yang benar saja. gurunya itu berada pada tingkat dewa, sedikit energi menurutnya mungkin sama dengan seluruh energi yang dimiliki orang yang berada pada tingkat angkasa.


Damar mesasa ingin merobek mulut gurunya dan mencincangnya menjadi dadu, pantas saja pohon itu sekeras batu. ternyata gurunya adalah orang dibalik semua ini, tiba tiba damar biru merasakan kehadiran beberapa orang yang bergerak ke arah desa ini


__ADS_2